Top Ad 970x90

Friday, October 2, 2015

Adalah Ja'far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah

by
Adalah Ja'far bin Abi Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah
Ja’far Bin Abi Thalib merupakan satu diantara lima sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kemiripan wajah dengan Rasulullah. Namun diantara kelimanya Ja’far tercatat paling mirip dengan Rasulullah. Hingga diriwayatkan, jika dilihat dari belakang, sulit membedakan antara Ja’far dan Rasulullah. Tidak hanya tampilan fisik, karakter Ja’far juga mirip dengan Rasulullah.

Di riwayatkan dari Muhammad bin Usamah bin Zaib bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ja’far, "Bentuk wajahmu serupa dengan wajahku, dan akhlakmu serupa dengan akhlakku karena kamu berasal dariku dan merupakan keturunanku."

Karena kemiripan akhlak dan karakternya inilah Ja’far bin Abi thalib mudah menerima Islam saat diterangkan dengan sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Ia tercatat menjadi orang ke-31 yang memeluk Islam.


Bagaimanakah perjalanan seorang Ja'far bin Abi Thalib dan apa sajakah pengaruh beliau dalam agama Islam?

Ja’far yang adalah sepupu Rasulullah ini langsung menyatakan keislamannya begitu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT. Putra Abu Thalib ini kemudian menyampaikan keislamannya kepada Asma bin Umais. Ja’far pun lalu mengajak istrinya untuk kemudian masuk Islam. Ia begitu yakin bahwa mengikuti ajaran Islam akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat.

Kelembutan serta kecerdasan seorang Ja'far bin Abi Thalib berhasil mengantarkan istrinya Asma bin Umais ke jalan yang hidayah, hingga nanti disepanjang jalan hidupnya, keduanya bersama-sama mengarungi pahit manis sebagai seorang muslim yang bertakwa.

Meski kebahagiaan Islam telah menyelimuti hatinya, namun kebahagian kakak Ali Bin Abi Thalib ini belum utuh. Sebab sang ayah yang sangat dicintainya, Abu Thalib enggan mengikuti kebenaran yang dibawa keponakannya, Muhammad. Padahal Ia selalu dibarisan terdepan membela Rasulullah dari kedengkian kaum Quraisy. Hanya doalah yang bisa dipanjatkan Ja’far bin Abi Thalib agar ayah mau membuka hatinya menerima hidayah Islam.

Maka ketika Islam semakin menyebar di Kota Mekah kaum Quraisy semakin marah dan tidak terima. Mereka bersekongkol membuat banyak cara untuk menjatuhkan Islam serta melemahkan iman kaum Muslimin. Maka ketika Quraisy tidak bisa menghalangi dakwah Rasulullah lantaran mendapatkan pembelaan dari keluarga besarnya, mereka pun mulai melampiaskan amarah dengan menyiksa kaum miskin dan lemah.

Tapi siksaan demi siksaan yang diterima kaum muslimin justru membuat iman mereka semakin kokoh dan kebal. Demikia kejam siksaan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, hingga keinginan melawan semakin besar, termasuk Ja’far Bin Abi Thalib. Ia begitu kesal dengan perlakuan kaumnya tapi Ia begitu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin untuk melawan dan hanya meminta agar bersabar.


Ja'far Memimpin Hijrah ke Habasyah

Disaat kekejaman kaum Quraisy memuncak Rasulullah SAW meminta agar kaum muslimin hijrah ke negeri Habasyah, negeri yang dipimpin Raja Najashi, seorang Raja Nasrani yang adil dan tidak pernah berbuat dzalim.

Rasulullah memilih Ja'far Bin Abi Thalib memimpin kaum muslimin hijrah menyelamatkan akidahnya ke negeri Habasyah. Rasulullah SAW begitu mengenal Ja'far seperti mengenal dirinya sendiri. Ja'far diplih karena memiliki kecerdasan, keberanian sekaligus ketenangan semuanya itu semakin didukung karena Ia memiliki kemiripan dengan Rasulullah. Sehingga menjadi pelipur lara bagi kaum muslimin bila jauh dari nabi mereka.

Benar saja, di negeri Habasyah muslimin bisa hidup nyaman tanpa harus terganggu saat beribadah. Namun kabar hijrahnya 100 kaum muslimin ke negeri Habasyah membuat kaum musrik Quraisy makin tidak suka. Mereka tidak tenang, pengikut
Rasulullah beribadah dengan nyaman disana. Mereka kemudian berencana untuk memulangkan kaum muslimin ke Mekkah. Mereka mengutus Amar Bin Ash, pemuda Quraisy yang dikenal paling piawai berdiplomasi dan dekat dengan Raja Najashi

Sambil membawa hadiah dari kaum Quraisy untuk dipersembahkan kepada Raja Habasyah, Amr Bin Ash begitu yakin raja akan mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Di hadapan Raja Najashi yang beragama Nasrani, Amr Bin Ash mulai bersilat lidah. Amar membujuk raja bahwa agama Islam yang dianut oleh penduduk Mekah yang hijrah ke Habasyah berbeda dengan Nasrani, bahkan agama yang dibawa Muhammad ini dituduh memandang buruk terhadap agama Nasrani.

Raja Habasyah yang begitu kokoh imannya pada Nasrani sangat marah. Namun Ia tidak langsung mengusir kaum muslimin. Di sinilah kebenaran hadist Nabi tentang keadilan Raja Najashi terbukti. Raja Nasrani yang shaleh ini tidak mau bertindak sebelum mendengar langsung dari kaum Muslimin yang tinggal di negerinya.

Lalu Ja’far maju menjelaskan tentang Islam mewakili umat Islam dan mengapa Ia datang ke negeri Habasyah. Dengan tutur kata yang amat baik serta jujur apa adanya pernyataan Ja’far justru mengundang simpati raja.


Bahkan Ja’far menjelaskan tentang ajaran Islam, tentang Maryam dan Al Masih yang dituturkan Al-Qur’an. Mendengar itu Raja Najashi bergetar hatinya tidak kuasa menahan haru. Apa yang disampaikan Ja’far dan ajaran Nasrani yang Ia yakini berasal dari satu sumber yang sama. Maka saat itu pula, Najashi menjamin keamanan kaum Muslimin di Habasyah.

Menurut beberapa sumber, Raja Najashi memeluk Islam, namun tetap merahasiakannya kepada rakyatnya. Tidak hanya itu, murid-murid Ja’far di Habsyah kemudian menyebarkan ajaran tauhid disana hingga Islam mulai tersebar di negeri Habasyah.

Di negeri hijrah pertamanya itu, Asma, istri Ja’far melahirkan putra pertama mereka dan diberi nama Abdullah. Sebuah nama yang menujukan keislaman seseorang sebagai hamba yang hanya mengabdi kepada Allah. Kelahiran putra Ja’far disambut bahagia oleh Najashi. Raja memberinya hadiah, sang raja pun menamainya dengan nama yang serupa dengan putra Ja’far.


Ja'far di Medan Pertempuran Melawan Tentara Romawi

Selama tujuh tahun di negeri Habasyah, Ja’far dan kaum muslimin begitu merindukan Rasulullah. Sebuah kabar datang membuat hati Ja’far hancur, Abu Thalib, sang ayah yang amat dicintainya wafat dalam keadaan tidak beriman.

Di lain pihak, kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Haibar, Jafar Bin Abi Thalib meninggalkan Habasyah menuju Madinah. Kedatangannya begitu membahagiakan Rasulullah, hingga Nabi sendiri tidak menyadari kebahagiaan yang dirasakannya apakah karena kemenangannya dalam perang Haibar, atau karena kedatangan Ja’far.

Belum begitu lama Ja’far tinggal di Madinah pada awal tahun 8 Hijriyah, Rasulullah menyiapkan pasukan tentara untuk memerangi tentara Romawi di Mut’ah. Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima.


Rasulullah bersabda, "Kalau Zaid terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia terbunuh, maka yang menggantikannya ialah Abdullah bin Rawahah. Dan jika Abdullah terbunuh, maka biarlah kaum muslimin memilih bagi mereka sendiri." 

Kemudian Rasulullah memberikan bendera berwarna putih kepada Zaid bin Hartisah.

Berangkatlah pasukan ini. Ketika telah sampai di daerah Mu’tah
sebuah kota dekat Syam daerah Yordania, mereka mendapati pasukan Romawi telah siap dengan jumlah sebanyak 200 ribu tentara yang terlatih. Diperkuat dengan 1000 milisi Nasrani dari kabilah-kabilah Arab. Jumlah sebegitu besar tidak pernah ditemui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sementara tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Zait Bin Haritsah hanya berkekuatan 3000 tentara.

Begitu kedua pasukan yang tidak seimbang ini bertemu dan pertempuran dahsyat pun terjadi. Panglima Muslimin, Zaid Bin Haritsah gugur dalam pertempuran sebagai syuhada, melihat Zaid jatuh tersungkur, Ja’far kemudian bergegas melompat dan mengambil alih bendera Rasulullah dari tangan Zaid. 


Lalu diacungkan dengan tinggi-tinggi dan kini pimpinan beralih kepadanya. Ja’far menyusup ke dalam barisan musuh seraya mengayunkan pedang ditengah musuh yang mengepungnya. Dia menyerang musuh yang datang dari kanan dan kiri dengan sekuat tenaga sambil melantunkan syair:

"Wahai… alangkah dekatnya surga
Yang sangat lezat dan dingin minumannya
Romawi yang telah dekat kehancurannya
Wajib bagiku menghancurkannya 

apabila menemuinya..."
 

Hingga suatu ketika sebuah tebasan pedang mengenai tangan kanannya, maka tangan kirinya langsung mengambil bendera dari tangan kanannya yang tertebas pedang, tangan kirinya putus pula terkena sabetan pedang musuh. Tapi Ia tidak gentar dan putus asa, dipeluknya bendera Rasulullah dengan kedua lengannya dengan terus menerjang musuh hingga akhirnya tubuh Ja’far ditebas musuh hingga gugur sebagai syuhada di pertempuran Mut’ah itu.

Rasulullah sangat sedih mendengar kabar gugurnya Jafar, dan pergi ke rumah Ja’far di dapatinya Asma, istri Ja’far yang sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya, memandikan dan memakaikan baju bersih kepada anak-anaknya. Asma sendiri menuturkan kedatangan Rasulullah.

"Ketika Rasulullah mengujungi kami, terlihat wajah Rasulullah diselubungi kabut sedih, hatiku cemas tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk, beliau memberi salam dan menanyakan anak-anak kami.”

