Masjid Cordoba menjadi simbol keemasan Islam pada masa pemerintahan Khalifah Bani Umayyah yang bernama Abdurrahman III. Masjid yang dibangun antara 784 hingga 786 masehi, dulunya sebuah katedral bernama Visigoth St Vincent. Namun di masa Bani Ummayah akhirnya bangunan ini diubah menjadi masjid dan juga simbol kejayaan Islam menaklukkan tanah Eropa.
Thursday, November 5, 2015
Wednesday, November 4, 2015
by Unknown
8:25:00 AM
Sebelum memasuki Spanyol (Andalusia), kekuatan Islam telah lebih dulu menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuh-nya atas Afrika Utara itu terjadi di jaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik mengangkat Hasan ibn Nu'man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu.
Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu'man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukkan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di beberapa kawasan pegunungan.
Penaklukan wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi Khalifah Bani Umayah berproses selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid).
Islam pertama kali masuk ke Andalusia pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Sebelum datangnya Islam, negeri ini dikenal dengan nama Iberia atau Asbania. Kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalus. Dalam bahasa Arab, kata "Al-Andalus" diartikan sebagai "menjadi hijau saat akhir musim panas."
Dalam perjalanan penaklukan Andalusia, memunculkan tiga nama pahlawan Islam yang dapat disebut-sebut paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Sebelum dikalahkan dan kemudian berada dibawah kekuasaan Islam, banyak kawasan Andalusia yang menjadi kantong-kantong yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik.
.
Dinamika Kejayaan Islam di Andalusia
Dalam sejarah peradaban Islam, Andalusia adalah salah satu pusat kekuasaan Islam yang terbesar di benua Eropa itu.
Kaum muslim menaklukkan Andalusia yang dikuasai orang-orang Goth pada tahun 92 Hijriyah (711 M). Kaum muslim berkuasa di Andalusia selama hampir 8 abad melahirkan sebuah peradaban Islam ilmiah yang gemilang. Meskipun masa kejayaan Andalusia sudah berakhir, namun warisan budayanya masih bertahan hingga hari ini. Masa kejayaan yang bertahan lebih dari 7 abad lamanya itu belum pernah tertandingi oleh negeri manapun hingga saat ini.
Kejayaan Andalusia tak lepas dari peran khalifah Bani Umayah, Abdul Rahman I (756-788 M). Ia adalah pemimpin yang terpelajar, berminat di bidang sastra bahkan ia membangun tempat khusus yang diberi nama "Darul Madaniyat" untuk pengembangan kesusasteraan kalangan wanita Andalusia.
Setelah masa Abdul Rahman I, penggantinya juga adalah seorang khalifah yang juga memberi perhatian istimewa dalam bidang ilmu pengetahuan. Jasanya yang terbesar adalah penyebaran bahasa Arab di seluruh semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Ia yang menjadikan bahasa Arab sebagai 'lingua franca' dalam hubungan antar bangsa pada masa-masa selanjutnya.
Pada saat itu, Andalusia merupakan sebuah pusat pendidikan. Kota-kota seperti Toledo, Sevilla, Granada, dan Cordoba adalah mengalami kemajuan pesat dalam kejayaan Islam di Andalusia sepanjang lima abad.
Banyak kota di Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban yang membuat banyak pelajar-pelajar Eropa menimba ilmu di sana. Pada masa itu, ilmuwan muslim di Andalusia sudah mengetahui bahwa matahari sebagai pusat tata surya, di masa yang sama bangsa Eropa masih memperdebatkan teori geosentris ptolemeus (bumi sebagai pusat edar).
Warisan Peradaban Islam di Cordoba
Sebagai kota yang gemilang, Cordoba saat ini masih menyimpan jejak kejayaan Islam di masa lalu. Di antaranya adalah Masjid Jami' Cordoba. Masjid Jami' Cordoba merupa-kan salah satu unsur peradaban Cordoba yang sangat penting dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Masjid ini adalah masjid yang paling masyhur di Andalusia, bahkan di seluruh Eropa. (Bahkan keberadaannya masih menjadi perebutan antara kaum Kristiani dan umat Muslim di Spanyol, hingga saat ini.
Masjid ini mulai dibangun Abdurrahman ad-Dakhil tahun 170 Hijriyah (786 M), kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan khalifah-khalifah setelahnya. Setiap khalifah memberikan sesuatu yang baru kepada masjid tersebut, dengan memper-luas dan memperindahnya agar menjadi masjid yang paling indah di Cordoba dan masjid terbesar di dunia saat itu.