Asma kemudian memanggil mereka semua, dan disuruhnya menemuii Rasulullah. Anak-anak Ja’far kemudian melompat kegirangan mengetahui kedatangan Beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman dengan Rasulullah. Rasulullah langsung memeluk erat anak-anak Ja’far sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata Rasulullah berlinang membasahi pipi mereka.

jumrahonline

Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Mekkah

by
Sejarah Dakwah Muhammad Periode Mekkah
Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekkah

Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Kebodohan masyarakat Arab waktu itu, terdapat dalam bidang agama, moral dan hukum. (Baca: Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah)


Dalam keagamaan, umumnya masyarakat Arab kala itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama Tauhid, yang telah diajarkan oleh para Rasul terdahulu, seperti Ibrahim AS. Mereka umumnya beragama Watsani atau agama menyembah berhala, berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah yang jumlahnya mencapai 300 lebih. Diantara berhala-berhala yang termashur adalah; Hubal, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manat.
       
Selain itu ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in serta menyembah matahari, bulan, dan jin yang diperbuat oleh sebagian masyarakat diluar kota Mekkah, dalam bidang moral, masyarakat Arab Jahiliyah telah menempuh cara-cara yang sesat seperti :

- Bila terjadi peperangan antar kabilah, maka kabilah yang kalah perang akan dijadikan budak oleh kabilah yang menang perang.
- Menempatkan perempuan pada kedudukan rendah. Dalam masyarakat Arab Jahiliyah perempuan tidak berhak mewarisi harta peninggalan suaminya, ayahnya, atau anggota keluarga yang lain. Bahkan seorang wanita  (istri) boleh diwarisi oleh anak tirinya atau anggota keluarga lain dari suaminya yang telah mati.
- Memiliki kebiasaan buruk, yakni berjudi dan minum-minumman keras. Kejahiliyahan mereka dalam bidang hukum antara lain anggapan mereka bahwa judi, bermabuk-mabukkan, berzina, mencuri, merampok dan membunuh, bukan perbuatan yang salah.

Namun tidak semua perilaku masyarakat Arab Jahiliyah itu buruk, mereka memiliki keberanian dan kepahlawanan suka menghormati tamu, murah hati dan mempunyai harga diri, juga dalam bidang perdagangan ada sebagian  masyarakat Arab Jahiliyah yang sudah memiliki kemajuan, misalnya, para pedagang dari kabilah Quraisy.


Berdagang pada musim panas ke negeri Syam (sekarang Suriah, Libanon, Palestina dan Yordania) dan pada musim dingin ke Yaman (lihat Q;S Quraisy, 106: 1-4). Mereka berdagang bulu domba, unta, kulit binatang dan tali.

Pengangkatan Muhammad sebagai Rasul

Allah Ta'ala yang pengasih lagi penyayang tidak membiarkan umat manusia, khususnya masyarakat Arab (saat itu) berada dalam kebodohan sepanjang zaman. Lalu Dia mengutus seorang nabi dan rasul-Nya yang terakhir yakni Muhammad. Pengangakatan Muhammad sebagai Rasul, terjadi pada 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala Muhammad sedang bertahanus di Gua Hira. Saat itu Muhammad berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Makkah dan berada di lerengnya (kira-kira berjarak 20 m dari puncaknya).

Pengangkatan Muhammad sebagai Rasulullah ditandai dengan turunnya malaikat Jibril pada 17 Ramadhan 610 M, untuk menyampaikan wahyu yang pertama yakni Al-Qur’an pertama, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an (Nuzulul Qur'an)

Setibanya di rumah, Muhammad menceritakan kepada istrinya, Khadijah, peristiwa yang dialaminya. Sebenarnya Khadijah mempercayai segala apa yang diceritakan suaminya, tetapi ia ingin mengetahui bagaimana pendapat Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya terhadap peristiwa yang dialami suaminya itu. Waraqah adalah seorang pemikir yang telah berusia lanjut beragama Nasrani, yang telah menyalin kitab injil dari bahasaIbrani kedalam bahasa Arab.

Setelah Waraqah bin Naufal mengetahui semua peristiwa yang dialami oleh Muhammad, ia berkata, "Itu adalah Namus (Jibril) yang pernah datang kepada Isa AS. Alangkah baiknya kalau aku masih muda dan masih hidup sewaktu kamu diusir oleh kaummu, "Muhammad berkata. “Apakah kaumku akan mengusirku? Jawab Waraqah, "Ya, tidak seorangpun datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa (ajaran Islam), yang tidak dimusuhi, jika sekiranya aku masih hidup pada masa itu, tentu aku akan menolongmu dengan sekuat tenagaku." (H.R. Ahmad, Al-Qur’an Bukhari dan Muslim).

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Mekkah


Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekkah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan akhlaq jahiliyah, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan Muhammad dan ajaran Islam yang disampaikannya, untuk diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat Arab telah mengamalkan seluruh ajaran Islam dengan niat ikhlas karena Allah SWT tentu akan memperoleh keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Strategi dakwah Rasulullah dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:

1. Dakwah secara sembunyi-sembunyi selama 3-4 tahun. Cara ini ditempuh oleh Rasulullah karena yakin bahwa masyarakat Arab Jahiliyah masih sangat kuat mempertahankan kepercayaan dan tradisi warisan leluhur mereka, sehingga mereka bersedia berperang dan rela mati dalam mempertahankannya.


Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, pusat dakwah Rasulullah difokuskan di rumah Arqam bin Abi Arqam.Orang orang yang mula mula masuk Islam pada periode Makkah ini dikenal dengan istilah as-Sabiqunal Awwalun.

2. Dakwah secara terang-terangan

Dakwah terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an surah 26: 214-216 (coba kamu cari dan pelajari).

Tahap-tahap dakwah Rasulullah secara terang-terangan ini dilakukan dengan beberapa cara antara lain sebagai berikut:
 

a. Mengundang kaum kerabat keturunan dari bani Hasyim untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak mereka agar masuk Islam. Tapi karena cahaya Hidayah Allah SWT waktu itu belum menyinari hari mereka, mereka belum menerima Islam sebagai agama mereka. Namun ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sebenarnya sudah masuk Islam, tapi merahasiakan keislamannya, pada waktu itu dengan tegas menyatakan keislamannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Jahiliyah’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

b. Rasulullah mengumpulkan penduduk kota Makkah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Syafa, yang letaknya tidak jauh dari Ka’bah.

Rasulullah memberikan peringatan kepada semua yang hadir agar segera meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala dan hanya menyembah atau menghambakan dirinya kepada Allah SWT, Yang Maha Esa, pencipta dan pemelihara alam semesta. Rasulullah juga  menegaskan, jika peringatan yang disampaikannya itu dilaksanakan tentu akan meraih ridha Illahi bahagia di dunia dan akhirat. Tetapi apabila peringatan itu diabaikan tentu akan mendapat murka Allah Ta'ala, sengsara di dunia dan akhirat.

Menanggapi dakwah Rasulullah tersebut diantara yang hadir ada kelompok yang menolak disertai teriakan dan ejekan. Ada kelompok yang diam saja lalu pulang. Bahkan Abu Lahab, bukan hanya mengejek, tetapi berteriak-teriak bahwa Muhammad orang gila, seraya ia berkata "Celakalah engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?" sebagai balasan terhadap kutukan Abu Lahab itu turunlah ayat Al-Qur’an yakni berisi kutukan Allah SWT terhadap Abu Lahab, 111: 1-5.

 
Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dua orang yang kuat dari kalangan kaum Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman nabi SAW), dan Umar bin Khatab, Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian, sedang Umar bin Khatab (581-644 M), tidak lama setelah sebagian kaum Muslimin berhijrah ke Habsyah atau Ethiopia pada tahun 615M.

c. Rasulullah menyampaikan seruan dakwahnya kepada penduduk di luar kota Mekkah, sejarah mencatat bahwa penduduk di luar Mekkah yang masuk Islam antara lain:
 

- Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar, yang bertempat tinggal disebelah barat laut Mekah atau tidak jauh dari laut Merah, menyatakan diri dihadapan Rasulullah SAW masuk Islam. Keislamannya itu kemudian diikuti oleh kaumnya.

- Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus yang bertempat tinggal di wilayah barat kota Mekah, menyatakan diri masuk Islam dihadapan Rasulullah SAW, keislamannya itu diikuti oleh bapak, istri, keluarganya serta kaumnya.


- Dakwah Rasulullah terhadap penduduk Yatsrip (Madinah) yang datang ke Mekkah untuk berziarah nampak berhasil. Berkat hidayah Allah SWT, para penduduk Yatsrip, secara bergelombang telah masuk Islam dihadapan Rasulullah. 


Gelombang pertama tahun 620 M telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang kedua 621 M, sebanyak 13 orang dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak lagi, yakni 73 orang diantaranya 2 orang perempuan.
 
Pada gelombang ketiga ini telah datang ke Mekkah untuk berziarah dan menemui Rasulullah, penduduk berasal dari Yatsrip. Waktu itu ikut pula berziarah ke Mekkah, orang-orang Yatsrip yang belum masuk Islam. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah, yang kemudian, menyatakan diri masuk Islam dihadapan Rasulullah.

Pertemuan umat Yatsrip dengan Rasulullah ini, terjadi pada tahun ke 13 dari kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah, isi Bai’atul aqabah tersebut merupakan peryataan umat Islam Yatsrip bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah, walaupun untuk itu mereka harus mengorbankan tenaga, harta, bahkan jiwa, selain itu mereka meminta kepada Rasulullah dan para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrip.

Setelah terjadi peristiwa Bai’atul Aqabah itu, kemudian Rasulullah menyuruh para sahabatnya yakni orang-orang Islam yang bertempat tinggal di Mekkah, untuk segera berhijrah ke Yatsrip. Para sahabat Rasulullah melaksanakan suruhan Rasulullah tersebut. Mereka berhijrah ke Yatsrip secara diam-diam dan sedikit demi sedikit, sehingga dalam waktu dua bulan umat Islam Mekkah telah berhijrah ke Yatsrip.

Sedangkan
Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, dan Ali bin Abu Thalib masih tetap tinggal di Mekkah, menunggu perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Setelah datang perintah dari Allah SWT kemudian Rasulullah berhijrah bersama Bakar Ash-Shiddiq ra meninggalkan kota Mekkah tempat kelahirannya menuju Yatsrip. 

Peristiwa hijrah Rasulullah SAW ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 1 hijrah (622M)

Sedangkan Ali bin Abu Thalib, tidak ikut berhijrah bersama Rasulullah, karena ia ditugaskan oleh Rasulullah untuk mengembalikan barang-barang orang lain yang dititipkan kepadanya, setelah perintah Rasulullah itu dilaksanakan kemudian Ali bin Abu Thalib berhijrah menyusul Rasulullah ke Yatsrip.

Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW


Kaum Quraisy menolak dakwah Rasulullah SAW, setelah berdakwah itu dilakukan secara terang-terangan, yakni semjak tahun ke-4 kenabian, Prof.Dr.A Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah, yakni:

a. Rasulullah mengajarkan tentang adanya persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mulia tidaknya seseorang tergantung ketakwaannya kepada Allah SWT. Orang miskin yang bertkawa, dihadapan Allah SWT lebih mulia dari pada orang kaya yang durhaka (lihat Q.S Al-Hujurat, 49:13).
Kaum kafir Quraisy terutama para bangsawan sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak ini, mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat, mereka ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.

b. Islam mengajarkan adanya kehidupan sesudah mati, yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat. Manusia yang ketika di dunianya bertakwa, maka di alam kuburnya akan memperoleh kenikmatandan di alam akhiratnya akan masuk surga. Sedangkan manusia yang ketika didunianya durhaka dan banyak berbuat dosa, maka di alam kuburnya akan di siksa, dan di alam akhiratnya akan masuk neraka.


Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tersebut, karena mareka merasa ngeri dengan siksaan kubur dan azab neraka.

c. Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka, mereka berkata "cukuplah bagi kami apa yang telah kami terima dari nenek moyang kami” (Q.S Al-Mai’dah, 5: 104).

d. Islam melarang menyembah berhala, memperjual belikan berhala-berhala, dan melarang penduduk Mekah dan luar Mekah berziarah memuja berhala, padahal itu semua mendatangkan keuntungan ekonomi terhadap kaum kafir Quraisy. Oleh karena itulah mereka menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah.


Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah bermacam-macam antara lain:

- Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiah, dan anaknya al-Muammil dan az-zanirah disiksa oleh para pemiliknya atau tuannya dibatas peri kemanusiaan. Bahkan Az-zanirah disiksa hingga mengalami kebutaan dan Ummu Amr binti Yasit, budak milik bani makhzum disiksa oleh tuannya sampai mati.

Abu Bakar As-siddiq tidak tega melihat saudara-saudaranya seiman disiksa seperti itu, lalu beliau memerdekakan beberapa orang dari mereka termasuk Bilal, dengan cara memberikan uang tembusan kepada tuannya.


- Setiap keluarga dari kalangan kaum kafir Quraisy diharuskan untuk menyiksa keluarganya yang telah masuk Islam, sehingga ia kembali menganut agama keluarganya (agama watsani).

-
Rasulullah sendiri dilempari kotoran oleh Ummu Jamil (istri Abu Lahab) dan dilempari isi perut kambing oleh Abu Jahal, nama asli Abu jahal adalah Umar Abu al-hakam yang artinya Amr Bapak juru damai. Umat Islam mengganti nama itu manjadi Abu Jahal yang artinya Bapak kebodohan.

- Kaum kafir Quraisy meminta Abu Thalib paman pelindung Rasulullah, agar Rasulullah menghentikan dakwahnya. Namun kala Abu Thalib menyampaikan keinginan kaum kafir Quraisy tersebut Rasulullah bersabda; "wahai pamanku demi Allah, biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah, hingga aku menang atau aku binasa karenanya."

- Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Muhammad agar permusuhan diantara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Disaat lain umat Islam menganut agama kaum kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.

Usul tersebut ditolak oleh Muhammad, karena menurut ajaran Islam mencampur adukkan akidah dan ibadah Islam dengan akidah dan ibadah bukan Islam termasuk perbuatan haram dan merupakan dosa besar. (terkait Q.S Al kafirun, 109: 1-6).

Menghadapi tantangan keras kaum kafir Quraisy, Muhammad bersabar, bertawakal dan berdo’a, beliau menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk Ustman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habsyah (Ethiopia), karena raja Negus di negeri itu suka memberikan jaminan keamanan kepada orang-orang yang meminta perlindungan kepadanya. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habsyah terjadi pada tahun 615 M.

Suatu saat, ke 16 orang yang hijrah ke Habsyah ini kembali ke Mekkah, karena mereka menduga Mekkah keadaannya sudah normal dengan masuk Islamnya seorang bangsawan Quraisy yang gagah berani yakni Umar bin Khatab. Namun dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal, pimpinan kaum Quraisy memerintahkan agar setiap keluarga dari kabilah Quraisy meningkatkan tekanan dan siksaan terhadap anggota keluarganya yang masuk Islam.

Menghadapi situasi yang demikian, akhirnya Rasulullah meminta para sahabatnya, untuk yang kedua kalinya agar kembali hijrah ke Habsyah. Jumlah para sahabat yang berhijrah pada saat itu sebanyak 83 orang laki-laki dan 18 orang wanita, dibawah pimpinan Ja’far bin Abu Thalib. Di negeri Habasyah ini selain memperoleh jaminan keamanan dari Raja Negus, para sahabat juga memiliki kebebasan melaksanakan ibadah. (Baca: Adalah Ja'far Bin Abu Thalib, Pria yang Mirip Rasulullah)

Pada tahun ke 10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat dalam usia 87 tahun. Empat hari setelah itu istri tercintanya Khadijah juga wafat dalam usia 65 tahun. Dalam sejarah Islam tahun ini wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘Amul Huzni (tahun duka cita).

Wafatnya Abu Thalib sebagai pemimpin Bani Hasyim, menyebabkan Abu Lahab seorang kafir yang sangat keras dalam memusuhi Muhammad, menggantikan kedudukan Abu Thalib sebagai pemimpin. Semenjak itu Rasulullah tidak memperoleh perlindungan dari kaum kerabatnya yakni Bani Hasyim.

Allah SWT senantiasa melindungi Muhammad dari berbagai kesulitan. Tidak lama Bani Hasyim pimpinan Abu Lahab, Mut’im bin Adi pemimpin kaum Naufal menyatakan perlindungannya terhadap Nabi SAW. Bahkan menjelang peristiwa hijrah tahun 622 M, umat Islam Yatsrib telah bersumpah setia akan melindungi
Muhammad beserta para pengikutnya.

Thursday, October 1, 2015

Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah

by
Sejarah Dakwah Rasulullah priode Madinah
Arti Hijrah dan Tujuan Rasulullah SAW dan umat Islam Berhijrah

Ada dua macam arti hijrah, Pertama, Hijrah berarti meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dimurkai Allah SWT untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang disuruh Allah SWT dan di ridhoi-Nya. (Baca : Sejarah Dakwah Rasulullah SAW periode Mekkah)


Artinya hijrah dalam pengertian pertama ini wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam, Rasulullah bersabda :
 

"Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang dilarang Allah SWT. (H.R. Bukhari)
 
Arti kedua dari hijrah ialah berpindah dari suatu negeri kafir (non-Islam), karena di negeri umat Islam selalu mendapatkan tekanan, ancaman dan kekerasan sehingga tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan beribadah. Kemudian umat Islam di Negeri kafir itu, berpindah ke negeri Islam agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam bertakwa dan beribadah.

Arti kedua dari hijrah ini pernah dipraktekan oleh Rasulullah SAW dan umat Islam, yakni berhijrah dari Mekah ke Yatsrib pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah, bertepatan dengan tanggal 28 Juni 622 M.

Tujuan Hijrahnya Rasulullah dan umat Islam dari Mekkah (negeri kafir) ke Yatsrib (Negeri Islam) adalah :

 
- Menyelamatkan umat Islam dari tekanan, ancaman, dan kekerasan kaum kafir Quraisy.
- Agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah, sehingga dapat meningkatkan usaha-usahanya dalam berjihad di jalan Allah SWT, untuk menegakkan dan meninggikan agama-Nya (Islam) (terkait Q.S An-Nahl, 16: 41-42).


Dakwah Rasulullah Periode Madinah           

Dakwah Rasulullah periode Madinah  berlangsung selama 10 tahun yakni dari semenjak tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah sampi dengan wafatnya Rasulullah, tanggal 13 Rabiul Awl tahun ke 11 Hijrah.

Mengenai objek dakwah Rasulullah pada peiode Madinah adalah orang-orang yang sudah masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar. Juga orang-orang yang masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab, dan yang tidak termasuk bangsa Arab.
        
Tujuan dakwah Rasulullah yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji, menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan kemauan dan kesadaran sendiri.


Namun tidak sedikit pula orang kafir yang tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang lain masuk Islam dan juga berusaha melenyapkan agama Islam dan umatnya dari muka bumi. Mereka itu seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, dan sekutu-sekutu mereka.
        
Setelah ada izin dari Allah SWT untuk berperang, sebagaimana firmannya dalam surat Al-Hajj 22:39 dan Al-Baqarah, 2: 190, maka kemudian Rasulullah Saw dan para sahabatnya menyusun kekuatan untuk menghadapi perperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi.
      
Perperangan-perperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan penjajahan atau meraih harta rampasan perang, tetapi untuk:


- Membela diri, kehormatan, dan harta
- Menjamin kelancaran dakwah, dan memberi kesempatan kepada mereka yang hendak menganutnya
- Untuk memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.

Setelah Rasulullah dan para pengikutnya mampu membangun suatu Negara yang mardeka dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan dan memasyurkan agama Islam, bukan saja terhadap para penduduk jazirah Arabia, tetapi juga ke luar jazirah Arabia, maka bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas dan khawatir kekuasaan mereka akan tersaingi.


Oleh karena itu bangsa Romawi dan bangsa Persia bertekad untuk menumpas dan menghancurkan umat Islam dan agamanya. Untuk menghadapi tekad bangsa Romawi dan Persia tersebut, Rasulullah dan pengikutnya tidak tinggal diam sehingga terjadi perperangan antara umat Islam dengan bangsa Romawi, yaitu pertama perang Mut'ah pada tahun 8 H, di dekat desa Mut’ah bagian utara jazirah Arabiah dan kedua perang Tabuk pada tahun 9 H di kota Tabuk, bagian utara jazirah Arabia. Sedangkan bangsa Persia selalu mengadakan penyerangan kepada wilayah kekuasaan umat Islam.

Perang lainnya yang dilakukan pada masa Rasulullah seperti :

1. Perang Badar Al-Kubra, terjadi pada tanggal 17 Rahmadan tahun 2 H di sebuah tempat dekat perigi Badar, yang letaknya antara Mekah dan Madinah. Perperangan ini terjadi antara Rasulullah dan para pengikutnya dengan kaum kafir Quraisy yang telah mengusir kaum Muslimin penduduk Mekah untuk pindah ke Madinah dengan meninggalkan rumah dan harta bendanya. Mereka masih tetap bertekat untuk menghancurkan Islam dan kaum Muslimin di Madinah. Dalam perang Badar ini kaum Muslimin memperoleh kemenangan yang gialang gemilang.

2. Perang Uhud, terjadi pertengahan Sya’ban tahun 3
Hijriyah, pada perperangan kaum Muslimin mengalami kekalahan.

3. Perang Ahzab (Khandak), terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriyah, ahzab artinya golongan-golongan, yaitu gabungan kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, Bani Salim, Bani Asad, Gathfan, Bani Murrah, dan Bani Asyyja, sehingga berjumlah 10.000 lebih.