Peran Masjid Cordoba tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun masjid ini juga berfungsi sebagai perguruan tinggi, bahkan salah satu yang paling masyhur di dunia dan markas ilmu pengetahuan di Eropa. Para pencari ilmu datang dari berbagai negeri, baik dari Timur maupun dari Barat.
Dari perguruan tinggi ini, pemikiran-pemikiran Arab ditransfer ke Eropa selama berabad-abad. Berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi dipelajari di sini dan para pengajarnya merupakan orang-orang yang sangat kompeten di masing-masing cabang ilmu.
Pada masa Islam, berbagai sarana keilmuan telah dibangun, gedung-gedung sekolah, universitas, perpustakaan dengan penerjemahan buku-buku yang aktif, masjid dan taman yang indah untuk para pelajar berdiskusi, institusi keilmuan bagi masyarakat kurang mampu dan menjadikan Cordoba pusat ilmu pengetahuan.
Pemikir-pemikir muslim di sana mendorong peradaban Andalusia jauh lebih maju dibanding negara-negara lain. Keberhasilan ilmu pengetahuan itu terealisasi dalam pembangunan dan teknologi yang sangat memberi manfaat dan menyebar secara luas.
Mengutip Anwar G Chejne, Salmah menggambarkan keindahan Cordoba. Pada abad ke-10 Masehi, peradaban Cordoba jauh menandingi Constantinopel, dengan rumah sakit, universitas, penerbitan buku, industri kertas, masjid dan istana yang megah, perpustakaan yang lengkap, kolam mandi dan taman persiaran yang indah.
Di kota Cordoba saja terdapat 70 buah perpustakaan yang dibangun di setiap wilayah, yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat. Yang pada akhirnya, memunculkan banyak ilmuwan saat itu, seperti Al-Khwarizmi, ahli matematika, ia orang pertama yang menulis buku berhitung dan aljabar, Al-Kindi, ahli kedokteran penulis buku ilmu mata; Ar-Razi atau Rhazez penulis buku kedokteran, Abu Al-Qasim al-Zahrawi ahli bedah, Ibnu Nafis penemu sirkulasi darah, dan Ibnu Sina)
Termasuk juga, para sastrawan Ibn Abd Rabbih, Ibn Bassam, Ibn Khaqan. Ahli hukum, politik, ekonomi, astronomi Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash, ia penentu gerhana dan pembuat teropong bintang modern. Ahli hadits dan fikih; Ibnu Abdil Barr, Qadi Iyad. Sejarawan, Ibn Khaldun penemu teori sejarah. Ahli Kelautan, Ibnu Majid. Bahkan penjelajah Andalusia telah menginjakkan kakinya di benua Amerika sejak 5 abad sebelum Christopher Colombus.
.
Pengaruh Islam Dalam Renaisans di Eropa
Pada masa itu, sebagian Eropa masih berada dalam masa sulit tidak banyak kemajuan yang berarti, daerah Eropa yang berada di bawah kekhalifahan Islam mengalami perkembangan cukup berarti.
Dan ketika renaissance terjadi di kawasan Eropa, bukan berarti kelahiran kembali dari kehampaan, karena mereka hanya mengadopsi kemajuan teknologi dari Andalusia. Termasuk di Italia, karya seni dan ukirannya banyak dipengaruhi oleh seniman-seniman muslim asal Spanyol, mereka hanya melakukan sedikit memodifikasi untuk menciptakan keunikan dengan gaya mereka sendiri.
Jadi tentu saja renaissance ini sebagian besar karena pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dari umat Muslim Spanyol. Ketika tentara Salib tidak berhasil menaklukkan kekhalifahan Islam, mereka kembali dengan membawa ilmu pengetahuan dari umat Muslim. Eropa dengan tentara salibnya merubah Eropa dari kegelapan.
Ada informasi medis tentang pembedahan yang dibawa pulang, buku-buku dibawa pulang, bahasa dibawa pulang, segalanya dibawa pulang. Jadi tentara Salib benar-benar mengubah Eropa dalam suatu cara yang tak pernah terlihat sebelumnya.
Eropa berada di periode yang paling produktif dan kreatif sepanjang sejarahnya. Hal-hal seperti katedral gotik, universitas, pengadilan, dan perundang-undangan, semuanya dibangun. Hingga pada akhirnya masa kegelapan yang berlangsung lama di Eropa, mengalami perubahan yang luar biasa dalam pencapaian di semua lini kebudayaan.
jumrahonline
Pada masa Khalifah al-Walid, Hasan ibn Nu'man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukkan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di beberapa kawasan pegunungan.