Pasukan ahzab ini menyerbu Madinah untuk menumpas Islam dan umat Islam. Atas inisiatif dari Salman Al-Farizi, untuk mempertahankan kota Madinah dibuat parit yang dalam dan lebar. Berkat inisiatif itu, kekompakan umat Islam dan pertolongan Allah SWT, dalam perang ini umat Islam memperoleh kemenangan.

Pada tahun keenam hijriyah Rasulullah dan para pengikutnya umat Islam penduduk Madinah yang berjumlah 1000 orang berangkat menuju Mekah untuk melakukian Umrah, agar kaum kafir Quraisy tidak menduga bahwa kedatangan kaum Muslimin ke Mekah itu untuk memerangi mereka maka jauh sebelum mendekati kota Mekah umat Islam sudah mengenakan pakaian Ihran, tidak membawa alat-lat perang, kecuali pedang dalam sarungnya, sekedar untuk menjaga diri di perjalanan. 


Rombongan kaum Muslimin tiba disuatu tempat yang bernama "Al-Hudaibiyah", yang letaknya beberapa kilometer dari kota Mekah, dengan maksud selain untuk beristirahat, juga melihat situasi.

Sebenarnya saat itu termasuk bulan yang sucikan oleh bangsa Arab sebelum Islam. Mereka dilarang melakukan perperangan didalamnya. Namun dalam kenyataanya, kaum kafir Quraisy telah menempatkan sejumlah bala tentaranya yang cukup besar di perbatasan kota Mekah, siap untuk melakukan perperangan.

Membaca situasi yang demikian, kemudian Rasulullah mengutus sahabat Usman bin Affan memasuki kota Mekah untuk menemui pimpinan kaum kafir Quraisy dan menjelaskan kepadanya, bahwa kedatangan mereka ke Mekah bukan untuk berperang, tetapi semata-mata untuk melakukan ibadah umrah.

Namun kaum kafir Quraisy bersikeras tidak mengizinkan kaum Muslimin memasuki kota Mekah, dengan alasan akan menjatuhkan wibawa kaum kafir Quraisy pada pandangan bangsa Arab. Sahabat  Usman bin Affan ditahan oleh kaum kafir Quraisy bahkan tersiar kabar bahwa beliau telah dibunuh.

Menyikapi kabar tersebut kaum Muslimin telah bersepakat mengadakan "sumpah setia" (bai'at), untuk berperang melawan kafir Quraisy, sampai meraih kemenangan, sumpah setia itu disebut “Baiatu Ridwan”.

Untung di saat genting seperti itu sahabat Utsman bin Affan muncul membawa berita akan diadakannya perundingan antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin. Maka terjadilah perundingan antara delegasi kaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Suhail Ibnu Umar dan delegasi umat Islam dipimpin oleh Rasulullah.

Perundingan tersebut melahirkan kesepakatan antara dua belah pihak, dan melahirkan sebuah perjanjian, yang dikenal dalam sejarah sebagai perjannian Hudaibiyah (Sulhul Hudaibiyah) isi perjanjian tersebut adalah :

1) Selama 10 tahun diberlakukan gencatan senjata antara kaum kafir Quraisy penduduk Mekah dan umat Islam penduduk Madinah.
2) Orang Islam dan kaum Kafir Quraisy yang dating kepada kaum umat Islam, tanpa seizing walinya hendaklah ditolak oleh umat Islam.
3) Kaum Quraisy tidak menolak orang-orang Islam kembali dan bergabung dengan mereka.
4) Tiap kabilah yang ingin masuk dalam persekutuan dengan kaum Quraisy, atau dengan kaum Muslimin dibolehkan dan tidak akan mendapatkan rintangan.
5) Kaum Muslimin tidak jadi mengerjakan umrah saat itu, mereka kembali ke Madinah, dan boleh mengerjakan umrah di tahun berikutnya, dengan persyaratan:
- Kaum Muslimin memasuki kota Meka setelah penduduknya untuk sementara keluar dari kota Mekah.
- Kaum muslimin memasuki kota Mekah tidak boleh membawa senjata
- Kaum Muslimin tidak boleh berada di dalam kota Mekah tidak lebih dari tiga hari tiga malam.

Kaum kafir Quraisy mengetahui, bahwa perjanjian Hudaibiyah itu sangat menguntungkan kaum Muslimin. Umat Islam semangkin kuat, karena hampir seluruh semenanjung Arab, termasuk suku-suku bangsa Arab yang paling selatan telah menggabungkan diri kepada Islam.

Kaum kafir Quraisy merasa terpojok, dan mereka secara sepihak berniat membatalkan perjanjian Hudaibiyah itu, dengan cara menyerang bani Khuza’ah yang berada di bawah perlindungan Islam. Sejumlah orang Bani Khuza’ah mereka bunuh dan selebihnya mereka cerai-beraikan. Bani Khuza’ah segera mengadu kepada Rasulullah SAW dan mohon keadilan.

Mendapatkan pengaduan seperti itu kemudian Nabi Muhammad SAW dengan sepuluh ribu bala tentaranya berangkat menuju kota Mekah untuk membebaskan kota Meka dari para penguasa kafir dan zalim, yang telah melakukan pembunuhan secara kejam terhadap umat Islam dari Bani Khuza’ah.

Rasulullah sebenarnya tidak menginginkan terjadinya perperangan, yang sudah tentu akan menelan banyak korban jiwa. Untuk itu Rasulullah SAW dan bala tentaranya berkemah di pinggit kota Mekah dengan maksud agar kaum kafir Quraisy melihat sendiri kekuatan besar dari bala tentara kaum Muslimin.

Taktik Rasulullah seperti itu ternyata berhasil, sehingga dua orang pimpinan Quraisy yaitu Abbas (paman Rasulullah) dan Abu Sofyan (seorang bangsawan Quraisy yang lahir 567 M dan wafat tahun 652 M) datang menemui Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam.

Dengan masuk Islamnya kedua orang pimpinan kaum kafir Quraisy tersebut, Rasulullah dan bala tentaranya dapat memasuki kota Mekah dengan aman dan membebaskan kota itu dari pada penguasa kaum kafir Quraisy yang zalim. Pembebasan kota Mekah ini terjadi pada tahun 8 H secara damai tanpa adanya pertumpahan darah.


Dakwah Islamiah keluar dari Jazirah Arabia

Rasulullah menyerukan umat manusia di luar Jazirah Arabia agar memeluk agama Islam, dengan jalan mengirim utusan untuk menyampaikan surat dakwah Rasulullah kepada penguasa atau para pembesar mereka. Para penguasa atau para pembesar Negara yang dikirimi surat dakwah Rasulullah itu seperti :

1. Heraclius, Kaisar Romawi Timur
Yang menerima surat dakwah Rasulullah, melalui utusannya Dihija bin Khalifa. Heraclius tidak menerima seruan dakwah Rasulullah itu. Karena tidak mendapatkan persetujuan dari para pembesar Negara dan para pendeta. Namun surat dakwah itu dibalasnya dengan tutur kata sopan, disamping mengirimkan hadiah untuk Rasulullah.

2. Muqauqis, Gubernur Romawi di Mesir
Rasulullah SAW mengiri surat dakwah kepada Muqauqis melalui utusannya yang bernama hatib. Setelah surat dibaca Muqauqis belum bisa menerima seruan untuk masuk Islam, namun dia menyampaikan surat balasan kepada Rasulullah dan mengirim hadiah-hadiah berupa seorang budak wanita, kuda, keledai, dan pakaian-pakaian.

3. Syahinsyah, Kaisar Persia
Syahinsyah adalah penguasa yang lalim dan sombong, karena kesombongannya surat dakwah Rasulullah itu dirobeknya. Mengetahui surat dakwah itu dirobek-robek. Rasulullah menjelaskan bahwa Syahinsyah akan dibunuh oleh anaknya sendiri pada malam selasa 10 Jumadil Awal tahun ke 7 H. apa yang diucapakan Rasulullah ternyata sesuai dengan kenyataan. Syahinsyah dibunuh anaknya sendiri Asy-Syirwaih karena kelalimannya.

4. Kemudian surat dakwah Rasulullah dikirimkan pula kepada An-Najasyi (Raja Ethopia), Al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrian), Hudzah bin Ali (Raja Yamamah), dan Al-Haris (Gubernur Romawi di Syam).


Diantara pengusa-penguasa tersebut yang menerima seruan dakwah Rasulullah hanyalah Al-Munzir bin Sawi penguasa Bahrian yang menyatakan masuk Islam dan mengajak para pembesar Negara dan raknyatnya agar masuk Islam.

Strategi Dakwah Rasulullah Periode Madinah


Pokok-pokok pikirannya dijadikan dakwah Rasulullah periode Madinah adalah :
1. Beradakwah dimulai dari diri sendiri, maksudnya sebelum mengajak orang lain meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya, maka terlebih dahulu orang yang berdakwah itu harus meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya.
2. Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surat An-Nahl, 16 : 125
3. Berdakwah itu hukumnnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Dalil wajibnya : Al-Qur’an Surah Ali Imran, 3: 104, dan hadist Rasulullah SAW.

Usaha-usaha Rasulullah dalam mewujudkan masyarakat Islam seperti tersebut adalah :


a. Membangun Masjid

 
Mesjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah ialah Masjid Quba, yang berjarak 5 Km, sebelah barat daya Madinah. Masjid Quba ini dibangun pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijrah (20 September 622 M).

Setelah Rasulullah menetap di Madinah, pada setiap hari Sabtu sering mengunjungi Masjid Quba untuk shalat berjama’ah dan menyampaikan dakwah Islam. Fungsi atau peranan mesjid pada masa Rasulullah adalah sebagai berkut:


- Masjid sebagai sarana pembinaan umat Islam dibidang Akidah, ibadah dan ahklak.
- Masjid merupakan sarana ibadah, khususnya shalat lima waktu, shalat jum’at, shalat tarawih, shalat idul fitri, dan idul adha (lihat Quraisy Al Jinn, 72: 181).
- Masjid merupakan tempat belajar dan mengajar tentang agama Islam yang bersumber pada AlQur’an dan Hadist.
- Masjid sebagai tempat pertemuan untuk menjalin hubungan persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) demi mewujudkan persatuan.
- Menjadikan masjid sebagai sarana kegiatan sosial, misalnya sebagai tempat penampungan zakat, infak dan sedekah dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya terutama para fakir miskin dan anak-anak yatim terlantar.
- Menjadikan halaman masjid dengan memasang tenda, sebagai tempat pengobatan para penderita sakit, terutama para pejuang Islam yang menderita luka akibat perang melawan orang-orang kafir.


Sejarah mencatat adanya seorang perawat wanita terkenal pada masa Rasulullah yang bernama "Rafidah".