Penaklukan wilayah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi Khalifah Bani Umayah berproses selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid).
Islam pertama kali masuk ke Andalusia pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Sebelum datangnya Islam, negeri ini dikenal dengan nama Iberia atau Asbania. Kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalus. Dalam bahasa Arab, kata "Al-Andalus" diartikan sebagai "menjadi hijau saat akhir musim panas."
Dalam perjalanan penaklukan Andalusia, memunculkan tiga nama pahlawan Islam yang dapat disebut-sebut paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.
Sebelum dikalahkan dan kemudian berada dibawah kekuasaan Islam, banyak kawasan Andalusia yang menjadi kantong-kantong yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik.
.
Dinamika Kejayaan Islam di Andalusia
Dalam sejarah peradaban Islam, Andalusia adalah salah satu pusat kekuasaan Islam yang terbesar di benua Eropa itu.
Kaum muslim menaklukkan Andalusia yang dikuasai orang-orang Goth pada tahun 92 Hijriyah (711 M). Kaum muslim berkuasa di Andalusia selama hampir 8 abad melahirkan sebuah peradaban Islam ilmiah yang gemilang. Meskipun masa kejayaan Andalusia sudah berakhir, namun warisan budayanya masih bertahan hingga hari ini. Masa kejayaan yang bertahan lebih dari 7 abad lamanya itu belum pernah tertandingi oleh negeri manapun hingga saat ini.
Kejayaan Andalusia tak lepas dari peran khalifah Bani Umayah, Abdul Rahman I (756-788 M). Ia adalah pemimpin yang terpelajar, berminat di bidang sastra bahkan ia membangun tempat khusus yang diberi nama "Darul Madaniyat" untuk pengembangan kesusasteraan kalangan wanita Andalusia.
Setelah masa Abdul Rahman I, penggantinya juga adalah seorang khalifah yang juga memberi perhatian istimewa dalam bidang ilmu pengetahuan. Jasanya yang terbesar adalah penyebaran bahasa Arab di seluruh semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Ia yang menjadikan bahasa Arab sebagai 'lingua franca' dalam hubungan antar bangsa pada masa-masa selanjutnya.
Pada saat itu, Andalusia merupakan sebuah pusat pendidikan. Kota-kota seperti Toledo, Sevilla, Granada, dan Cordoba adalah mengalami kemajuan pesat dalam kejayaan Islam di Andalusia sepanjang lima abad.
Banyak kota di Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban yang membuat banyak pelajar-pelajar Eropa menimba ilmu di sana. Pada masa itu, ilmuwan muslim di Andalusia sudah mengetahui bahwa matahari sebagai pusat tata surya, di masa yang sama bangsa Eropa masih memperdebatkan teori geosentris ptolemeus (bumi sebagai pusat edar).
Warisan Peradaban Islam di Cordoba
Sebagai kota yang gemilang, Cordoba saat ini masih menyimpan jejak kejayaan Islam di masa lalu. Di antaranya adalah Masjid Jami' Cordoba. Masjid Jami' Cordoba merupa-kan salah satu unsur peradaban Cordoba yang sangat penting dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Masjid ini adalah masjid yang paling masyhur di Andalusia, bahkan di seluruh Eropa. (Bahkan keberadaannya masih menjadi perebutan antara kaum Kristiani dan umat Muslim di Spanyol, hingga saat ini.
Masjid ini mulai dibangun Abdurrahman ad-Dakhil tahun 170 Hijriyah (786 M), kemudian diteruskan oleh putranya Hisyam dan khalifah-khalifah setelahnya. Setiap khalifah memberikan sesuatu yang baru kepada masjid tersebut, dengan memper-luas dan memperindahnya agar menjadi masjid yang paling indah di Cordoba dan masjid terbesar di dunia saat itu.
Peran Masjid Cordoba tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun masjid ini juga berfungsi sebagai perguruan tinggi, bahkan salah satu yang paling masyhur di dunia dan markas ilmu pengetahuan di Eropa. Para pencari ilmu datang dari berbagai negeri, baik dari Timur maupun dari Barat.
Dari perguruan tinggi ini, pemikiran-pemikiran Arab ditransfer ke Eropa selama berabad-abad. Berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi dipelajari di sini dan para pengajarnya merupakan orang-orang yang sangat kompeten di masing-masing cabang ilmu.