-  Rasulullah menjadikan masjid sebagai tempat bermusyawarah dengan para sahabatnya. Masalah-masalah yang dimusyawarahkan antara lain: Usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan, usaha-usaha untuk memajukan umat Islam, dan strategi peperangan melawan musuh-musuh Islam agar memperoleh kemenangan.

b. Mempersaudarakan antar kaum Muhajirin dan Ansar


Muhajirin adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk Mekah yang berhijrah ke Madinah. Ansar adalah para sahabat Roderick penduduk asli Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin.

Rasulullah SAW memberi contoh dengan mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontoh oleh Rasulullah SAW di contoh oleh seluruh sahabatnya misalnya :

- Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, pahlawan Islam yang berani bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah.
- Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid
- Umar bin Khatab bersaudara dengan Irban bin Malain Khazraji (Ansar).
- Utsman bin Affan bersaudara dengan Aus bin Tsabit.
- Abdurrahman bin Aur bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Ansar).

Demikianlah seterusnya setiap orang Muhajirin dan orang Ansar, termasuk Muhajirin setelah hijrahnya Rasulullah, dipersaudarakan secara sepasang-sepasang, layaknya seperti saudara senasab.

Kaum Ansar dengan ikhlas memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin berupa tempat tinggal, sandang, pangan dan lain-lain yang diperlukan. Namun kaum Muhajiri juga tidak berpengku tangan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah agar dapat hidup mandiri. Misalnya Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang, Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Ali bin Abu Thalib menjadi petanu kurma.

Kaum Muhajirin yng belum mempunyai tempat tinggal dan mata pencaharian oleh Rasulullah ditempatkan dibagian Masjid Nabawi yang beratap yang disebut Suffa dan mereka dinamakan Ahlus Suffa (Penghuni Suffa).

Kebutuhan-kebutuhan mereka dicukupi oleh kaum Muhajirin dan ansar secara bergotong royong. Kegiatan ahlus Suffa itu antara lain mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dan Hadist, kemudian diajarkannya kepada yang lain. Sedangkan apabila terjadi perang antara kaum Muslimin dengan kaum Kafir, mereka ikut berperang.

c. Perjanjian Bantu Membantu antara Umat Islam dengan Umat Non-Islam

Pada waktu Rasulullah menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (bani Qainuqa, bani Nazir, dan Bani Quraizah), dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam.
Rasulullah membuat perjanjian dengan penduduk Madinah non Islam dan tertuang dalam piagam Madinah. Isi piagam Madinah itu antara lain:

1. Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan, dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan kepada orang-orang yang mematuhi peraturan.

2. Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebasan beragama.

3. Seluruh penduduk Madinah yang terdiri dari kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan orang Arab yang belum masuk Islam sesame mereka hendaknya saling membantu dalam bidang Moril dan materil. Apabila Madinah diserang musuh, maka seluruh penduduk Madinah harus membantu dalam mempertahankan kota Madinah.

4. Rasulullah adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah, segala perkara dan perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah untuk diadili sebagaimana mestinya.

d. Meletakkan dasar-dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani.

Islam tidak hanya mengajarkankan bidang akidah dan ibadah, tetapi mengajarkan juga bidang politik, ekonomi dan sosial, yang kesemuanya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.

Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah mayoritas sudah beragama Islam, sehingga masyarakat Islam sudah terbentuk, maka adanya pemerintahan Islam merupakan keharusan. Rasulullah selain sebagai seorang nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang Kepala Negara (Khalifah).

Sebagai kepala Negara, Rasulullah telah meletakkan dasar bagi sistem politik Islam, yakni musyawarah. Melalui musyawarah, umat Islam dapat mengangkat wakil-wakil rakyat dan kepala pemerintahan, serta membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dengan syarat, peraturan itu tidak menyimpang dari tuntunan Al-Qur’an dan Hadist (dalil Naqlinya Q.S An-Nisa’ 4: 59).

Dalam bidang ekonomi Rasulullah telah meletakkan dasar bahwa sistem ekonomi Islam itu harus dapat menjamin terwujudnya keadilan sosial. Dalam bidang sosial kemasyarakatan, Rasulullah telah meletakkan dasar antara lain adanya persamaan derajat diantara semua individu, semua golongan, dan semua bangsa.


Sesuatu yang membedakan derajat manusia ialah amal salehnya atau hidupnya yang bermanfaat (terkait Q.S. Al-Hujuraat, 49: 13).

Thursday, September 24, 2015

Rencana Balasan bagi Musuh-musuh Nuh

by
Kisah Rencana Balasan bagi Musuh-musuh Nuh
Ketika Kaum Nuh berencana melakukan makar untuk membunuh Nabi Nuh Alaihis Salam (AS), maka Allah Ta'ala membuat rencana untuk membinasakan mereka semua. Dan dengan kekuasaan-Nya, Allah mengeluarkan dari dalam bumi air mendidih yang sangat panas, sekaligus menumpahkan dari langit air yang sangat dingin. Air bah pun membumbung melebihi gunung-gunung.

Tak hanya itu, Allah pun menghempaskan mereka dengan badai yang berkecamuk di sekeliling mereka. Maka musnahlah musuh-musuh Nuh AS, dan selamatlah Ia beserta pengikutpengikutnya.

Dalam Al Quran, Allah Ta'ala berfirman, "Maka kami selamatkan Nuh dan rang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan" (QS Asy-Syuroo 119).

Dalam kisah tragis makarnya kaum Nuh AS, seakan-akan Allah Ta'ala mengatakan:


"Wahai hamba-Ku, jika engkau ingin aku melepaskanmu dari cengkeraman setan, dan aku selamatkan kamu dari tenggelam di samudera kemaksiatan, maka pergunakanlah matamu untuk mengambil i'tibar, telingamu untuk mendengar ilmu dan hikmat, lisanmu untuk mengucap kalimat tauhid dan syahadat, dan kakimu untuk melangkah menuju shalat berjamaah, dan semua anggota badanmu untuk menunaikan segala amal ibadah dan tanamkanlah dalam hatimu rasa taubat dan penyesalan."

Maka kelak angkau akan aku selamatkan dari penjara kerugian dan penyealan, dan aku muliakan engkau pada tempat kemuliaan dan keselamatan."

Allah Ta'ala berfirman, "Dan mereka telah melakukan tipu daya yang besar."

Suatu masa, kaum Nuh AS membuat rencana hendak mengeluarkannya dari tengah-tengah mereka. Kemudian Allah yang Maha Mengetahui, membuat rencana pula untuk membalas mereka mengeluarkan mereka dari muka bumi. 


Dalam surat Al Qomar, Allah Ta'ala berfirman, "Maka kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah dan kami jadikan bumi memancarkan mata air mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (QS Al Qomar 11-12)

Menjelang azab yang telah ditetapkan tiba, Allah Ta'ala mengutus malaikat Jibril AS untuk menjumpai Nuh AS untuk mengajarkannya cara-cara 'bertukang' kayu, dan Jibril AS mengatakan bahwa, Allah Ta'ala memeritahkan kepadamu untuk membuat sebuah kapal dari kayu-kayu tersebut.

Sebagaimana firman Allah:
"Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami..." (QS Huud, 37)

Kemudian kepada Allah, Nuh AS bertanya,"Bagaimana cara membuat kapal itu?"

Nuh AS mendapatkan jawaban. "Potonglah seratus dua puluh empat ribu bilah papan, dan pada tiap papan-papan itu bertuliskan nama nabi-nabi"

Nuh AS berkata," Saya tidak tahu seluruh nama nabi-nabi itu."

Maka Allah mewahyukan,"Wahai Nuh tugas memotong papan adalah tugasmu, sedang menampakkan nama nabi-nabi itu, Akulah yang akan melakukannya."

Selanjutnya Nuh pun mulai memotong kayu-kayu menjadi papan-papan sesuai jumlah yang diminta oleh Allah. Ketika potongan pertama selesai Nuh AS merasa takjub ketika tampak nama Adam AS, begitu pula pada papan yang kedua, tampak nama Syaits AS, bilah papan yang ketiga tampak nama Idris AS. Rasa takjubnya bertambah saat namanya, Nuh AS tampak pada bilah papan ke empat. Dan seterusnya, setiap kali Nuh selesai memotong kayunya maka tampaklah nama salah seorang nabi tertulis pada bilah papan itu.

Yang tak kalah membuat Nuh takjub adalah bilah papannya terakhir yang bertuliskan nama Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (SAW), sebagai penutup dari para nabi sebelumnya, penghias orang-orang suci dan penyuluh para wali.

Kemudian Allah Ta'ala pun memerintahkan kepada Nuh AS untuk menyiapkan paku-paku. Pada setiap paku itu tertulis nama salah seorang nabi. Setelah paku-paku itu disiapkan, Ia memulai menyatukan bagian-bagian dari papan-papan tersebut dan memakunya. 


Saat itu, setiap orang kafir yang melewatinya dan melihat pekerjaan Nuh, mereka melemparkan ejekan dan hinaan, sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Ta'ala, dalam firmannya, "Dan mulailah Nuh membuat bahtera, dan setiap kali pemimpin kaumnya melewati Nuh, mereka mengejeknya.

Berkatalah Nuh, Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejek kamu, sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)." (QS Huud, 38)

Dalam kisah tersebut, setelah Nuh AS menyatukan papan-papan itu, ia kekurangan sebanyak empat keping papan lagi untuk menyempurnakan pembuatan kapal itu.

Maka turunlah malaikat Jibril, seraya berkata."Wahai Nuh, Allah memerintahkan kepadamu agar memootng empat keping papan lagi, dan hendaklah dicantumkan pada setiap papan itu nama para sahabat kekasih-Ku Muhammad SAW, karena kedudukan sahabat-sahabatnya disisi-Ku ibarat kedudukan para nabi.

Kisah ini memperingatkan kita bahwa Allah seakan-akan hendak mengatakan, Ketika Aku tampakkan nama kekasih-Ku dan nama sahabat-sahabatnya pada bilah papan itu, maka Aku selamatkan kapal itu dan penumpangnya dari amukan badai dan tenggelam. Dan ketika Allah menampakkan pada hati orang-orang yang beriman kecintaan kepada Rasulullah SAW serta sahabat-sahabatnya maka Allah selamatkan pula mereka dari siksaan neraka.

Di dalam kisah tersebut, dikatakan kepada Abdullah bin Abbas RA. "Ajarilah kami, ilmu yang dapat menyelamatkan kami dari api neraka, dan dapat memasukkan kami ke dalam surga." Ibnu Abbas menjawab, "Hendaklah kalian melaksanakan lima belas perkara. Lima dengan lisanmu, lima dengan angggota badanmu, dan lima lagi dengan hatimu.

Adapun, kelima dengan lisan itu adalah mengucapkan "Subhanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaa ha ilallah Wallahu Akbar Wa laa quwwata ilaa billaahil 'aliyyil'adhim." Sedang lima dengan angggota badanmu adalah, shalat lima waktu, lima dengan hati adalah mencintai Rasulullah, dan empat sahabat Abubakar, Umar, Usman dan Syaidina Ali. 

jumrahonline

Friday, September 11, 2015

Rayuan Iblis di Taman Surga Kala Bulan Madu Adam dan Hawa

by
Rayuan Iblis di Taman Surga Kala Bulan Madu Adam dan Hawa
Kemudian Allah mengusap punggung Nabi Adam maka keluarlah anak cucunya seperti mutiara antara putih dan hitam, dari pria dan wanita dan Allah menuangkan cahayanya, siapa saja yang terkena cahaya tersebut maka ia akan menjadi orang mukmin dan bagi yang tidak terkena cahaya itu maka ia tergolong kafir.

Sebagian lagi ada golongan yang mendapat cahaya yang mengkilat, lantas Adam bertanya: ″Wahai Tuhan, siapakah mereka itu?″

Allah menjawab: ″Mereka adalah para nabi dari anak cucumu, wahai Adam.″

.
Kemudian Allah Ta′ala menikahkan Adam dengan Hawa, dan itu bertepatan dengan hari Jum′at setelah tergelincirnya matahari. Oleh karena inilah disunnahkan menikah pada hari Jum′at.


Dikatakan bahwa Adam itu lebih bagus dari Hawa, akan tetapi hawa lebih lembut dan lunak hatinya. Kemudian Allah memberi wahyu kepada malaikat Ridwan AS, sang penjaga surga untuk membuatkan perkemahan dan merias para wildan/pelayan surga dan para bidadari.

Dan mendatangkan kepada Adam seekor kuda, yang datangnya seperti kilat yang menyambar. Kuda itu yang terbuat dari misik. Maimun, nama kuda itu dan diberikan kepada Adam. Adam pun langsung menaikinya.

Untuk Hawa, telah disiapkan seekor unta pilihan dari surga yang atasnya dipasang tandu terbuat dari mutiara, lalu Hawa pun menaikinya.

Malaikat Jibril memegang kendali kuda, sedangkan malaikat Mikail berjalan mengiringnya di sebelah kanan. Malaikat Isrofil disebelah kiri, mereka berkeliling langit, mengucapkan salam kepada para malaikat yang mereka jumpai.

Maka malaikat pun berkata, "Sungguh begitu mulia dirimu ini, mengalahkan ciptaan Allâh yang lainnya." Adam dan Hawa berkeliling menaiki unta dan akhirnya sampai di pintu surga. Mereka terdiam sebentar disitu.

Kemudian kepada Adam, Allah memberi wahyu, "Ini surga-Ku dan istana kemulyaan-Ku, masuklah kalian dan makanlah apa yang ada sesuka hati kalian dan janganlah mendekat pada pohon ini, jika kalian mendekat niscaya kalian tergolong orang-orang yang dzalim."

Malaikat-malaikat yang menjadi saksi atas pernikahan mereka kemudian menghantar mereka memasuki surga dan berkeliling menemani mereka di dalamnya serta melihat persediaan tempat-tempat bersemayamnya para nabi.

Bulan Madu Adam-Hawa, dan Penyusupan Iblis ke Surga

Ketika Adam dan Hawa telah sampai di surga, mereka melihat ranjang pelaminan yang terbuat dari mutiara dan dilengkapi dengan 700 kursi yang terbuat dari mutiara merah serta diatasnya terdapat selimut dari sutra.

Lalu malaikat berkata : "Wahai Adam dan Hawa, turunlah kalian disini."

Lalu mereka turun dan duduk diatas pelaminan, kemudian didatangkan kepada mereka dua 'dompol anggur', pada setiap dompol memiliki panjang kira-kira perjalanan satu hari satu malam. Dan mereka makan, minum serta berpesta ria ditaman surga.

Jika Adam ingin bersenggama bersama Hawa, maka mereka masuk di sebuah kubah yang terbuat dari mutiara dan batu zabarjad serta dipasanglah gordin-gordin sutra. Jika Hawa berjalan maka dibelakangnya diiringi bidadari yang tidak terhitung jumlahnya.

Ibnu Sina berkata:
″Buah-buahan surga yang pertama kali dimakan Adam adalah buah ″pidara.″

Ibnu Abbas berkata:
″Pertama kali yang mereka makan adalah ″anggur″ dan terakhir kali yang mereka makan adalah ″jagung gandum″ seperti keterangan yang akan datang.″

Mereka disana meminum arak surga, di saat meminumnya maka akan memperoleh kebahagiaan yang ekstra. Oleh karena itu barang siapa yang meminum arak dunia maka ia tidak bisa meminum arak surga.

Wahhab Bin Munabbih berkata:
"Petani jagung gandum akan mendapat kepayahan dan kerepotan selamanya pada masa mulai menanamnya, menuainya sampai menjadikannya tepung, karena itu adalah makanan yang pertama kali dimakan atas kemaksiatan."

Dan diceritakan sesungguhnya pertama kali yang dimakan orang-orang mukmin disurga adalah buah anggur. Annaisaburi berkata:
"Yang pertama kali dimakan adalah hatinya ikan yang 'menggendong' bumi sehingga penduduk surga mengetahui masa habisnya dunia."

Wahhab Bin Munabbih berkata:
″Ketika Adam berjalan-jalan, tanpa sengaja ia mendekati pohon jagung gandum, maka cepat-cepat ia lari menjauh karena terikat janji antara ia dan Allah agar tidak memakan buahnya.″

Pohon jagung gandum di surga itu memiliki beberapa tangkai, disetiap tangkai terdapat biji dan disetiap biji kira-kira sebesar kepala unta rasanya lebih manis daripada madu dan lebih putih daripada susu.


Setelah iblis mengetahui bahwa Adam dan Hawa sudah berada didalam surga dan mengetahui jika Adam telah dilarang untuk memakan jagung gandum itu, maka ia menghampiri pintu surga dan berdiri disitu kira-kira selama tiga ratus tahun. Tahun dari tahun akhirat dan dia selalu melihat kesana kemari siapa tahu ada yang melewati pintu surga.

Wahhab Bin Munabbih berkata:
″Dan datanglah raja burung surga yaitu burung merak yang indah wujudnya dan ketika iblis melihatnya maka burung tadi dipanggil dan disuruh mendekat, lalu berkatalah iblis padanya; ″Wahai burung yang bagus, darimanakah kamu?″

Burung tadi menjawab, ″Dari pertamanan Adam.″

Iblis berkata, ″Saya membawa nasihat yang bagus dan saya ingin kamu memasukkanku kedalam surga bersamamu.″

Burung merak menjawab, ″Kenapa kamu tidak masuk sendiri?″

Iblis berkata, ″Saya ingin masuk secara rahasia′.

Burung tadi menjawab, ″Wah saya tidak sanggup tapi saya akan membawa teman yang bisa memasukkanmu dengan rahasia.″

Kemudian merak tadi mendatangi ular, yang mana didalam surga tidak ada mahluk yang lebih indah daripada ular, kepalanya terbuat dari yaqut merah, kedua matanya dari zabarjad hijau, lidahnya dari kapur dan kedua kakinya seperti kaki unta.

Mereka berkata padanya, ″Di pintu surga ada malaikat dari malaikat mukarromin yang membawa nasihat.″

Maka bergegaslah ular tadi menemuinya, kemudian iblis berkata, ″Apakah kamu bisa membawaku masuk ke dalam surga secara rahasia karena aku membawa sebuah nasihat.″

Ular pun menjawab, ″Bagaimana caranya mengelabui malaikat Ridwan?″

Iblis berkata, ″Bukalah mulutmu.″

Lalu ular membuka mulutnya,dan masuklah iblis tersebut dan berkata, ″Bawalah aku medekati pohon gandum.″

Lalu ular pun membawanya dan meletakkannya dipohon gandum tadi.


Rayuan Iblis Yang Menyesatkan

Kemudian Iblis mengeluarkan seruling dan memainkannya dengan merdu, ketika Adam dan Hawa mendengarnya, mereka langsung mendatanginya untuk mendengarkan dan menikmatinya, disaat mereka sampai dipohon gandum maka kepada mereka, iblis berkata, ″Wahai Adam, mendekatlah pada pohon ini.″ Adam berkata, ″Sesungguhnya aku dicegah untuk mendekati pohon itu.″

Iblis berkata, ″Tuhan kamu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (didalam surga).″

Karena sesungguhnya siapa saja yang memakan biji dari pohon ini, dia tidak akan bisa tua dan pikun dan iblis juga bersumpah dengan nama Allah bahwa memakan biji itu tidak akan membahayakan mereka berdua dan dia mengaku bahwa dia adalah pembawa nasihat bagi mereka berdua.

Maka Adam pun menyangka bahwa tiada yang berani mengucapkan sumpah dengan nama Allâh pada kebohongan dan menyangka juga bahwa iblis itu memanglah malaikat pembawa nasihat.

Dari keinginan Hawa untuk bisa menjadi kekal di surga maka ia maju lebih dulu dan memakannya. Ketika Adam melihatnya makan dan selamat maka Adam pun ikut maju dan memakannya. Pada saat biji itu sampai ditenggorokan maka terbanglah mahkota yang melekat dikepalanya bersama perhiasan-perhiasan yang ada padanya.

Pertanyaan: ″Kenapa di kala Hawa memakan biji tersebut seluruh pakaiannya tidak terlepas seketika sedangkan pakaian Adam terlepas seketika itu juga?″

Jawab: ″Andaikan pakaian Hawa juga terlepas seketika itu, maka Adam akan kembali dan tidak akan mau ikut memakannya, begitu juga diyat/tebusan itu pada yang berakal dan karena sesungguhnya awal perkara itu untuk Adam.″

Sebagian ulama′ berkata: ″Sesungguhnya Adam memakannya itu dalam keadaan lupa.″

Sebagaimana firman Allah : ″Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu). (QS.Thoha:115)

Ketika Adam memakan biji dari gandum tersebut maka Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk mencabut ubun-ubun Adam dan Hawa serta mengeluarkannya dari surga dan dipanggil dengan sebutan maksiat.

Wahhab Bin Munabbih berkata: ″Pada saat itu Adam dan Hawa dalam keadaan telanjang,mereka berputar pada pohon-pohon surga untuk mengambil daun untuk menutupi tubuh mereka akan tetapi semua pohon-pohon itu kabur dan menjauh dari mereka. Akhirnya pohon ″Tin″ merasa iba dan menutupi mereka, lantas diambillah daunnya untuk menutupi tubuh mereka.″

Dikatakan pula bahwa yang menutupi mereka adalah pohon ′Garu′. Oleh karena itu, Allah memuliakannya dengan aroma yang harum dan Allah memuliakan pohon Tin dengan buah yang manis tanpa biji.