Pada masa Islam, berbagai sarana keilmuan telah dibangun, gedung-gedung sekolah, universitas, perpustakaan dengan penerjemahan buku-buku yang aktif, masjid dan taman yang indah untuk para pelajar berdiskusi, institusi keilmuan bagi masyarakat kurang mampu dan menjadikan Cordoba pusat ilmu pengetahuan.
Pemikir-pemikir muslim di sana mendorong peradaban Andalusia jauh lebih maju dibanding negara-negara lain. Keberhasilan ilmu pengetahuan itu terealisasi dalam pembangunan dan teknologi yang sangat memberi manfaat dan menyebar secara luas.
Mengutip Anwar G Chejne, Salmah menggambarkan keindahan Cordoba. Pada abad ke-10 Masehi, peradaban Cordoba jauh menandingi Constantinopel, dengan rumah sakit, universitas, penerbitan buku, industri kertas, masjid dan istana yang megah, perpustakaan yang lengkap, kolam mandi dan taman persiaran yang indah.
Di kota Cordoba saja terdapat 70 buah perpustakaan yang dibangun di setiap wilayah, yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat. Yang pada akhirnya, memunculkan banyak ilmuwan saat itu, seperti Al-Khwarizmi, ahli matematika, ia orang pertama yang menulis buku berhitung dan aljabar, Al-Kindi, ahli kedokteran penulis buku ilmu mata; Ar-Razi atau Rhazez penulis buku kedokteran, Abu Al-Qasim al-Zahrawi ahli bedah, Ibnu Nafis penemu sirkulasi darah, dan Ibnu Sina)
Termasuk juga, para sastrawan Ibn Abd Rabbih, Ibn Bassam, Ibn Khaqan. Ahli hukum, politik, ekonomi, astronomi Ibrahim ibn Yahya Al-Naqqash, ia penentu gerhana dan pembuat teropong bintang modern. Ahli hadits dan fikih; Ibnu Abdil Barr, Qadi Iyad. Sejarawan, Ibn Khaldun penemu teori sejarah. Ahli Kelautan, Ibnu Majid. Bahkan penjelajah Andalusia telah menginjakkan kakinya di benua Amerika sejak 5 abad sebelum Christopher Colombus.
.
Pengaruh Islam Dalam Renaisans di Eropa
Pada masa itu, sebagian Eropa masih berada dalam masa sulit tidak banyak kemajuan yang berarti, daerah Eropa yang berada di bawah kekhalifahan Islam mengalami perkembangan cukup berarti.
Dan ketika renaissance terjadi di kawasan Eropa, bukan berarti kelahiran kembali dari kehampaan, karena mereka hanya mengadopsi kemajuan teknologi dari Andalusia. Termasuk di Italia, karya seni dan ukirannya banyak dipengaruhi oleh seniman-seniman muslim asal Spanyol, mereka hanya melakukan sedikit memodifikasi untuk menciptakan keunikan dengan gaya mereka sendiri.
Jadi tentu saja renaissance ini sebagian besar karena pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dari umat Muslim Spanyol. Ketika tentara Salib tidak berhasil menaklukkan kekhalifahan Islam, mereka kembali dengan membawa ilmu pengetahuan dari umat Muslim. Eropa dengan tentara salibnya merubah Eropa dari kegelapan.
Ada informasi medis tentang pembedahan yang dibawa pulang, buku-buku dibawa pulang, bahasa dibawa pulang, segalanya dibawa pulang. Jadi tentara Salib benar-benar mengubah Eropa dalam suatu cara yang tak pernah terlihat sebelumnya.
Eropa berada di periode yang paling produktif dan kreatif sepanjang sejarahnya. Hal-hal seperti katedral gotik, universitas, pengadilan, dan perundang-undangan, semuanya dibangun. Hingga pada akhirnya masa kegelapan yang berlangsung lama di Eropa, mengalami perubahan yang luar biasa dalam pencapaian di semua lini kebudayaan.
jumrahonline
Tuesday, November 3, 2015
by Unknown
8:08:00 AM
Penyebaran Islam pada Abad pertengahan lebih terfokus pada tiga kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi, dan kerajaan Mughal.
Kerajaan Turki Usmani
Usmani adalah sebuah kesultanan yang berpusat di Istambul, Turki. Kerajaan Usmani merupakan salahsatu dari tiga kerajaan besar islam pada masa pertengahan, selain syafawi dan Mughal.
Dinasty Usmani didirikan oleh Usman, putra Ertogol dari kabilah Oghuz di daerah mongol. Mereka datang ke Turki untuk meminta perlindungan kepada penguasa Bani Saljuk dari serangan orang-orang Mongol. Mereka juga membantu Sultan Alauddin II berperang melawan Byzantium. Usman lalu percaya menjadikan panglima perang Dinasty Saljuk, menggantikan ayahnya. Setelah Sultan Alauddin wafat, Usman mengambil alih kekuasaan, sejak itulah berdiri Kerajaan Usmani.
Usman mengumumkan dirinya sebagai "Padisyah Al-Usman" (Raja keluarga Usman). Wilayah kerajaan Usmani semakin meluas dengan menaklukan beberapa wilayah, seperti Azmir (1327 M), Tharasyanli (1330 M), Iskandar (1338 M), Ankara (1354M), dan Gallipoli (1356 M).
Kerajaan Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad al-fatih. Pada masa ini pula dapat mengalahkan wilayah Bizantium dan menaklukan konstantinopel (1453 M).
Puncak peradaban Dinasty Usmani tidak dapat dilepaskan dari hasil penaklukan konstantinopel. Sebagai ibu kota, disitulah berkembang peradaban Dinasty Usmani yang merupakan perpaduan dari berbagai macam peradaban. Dynasty usmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia.
Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan Dinasty Usman dipengaruhi oleh Bizantium.
Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama mereka masuk Islam, bangsa arab telah menuntun mereka dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Oleh karena itu, huruf dijadikan huruf resmi kerajaan.
Pada masa ini terjadi beragam kemajuan dalam berbagai bidang, antara lain :
Bidang Pemerintahan dan Militer
Raja-raja dinasti Usmani bergelar sultan dan khalifah seklaigus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, khalifah berkuasa di bidang agama/spiritual. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu seorang Mufti atau yang dikenal dengan Syaikhul Islam yang mewakili Sultan/Khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya dan shadrul A’azam yang mewakili kepala Negara.
Masa ini telah memiliki system pemerintahan yang baik. Kekuatan militernyapun dapat diandalkan. Perubahan mendasar yang dilakukan oleh Orkhan adalah dalam menata militer telah mampu mendongkrak kekuatan militer menjadi mesin perang yang andal. Pada masa ini muncul kelompok elite militer yang disebut Janissary atau Inkisyariyah yang merupakan kekuatan penghancur dan penakluk negeri-negeri nonmuslim.
Bidang pengetahuan dan Budaya
Syair merupakan ekspresi utama kesenian raja. Syair istana didasarkan pada aruz. Aruz adalah sebuah irama persajakan dari irama syair Aram, yang secara tegas ditekankan pada peristilahan Arab dan Persia. Beberapa bentuk kesenian yang utama adalah kesenian yang sebelumnya telah dikembangkan dalam syair-syair istana Persia, seperti Qasida, gazal, Masnawi dan Ruba’i.
Dalam rentangan abad keenam belas, ambisi Usmani diekspresikan dalam komposisi berbagai sejarah dunia. Karya Mustafa ‘Ali (1541 – 1599 M, kunh al-Akhbar memuat catatan sejarah dunia dari adam sampai yesus, sejarah Islam diakhiri dengan sejarah usmani. Pada Abad ketujuh belas, saat itu sejarawan dipekerjakan untuk mencatat peristiwa-peritiwa sehari-hari di Istana.
Bidang pendidikan
Dinasty Usmani melakukan pengorganisasian pada system pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah usmani pertama didirikan di Iznik pada Tahun 1331 M. sejumlah ulama didatangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa territorial yang baru.
Beberapa sultan masa belakangan juga mendirikan perguruan Bursa, Edirne dan Istambul.
Pada akhir abad ke-15 beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah hierarki yang menetukan jenjang karir bagi promosi-promosi ulama-ulama besar.
Bidang Agama
Kerajaan Turki Usmani mempunyai beberapa peranan yang sangat stategis dan penting sehingga dalam masalah pemerintahanpun diperlukan fatwa dan mufti. Tanpa adanya fatwa, hukum dalam bidang keagamaan dan kerajaan tidak berjalan. Pada masa ini muncul dua aliran tarekat yaitu : Bektasyi dan Maulawiyah. Aliran tarekat bertasyi banyak berpengaruh dilimngkungan militer, sedangkan tarekat Maulawiyah banyak berpengaruh di lingkungan pejabat pemerintahan.
.