Dikatakan juga bahwa yang menutupinya adalah pohon ′Inai′. Oleh karena itu jadilah harum dan wangi serta dinamakan inai.

Ka′ab Al Ahbar berkata: Ketika Adam dalam keadaan telanjang, Allah berfirman kepadanya. ″Keluarlah kamu dari-KU, Aku akan menunggumu.″

Maka Adam berkata; ″Ya Tuhan, sungguh aku tak sanggup karena malu kepada-Mu.″

.
Diturunkannya Adam-Hawa Ke Bumi Secara Terpisah


Wahhab Bin Munabbih berkata: ″Kemudian Jibril menggandeng tangan Adam yang dalam keadaan telanjang dan terbuka kepalanya/tidak memakai tutup kepala dan menurunkan Adam ke bumi saat terbenamnya matahari, di hari Jum′at.″

Adam diturunkan di gunung dari salah satu gunung di kawasan Hindia yang bernama gunung ′rohun′. Sedangkan Hawa yang telah hilang cantiknya dan diberi cobaan dengan mengalami haid dan putusnya nasab.

Maka dikatakanlah anak cucu Adam bukan anak cucu Hawa karena dia membujuk Adam bersama iblis, dengan memakan biji gandum lebih dulu.

Dan Hawa diturunkan dipesisir kota Jeddah. Allah berfirman :

″Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan .″(QS.Al-Baqarah:36)

Sementara iblis yang dilaknat, dikeluarkan dari golongan malaikat dan menjadi syetan yang terkutuk.

Ketika dia keluar dari surga maka ia turun di bumi di kawasan Irak sekitar kota Basroh.

Ibnu Abbas RA berkata: ″Ketika iblis diturunkan ke bumi dia menikah dengan dirinya sendiri dan membuahkan empat telur yang terpisah. Disetiap sudut bumi diberi satu telur, jadi semua syetan yang ada dipenjuru bumi ini adalah dari telur-telur tersebut.″

Mujahid berkata: ″Iblis itu menikah dengan ular yang membawanya masuk ke surga ketika mereka diturunkan dibumi dan membuahkan empat telur″.

Adapun merak hilang mutiara dari tubuhnya dan hilang sebagian dari keindahannya. Ia pun juga diturunkan ke bumi tepatnya turun di sekitar Babiliun, dikatakan juga bahwa ia diturunkan di kota Antokiyyah (di daerah Syam/Syiria).

Adapun ular, Ia diturunkan di daerah Basibhan. Ia berubah bentuk tubuhnya dan lidahnya beracun. Karena ia menyembunyikan iblis diantara siungnya dan memasukkannya ke surga. Ular pun berubah menjadi bisu serta berjalan merayap dengan menggunakan perutnya.

Ibnu Abbas berkata: ″Adam dan Hawa tinggal di surga itu hanya setengah hari dari hari akhirat atau sekitar 500 tahun dunia. Ketika Adam diturunkan di bumi, maka Allâh memberikan rasa kantuk padanya″.

Adam pun menjadi tertidur, dan tidurlah semua yang ada di bumi dari hewan-hewan buas, burung-burung dan semua yang bernyawa. Sebelum ada kejadian ini mereka semua tidak pernah mengalami tidur, maka hari itu dinamakanlah dengan nama hari 'Sabtu' berarti tidur atau istirahat.

jumrahonline

Friday, August 28, 2015

Gua Hira, Dalam Sejarah Turunnya Wahyu Pertama

by
Gua Hira, Dalam Sejarah Turunnya Wahyu Pertama
Allah berfirman yang artinya,"Tiadalah Kami utus engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat manusia, membawa kabar gembira, dan memberi peringatan. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti." (QS Saba` 28) 

Gua Hira tempat diturunkannya Wahyu Allah Ta'ala, rangkaian kalimat yang membuat iblis berputus asa untuk menyesatkan manusia, kalimat yang dengannya alam semesta berguncang.


Al-Quran, susunan kalimatnya yang mengandung makna yang banyak, makna lahir dan makna batin, telah membuat tercengang manusia-manusia mana pun di jagat raya, yang mengakui kebenarannya, akan mengikutinya, sedangkan yang tidak mengakuinya harus tunduk atas kebenarannya, dan bagi mereka yang menolak, dengan cara apapun akan sia-sia dan celaka.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan tahun 610 Masehi, yang kelak disebut nabi Muhammad SAW sebagai malam Lailah al-Qadr (lailatu qadar), Jibril (Ruh Al-Qudus) diutus Allah, Tuhan Semesta Alam, Rabbul ‘Aalamin, menyampaikan kalimat-Nya kepada Al-amin yang berada di Gua Hira. Muhammad SAW telah mempersiapkan dirinya selama empat puluh tahun untuk memikul tugas yang maha berat ini, ia telah menjadi manusia pembelajar secara alamiah sebelum kenabian dan kerasulan ditetapkan padanya.

Jibril datang kepadanya dengan membawa beberapa kalimat Allah. Kalimat pertama yang dikemukakan dalam Al-quran sebagai berikut (QS 96:1-5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam (pena). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”


Ayat  pertama ini merupakan perintah Allah S.W.T yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui Malaikat Jibril untuk “Membaca” atau “Iqra”. Apa yang dibaca dan apa maksudnya “membaca” berhubungan dengan Allah S.W.T sebagai Pencipta makhluk atau ar-Rabb. Jadi, kalau umat Islam tidak membaca tanda-tanda (ayat-ayat) Kekuasaan Allah SWT sebagai Pencipta makhluk berarti telah melanggar satu perintah agung dari Allah SWT langsung.

Turunnya 5 ayat surat al-‘Alaq ini dengan tegas menyatakan tentang program atau rencana yang akan diamanatkan kepada Nabi. Karena itu, surat ke-1 sampai ke-5 surat al-‘Alaq dengan perintah "Iqra" atau "Baca" secara langsung menyatakan bahwa dasar-dasar kebenaran al-Haqq bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang benar sebagai suatu agama yang mengikat yang nanti akan disampaikan Muhammad berhubungan dengan proses belajar yang terus menerus tentang kehidupan dimana di dalamnya terdapat  proses atau tatacara pengkajian, pengetahuan, kebijaksanaan, dan penggunaan pena (kalam) untuk menulis.

Pena atau Qalam, yang kelak namanya menjadi salah satyu nama surat dalam Al Qur’an yaitu suraka Al-Qalam  (QS 68), karena itu pengertiannya sangat penting bagi Umat Islam. Kenapa demikian? Karena dengan menuliskan ilmu pengetahuan tentang Kekuasaan Allah maka ilmu akan terikat, menjadi buku, kitab, dan akhirnya nanti akan dapat diajarkan kepada generasi manusia selanjutnya. Jadi, betapa dahsyatnya perintah Allah SWT yang pertama kali diterima oleh Muhammad karena berhubungan dengan “membaca”, “menulis”, dan perintah belajar secara terus menerus supaya manusia bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat.

Muhammad, pembawa berita bahagia, merupakan manusia teladan sepanjang masa, ia adalah manusia dalam wujud dimana asma-asama, sifat-sifat, dan perbuatan Ilahiah dinyatakan sebagai suatu adab dan akhlak bagi manusia sebagai makhluk berpikir, bukan binatang tanpa akal, Ia adalah utusan Tuhan yang kepadanya ummat manusia memohonkan syafaat. Tidak satupun mahkluk yang mencapai kesempurnaan yang dapat dicapai Muhammad dengan kehambaannya dihadapan Allah SWT bukan dengan kesombongan yang dapat menabiri kemuliaan wujud manusianya.

Sejak kecil ia telah memperlihatkan ketulusan, kejujuran, manusia yang seumur hidupnya tidak pernah berbohong, yang tidak pernah menghianati janji, dan sayang kepada kaum yang miskin, lemah dan papa. Ia bagaikan raja bagi kaum dhuafa maupun bagi para penguasa dunia, dan ditakuti para dajjal  yang matahatinya buta.
 

Selanjutnya : Gua Hira, Awal Sejarah Turunnya Wahyu Allah SWT

Gua Hira, Awal Sejarah Turunnya Wahyu Allah (2)

by
Gua Hira
Malaikat Jibril menyelesaikan tugasnya menyampaikan wahyu pertama itu, dan Muhammad pun turun dari Gua Hira menuju rumah Khodijah dengan rasa takut amat sangat. Tubuhnya masih menggigil ketakutan ketika sampai di rumah dan di sambut dengan istrinya Khadijah. 

Namun, saat itu jiwa agung Nabi Muhammad telah disinari cahaya wahyu. Beliau merekam di hatinya apa yang didengarnya dari malaikat Jibril. Setelah kejadian ini, Jibril menyapanya, “Wahai Muhammad! Engkau Rasul Allah dan akulah Jibril.”
Artikel sebelumnya: Gua Hira, Dalam Sejarah Turunnya Wahyu Pertama

Muhammad menerima kalimat Ilahi secara bertahap, secara berangsur-angsur. Fakta sejarah mengakui bahwa di antara wanita, Khodijah adalah wanita yang pertama memeluk Islam, dan pria pertama yang memeluk Islam adalah Syayidina Ali KWJ.

Suatu saat, ketika dirasakan waktunya tiba untuk mengungkapkan siapa dirinya, Muhammad mengadakan perjamuan makan dengan kerabatnya. Selesai makan, beliau berpaling kepada para sesepuh keluarganya dan memulai pembicaraan dengan memuji Allah dan memaklumkan keesaan-Nya. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya, pemandu suatu kaum tak pernah berdusta kepada kaumnya. Saya bersumpah demi Allah yang tak ada sekutu bagi-Nya bahwa saya diutus oleh Dia sebagai Rosul-Nya, khususnya kepada Anda sekalian dan umumnya kepada seluruh penghuni dunia.

Wahai kerabat saya! Anda sekalian akan mati. Sesudah itu, seperti Anda tidur, Anda akan dihidupkan kembali dan akan menerima pahala menurut amal Anda. Imbalannya adalah surga Allah yang abadi (bagi orang lurus) dan neraka-Nya yang kekal(bagi orang yang berbuat jahat). Lalu beliau menambahkan,Tak ada manusia yang pernah membawa kebaikan untuk kaumnya ketimbang apa yang saya bawakan untuk Anda.

Saya membawakan kepada Anda rahmat dunia maupun Akhirat. Tuhan saya memerintahkan kepada saya untuk mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah diantara Anda sekalian yang akan menjadi pendukung saya sehingga ia akan menjadi saudara, washi (penerima wasiat), dan khalifah (pengganti) saya?.”