Kerajaan Safawi (1501–1732 M)
Safawi adalah sebuah kerajaan islam yang pernah berdiri di Persia (Iran sekarang). Kerajaan ini didirikan oleh Syah Ismail I pada Tahun 907 H (1501 M) di Tabriz.
Safawi berasal dari gerkakan tarekat bernama safawiyah yang kemudian berubah menjadi suatu gerakan politik. Gerakan tarekat itu dipimpin oleh Syeck Safiuddin Ishaq dari keturunan Imam Syiah yang ketujuh bernama Musa Al-Kazim.
Gerakan tarekat ini militan, sehingga pada akhirnya memasuki wilayah politik dan pemerintahan.
Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Syah Abbas I (1588–1629 M). Pada masa ini kerajaan safawi bukan hanya mampu meredam konflik internal di dalam negeri dan merebut wilayah yang melepaskan diri, tetapi juga mampu melebarkan wilayahnya sampai ke Tabriz, sirwan dan kepulauan harmuz, bahkan melebar ke pelabuhan Bandar Abbas.
Untuk mewujudkan stabilitas politik, syah Abbas I berusaha melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dukungan kekuatan militer Qizilbasy. Sebagai gantinya, ia membentuk kekuatan militer yang terdiri atas budak kaukasus dan Georgia. Strategi ini telah menunjukkan hasilnya sehingga pada tahun 1598 M mengusir kekuatan Uzbek di Khirazan.
Kemajuan pada masa pemerintahan Safawi
Bidang Pemerintahan dan politik
Secara administratif, struktur organisasi pemerintahan kerajaan safawi dibagi secara horizontal dan vertical. Secara horizontal, pembagian tersebut didasarkan pada garis kesukuan atau kedaerahan. Sedangkan secara vertical mencakup dua jenis, yaitu istana (dargah) dan sekretariat Negara (diwan).
Aktivitas penyelenggaraan Negara dipercayakan kepada para Amir (yang terdiri atas kepala suku) tingkat atas wazir (menteri) yang tergabung dalam suatu dewan (jangi). Disamping itu ada lembaga lain yang tercakup dalam dewan tersebut (Majelis Nivis) yang terdiri atas sejarawan istana, secretariat pribadi syah, dan kepala Intelijen.
Bidang Ekonomi
Untuk kepentingan bidang ekonomi Syah Abbas I melakukan pemusatan system pertanian, yaitu dengan upaya memperbanyak pengalihan tanah Negara menjadi tanah raja.
Situasi dalam negeri yang terkendali membuat masyarakat safawi menjadi tenang dan giat berusaha, sehingga pertumbuhan ekonominya semakin baik.
Dengan adanya pelabuhan Bandae Abbas, perdagangan semakin maju. Selain itu, safawi juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama di daerah bulan sabit yang subur.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Untuk lebih memperlancar sosialisasi dan memapankan ajaran syiah, syah Abbas I mendirikan lembaga pendidikan syiah, yaitu sekolah teologi. Perolehan Negara dari sektor pertanian yang terus bertambah telah memungkinkan syah Abbas I mampu membangun dan membiayai penerapan system pendidikan syiah.
Pada masa ini juga banyak melahirkan ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu sehingga dapat menambah kahsanah ilmu pengetahuan, misalnya Bahauddin Muhammad bin Husain al-Amili al-Jubai, Muhammad Baqir Astaradi, sadruddin Muhammad bin Ibrahim syirazi (Mulla shadra). Dan Muhhamad Baqir majilsi
Bidang Pembangunan dan seni
Banyak dibangun gedung-gedung yang megah dan indah, baik itu bangunan kantor, masjid, rumah sakit, maupun jembatan raksasa, dengan gaya arsitektur yang indah. Dalam bidang seni misalnya terlihat dalam kegiatan kerajinan tangan, keramik, karpet dan seni lukis
Kerajaan Mughal India (1526M–1858 M)
Kerajaan Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482 -1530 M). secara geneologis khan (pihak ibu). Ekspansinya ke India dimulai dengan menundukkan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan bantuan alam Khan dan gubernur Lahore. Tahun 1525 M ia berhasil menguasai Punjab dan meneruskannya ke Delhi tahun 1526 M. sejak itu Babur dapat menguasai India dan mendirikan dinasti mughal yang beribu kota di Delhi.