Ketika pidato Nabi mencapai titik ini, semua terpaku, sel-sel kelabu otak masing-masing yang hadir mendadak membeku, kebisuan total melanda pertemuan itu. Ali, remaja berusia lima belas tahun, memecahkan kebisuan itu. Ia bangkit seraya berkata dengan mantap, “Wahai Nabi Allah, saya siap mendukung Anda.”

Nabi menyuruhnya duduk. Nabi mengulang tiga kali ucapannya, tapi tak ada yang menyambut kecuali Ali yang terus melontarkan jawaban yang sama. Beliau lalu berpaling kepada kerabatnya seraya berkata, “Pemuda ini adalah saudara, washi, dan khalifah saya diantara kalian. Dengarkanlah kata-katanya dan ikuti dia”. Ali kemudian sering disebut Karamallahu Wajhah (KWJ) yang maksudnya seseorang yang tidak pernah menyembah berhala ataupun memakan makanan dari hasil untuk sesembahan berhala.

Peristiwa diatas membuktikan heroisme spiritual dan kebenaran Ali tanpa keraguan. Karena, dalam pertemuan di mana orang-orang tua dan berpengalaman tenggelam dalam keraguan dan keheranan, ia menyatakan dukungan dan pengabdian dengan keberanian sempurna dan mengungkapkan permusuhannya terhadap musuh Nabi tanpa menempuh jalan politisi yang mengangkat diri sendiri.

Kendati waktu itu ia yang termuda diantara yang hadir, pergaulannya yang lama dengan Nabi telah menyiapkan pikirannya untuk menerima kenyataan, melihat bukti hidup tentang kemuliaan akhlak yang nyata, menyelaminya, dan mematuhinya, sementara para sesepuh bangsa ragu-ragu untuk menerimanya.

Setelah berdakwah kepada kaum kerabatnya, Nabi berdakwah terang-terangan kepada kaum Quraisy. Muhammad, berbekal kesabaran, keyakinan, kegigihan, dan keuletan dalam berdakwah terus-menerus dan tidak menghiraukan orang-orang musyrik yang terus mencemoohnya, menghardiknya, mengejeknya bahkan suatu ketika memuncak menjadi ingin membunuhnya.

Banyak cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan Muhammad. Suatu saat Abu Tholib sedang duduk bersama keponakannya. Juru bicara rombongan yang mendatangi rumah Abu Tholib membuka pembicaraan dengan berkata, “Wahai Abu Tholib! Muhammad mencerai-beraikan barisan kita dan menciptakan perselisihan diantara kita. Ia merendahkan kita dan mencemooh kita dan berhala kita. Jika ia melakukan itu karena kemiskinan dan kepapaannya, kami siap menyerahkan harta berlimpah kepadanya. Jika ia menginginkan kedudukan, kami siap menerimanya sebagai penguasa kami dan kami akan mengikuti perintahnya. Bila ia sakit dan membutuhkan pengobatan, kami akan membawakan tabib ahli untuk merawatnya.”

Abu Tholib berpaling kepada Nabi seraya berkata, “Para sesepuh anda datang untuk meminta Anda berhenti mengkritik berhala supaya mereka pun tidak mengganggu Anda.” Nabi menjawab, “Saya tidak menginginkan apa pun dari mereka. Bertentangan dengan empat tawaran itu, mereka harus menerima satu kata dari saya, yang dengan itu mereka dapat memerintah bangsa Arab dan menjadikan bangsa Ajam sebagai pengikut mereka”. Abu Jahal bangkit sambil berkata, “Kami siap sepuluh kali untuk mendengarnya”. Nabi menjawab, “Kalian harus mengakui keesaan Tuhan”.

Kata-kata tak terduga dari Nabi ini laksana air dingin ditumpahkan ke ceret panas. Mereka demikian heran, kecewa, dan putus asa sehingga serentak mereka berkata, “Haruskah kita mengabaikan 360 Tuhan (berhala) dan menyembah kepada satu Allah saja?”
Orang Quraisy meninggalkan rumah Abu Tholib dengan wajah dan mata terbakar kemarahan. Mereka terus memikirkan cara untuk mencapai tujuan mereka. Dalam ayat berikut, kejadian itu dikatakan,“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja ? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), Pergilah kamu dan tetaplah [menyembah] tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini; ini(mengesakan Allah) tidak lain kecuali dusta yang diada-adakan.”

Banyak sekali contoh penganiayaan dan penyiksaan kaum Quraisy. Tiap hari Nabi menghadapi penganiayaan baru. Misalnya, suatu hari Uqbah bin Abi Muith melihat Nabi bertawaf, lalu menyiksanya. Ia menjerat leher Nabi dengan serbannya dan menyeret beliau ke luar masjid. Beberapa orang datang membebaskan Nabi karena takut pembalasan dari Bani Hasyim. Dan masih banyak lagi.

Nabi menyadari dan prihatin terhadap kondisi kaum Muslim. Kendati beliau mendapat dukungan dan lindungan Bani Hasyim, kebanyakan pengikutnya budak wanita dan pria serta beberapa orang tak terlindung. Para pemimpin Quraisy menganiaya orang-orang ini terus-menerus, para pemimpin terkemuka berbagai suku menyiksa anggota suku mereka sendiri yang memeluk Islam.

Maka ketika para sahabatnya meminta nasihatnya menyangkut hijrah, Nabi menjawab, “Ke Etiopia akan lebih mantap. Penguasanya kuat dan adil, dan tak ada orang yang ditindas di sana. Tanah negeri itu baik dan bersih, dan Anda boleh tinggal di sana sampai Allah menolong Anda.”

Pasukan musyrik Quraisy kehabisan akal untuk menghancurkan Muhammad. Mereka melakukan propaganda anti Muhammad, diantaranya mereka memfitnah Nabi, bersikeras menjuluki Nabi Gila, larangan mendengarkan Al-Quran, menghalangi orang masuk Islam, sehingga Allah mengabadikan perkataan orang-orang keji ini dan menunjukkan sesatnya perkataan mereka, dalam Al-Quran Allah berfirman“Demikianlah, tiada seorang rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka selain mengatakan,Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu ? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”

Kaum Quraisy pun gagal melakukan berbagai macam cara untuk menghalangi usaha Muhammad, dan menghalangi orang-orang untuk mengikuti agama Tuhan Yang Esa. Mereka pun melakukan blokade ekonomi yang membuat banyak kaum muslim, terutama kaum wanita dan anak-anak kelaparan. Nabi dan para pengikutnya masuk ke Syiib Abu Tholib, yang diikuti pendamping hidupnya, Khodijah, dengan membawa serta Fatimah AS. Orang-orang Quraisy mengepung mereka di Syiib itu selama tiga tahun. Dan akhirnya tahun-tahun blokade itu pun berakhir. Dan keluarlah Nabi bersama keluarga dan sahabatnya dari pengepungan.

Allah telah menetapkan kemenangan bagi mereka, dan Khodijah pun berhasil pula keluar dari pengepungan dalam keadaan amat berat dan menderita. Beliau telah hidup dengan kehidupan yang menjadi teladan Istimewa bagi kalangan kaum wanita. Namun, ajal Khodijah sudah dekat. Allah telah memilihnya untuk mendampingi Rosulullah SAW, dan dia telah berhasil menunaikan tugas dengan baik. Khodijah akhirnya meninggal pada tahun itu juga. Yakni, pada saat kaum Muslim keluar dari blokade orang-orang Quraisy, tahun kesepuluh sesudah Kenabian.

Pada tahun yang sama, paman Rosul (Abu Tholib) meninggal dunia, yang sekaligus sebagai pelindung dakwa Muhammad. Sungguh Nabi mengalami kesedihan yang amat berat. Beliau kehilangan Khodijah, dan juga pamannya yang menjadi pelindung, dan pembelanya. Itu sebabnya, maka tahun ini dinamakan Am Al-Huzn (Tahun Duka cita).

Bukan hanya Rosul yang terpukul hatinya, Fatimah az Zahra, yang belum kenyang mengenyam kasih sayang seorang ibu dan kelembutan belaiannya, ikut pula menanggungnya. Kedukaan menyelimuti dan menindihnya di tahun penuh kesedihan itu. Fatimah kehilangan ibundanya, berpisah dari orang yang menjadi sumber cintanya dan kasih sayangnya. Acap kali dia bertanya kepada ayahandanya, “Ayah, kemana Ibu?” Kalau sudah begini, tangisnya pecah, air matanya meleleh, dan kesedihan menerpa hatinya. Rosul merasakan betapa berat kesedihan yang ditanggung putrinya.

Setelah wafatnya Abu Tholib kaum Kafir Quraisy semakin berani menganggu Muhammad. Akhirnya Muhammad berhijrah ke Yastrib. Peristiwa hijrahnya Nabi ke Yastrib merupakan momen awal dari lahirnya Umat Islam yang lebih terorganisir. Penduduk Yastrib bersedia memikul tanggung jawab bagi keselamatan Nabi. Di bulan Robiul Awwal tahun ini, saat hijrahnya Nabi terjadi, tak ada seorang muslim pun yang tertinggal di Mekah kecuali Nabi, Ali dan Abu Bakar, dan segelintir orang yang ditahan Quraisy atau karena sakit, dan lanjut usia.

Kaum Quraisy yang berada di Mekah akhirnya membuat kesepakatan untuk membunuh Muhammad di malam hari. Masing-masing suku mempunyai wakil, sehingga Bani Hasyim tidak dapat menuntut balas atas kematian Muhammad. Mereka mengira Muhammad dapat dihancurkan hanya dengan cara seperti ini, seperti urusan duniawi mereka. Jibril datang memberitahu Nabi tentang rencana kejam kaum kafir itu. Al-Quran merujuk pada kejadian itu dengan kata-kata,“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”

Ali berbaring melewati cobaan yang mengerikan demi keselamatan Islam menggantikan Nabi, sejak sore. Ia bukan orang tua yang lanjut usia, tapi seorang anak muda yang begitu berani mengorbankan nyawanya untuk sang Nabi, ia, yang bersama Khodijah adalah orang yang pertama-tama beriman kepada Nabi, dialah orang yang rela berkorban untuk Nabi.

Kepada Ali Nabi berkata, “Tidurlah di ranjang saya malam ini dan tutupi tubuh Anda dengan selimut hijau yang biasa saya gunakan, karena musuh telah bersekongkol membunuh saya. Saya harus berhijrah ke Yastrib.” Ali menempati ranjang Nabi sejak sore.


Ketika tiga perempat malam lewat, empat puluh orang mengepung rumah nabi dan mengintipnya melalui celah. Mereka melihat keadaan rumah seperti biasanya, dan menyangka bahwa orang yang sedang tidur di kamar itu adalah Nabi.Wallahu a`lam bishawab.


Sumber:
1) witness-pioneer.org/vil/Books/SM_tsn/ch1s7.html
2) muhammad.atmonadi.com/?p=23

Top Ad 728x90