Babur berkuasa selama 30 tahun, dan setelah wafat ia digantikan dengan putranya yang bernama Humayun selama 9 tahun. Pada masa ini kondisi tidak aman dengan banyaknya muncul pemeberontakan. Hingga akhirnya dia meninggal dunia dan digantika anaknya yang masih berusia 14 tahun, yaitu Akbar. Karena ia masih muda, pemerintahan diserahkan urusannya kepada Bairam Khan.
Pada awal pemerintahannya terjadi berbagai pergolakan dalam negeri, namun semua itu dapat diatasi termasuk penyerangan dari berbagai Negara yang ingin melepaskan diri. Ketika akbar sudah dewasa, dia memperluas ekspansi untuk menaklukan daerah lainnya dan berhasil mengausai daerah chundar, ghond, orisa dan Asingah. Selama pemerintahannya, kerajaan Mughal telah banyak memberikan konstribusi yang cukup besar bagi abad pertengahan antara lain :
Bidang Politik dan Militer
Sistem yang sangat menonjol pada saat itu adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal. System ini sangat tepat, sebab mayoritas masyarakat india beragama hindu, sedangkan pemerintahan Mughal beragama Islam. Disisi lain terdapat juga rasa tau etnis di India. Lembaga yang merupakan produk dari system ini adalah Din-I-llahi dan Mansabdhari.
Dibidang Militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat, mereka terdiri atas pasukan gajah, berkuda dan meriam. Wilayahnya dibagi dalam system distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh Sipar Salar dan sub distrik dikepalai oleh Faudjar. Dengan system pasukan Mughal berhasil menaklukan daerah-daerah sekitarnya.
Bidang Ekonomi
Dengan memajukan pertanian, terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu rempah-rempah, tembakau dan kapas. Pemerintah membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah pertanian. Wilayah terkecil disebut dengan deh, dan beberapa deh tergabung dalam bergana (kawedanan). Setiap komunitas petani dipimpin oleh mukaddam. Melalui mukaddam, pemerintah berhubungan dengan petani.
Selain pertanian pemerintah juga memajukan industri tenun. Hasil industry ini banyak di eksport keluar negeri seperti Eropa, Arabia, Asia Tenggara dll. Pada masa Jahangir (penguasa Mughal keempat), banyak investor asing yang diizinkan menanam investasinya, seperti mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surath.
Bidang seni dan Arsitektur
Karya seni dan arsitektur Mugal sangat terkenal dan bisa dinikmati hingga saat ini. Ciri yang menonjol dari arsitektur mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan yang menunjukkan cirri antara lain : benteng merah, istana-istana, makam kerajaan, dan yang paling mengagumkan adalah taj mahal di Aghra.
Istana ini dibangun oleh Syah Jehan (penguasa Mughal V) khusus untuk istrinya Noor Mahal yang cantik jelita. Bangunan lain yang bermotif sama adalah Masjid raya Delhi yang berlapis marmer dan sebuah Istana di Lahore. Dalam bidang sastra banyak juga karya sastra yang menonjol. Seperti : banyak karya sastra yang digubah dari bahasa Persia ke bahasa India.
Pada masa Akbar (penguasa Mughal III) berkembang bahasa Urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India dan Pakistan hingga sekarang. Sastrawan Mughal yang terkenal itu adalah Malik Muhammad Jayashi dengan karya monumentalnya Padmavat, sebuah karya Alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia. Sastrawan lain adalah Abu Fadhl yang juga sejarawan. Karyanya berjudul Akbar nama dan Ain e-Akbari, yang mengupas sejarah Mughal berdasarkan figure pemimpinnya.
Bidang Ilmu pengetahuan
Banyak ilmuwan itu yang datang ke India untuk menuntut ilmu pengetahuan, bahkan istana Mughal itu menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini didukung oleh penguasa dan bangsawan serta ulama Aurangzeb (Penguasa Mughal keenan) Mislanya : memberikan sejumlah uang dan tanah dalam jumlah yang besar untuk membangun pusat pendidikan di Lucknow.
Pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola oleh seorang guru agama. Pada masa Syah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan fatwa I- alamgri.
A. Kemunduran Dinasti Bani Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung cukup lama mulai dari tahun (132 H s/d 656 H) atau (750 - 1258 M), mengalami kemunduran dan kehancuran pada 1258 M, akibat serangan brutal yang dilakukan oleh tentara Hulagu Khan. Adapun faktor –faktor penyebab kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah adalah :
I. Disintegrasi Politik
Disintegrasi politik sudah terjadi sejak Dinasti Bani Umayyah dan kerajaan – kerajaan islam lainnya. Pada Dinasti Bani Umayyah puncak disintegrasi terjadi ketika para khalifah tidak lagi memiliki kekuatan politik untuk menekan gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh lawan poitik yang tidak menyukai kepemimpinan para khalifah tersebut.
Diakhir kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah para khalifahnya tidak memiliki kekuatan dan hanya sebagai symbol kekuasaan saja. Mereka menjadi boneka para penguasa yang menguasai roda pemerintahan saat itu, seperti ; penguasa Dinasti Bani Buwaihiyah. Bani Saljuk dan para perwira tinggi Turki lainnya. Banyak daerah yang mencoba melepaskan diri dari pusat kekuasaan di Baghdad. Disintegrasi politik muncul dalam beberapa bentuk:
a. Pemberontakan
Sebagian pemberontakan itu dapat diatasi, sehingga tidak menimbulkan kegoncangan social politik dan ekonomi, sebagian lagi tidak dapat diatasi seperti :
Pemberontakan Kaum Zanj
Ini berasal dari kelompok Syi’ah. Mereka tidak dapat menikmati hasil perjuangan yang telah dilakukan bersama Abul Abbas dan Bani Abbas. Mereka disingkirkan dan tidak lagi diajak bermain didalam prosespengembangan kekuasaan. Mereka kecewa dengan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah Bani Abbas.
Akhirnya mereka membentuk oposisi (perlawanan) untuk memusuhi para penguasa dan pendukung kekuasaan Bani Abbas.
Pemberontakan ini terjadi pada tahun 869 M. Diakhir masa pemerintahan Al-Mu’taz dibawah pimpinan Ali bin Muhammad dan berakhir pada tahun 893 M pada masa pemerintahan khalifih Al-Muwaffaq.
Gerakan Kelompok Qaramithah
Gerakan ini dilakukan untuk menentang kekuasaan khalifah Al-Mu’tamid (256-279 H/870-892M). pimpinannya adalah Hamdan Qarmath dari golongan Syi’ah Ismailiyah. Pada tahun 899 M kaum Qaramithah berhasil mendirikan sebuah wilayah merdeka di teluk Persi kemudian dijadikan sebagai basis kegiatan mereka untuk menentang kekuasaan Bani Abbas.
Sekitar tahun 902 M pemberontakan yang dipimpin oleh Abul Fawaris berhasil memasuki wilayah Syiria dan Palestina. Akhirnya terhenti ketika ingin melakukan penjarahan ke wilayah Kufah. Abul Fawaris, pimpinan pemberontakan ini berhasil ditawan dan kemudian dihukum mati.
Gerakan Kelompok Assasins
Kelompok Assasins ini dapat dikategorikan sebagai kelompok separatis atau sempalan yang melanjutkan tujuan dari gerakan Qaramithah. Kelompok ini secara ideologis berakhiran Syi’ah sama seperti gerakan Qaramithah. Gerakan ini dipimpin oleh Hasan bin sabah (w.1124 M ). Basis gerakan kelompok ini berada dikota Alamut, suatu tempat yang terletak disebelah selatan laut Kaspia.
Kelompok ini melancarkan gerakan karena mereka kecewa dengan jalannya pemerintahan Baghdad karena tampuk pemerintahan sudah tidak lagi dipegang oleh orang –orang yang layak menjadi pemimpin. Pemerintahan tidak berjalan dengan baik, mereka tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip pemerintahan yang benar. Pemborosan keuangan Negara oleh para pembesar negeri menyebabkan perekonomian umat islam merosot tajam.
Selain itu mereka juga kecewa karena kelompok Syi’ah tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Gerakan ini tidak segan-segan melakukan kekerasan. Seringkali dilakukan dengan menghabisi nyawa lawan politiknya. Yang menjadi sasaran mereka adalah perdana menteri Nidzamul Muluk, kepala pemerintahan Bani Saljuk yang menguasai Baghdad:
Perebutan Kekuasaan
Sejak masa awal pemerintahan dinasti Abbasiyah, terlihat ada indikasi adanya perbutan kekuasaan didalam keluarga khalifah. Diantara penyebabnya adalah kurang tegasnya para khalifah dalam menentukan putra mahkota.
1) Kedudukan khalifah yang lemah
Wibawa khalifah Bani Abbas memudar sejak masa Al-Watsiq dan sesudahnya. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mempunyai kemampuan cukup untuk memimpin kerajaan.
Munculnya kerajaan-kerajaan kecil di timur dan di barat Baghdad. Luasnya wilayah Islam pada masa Abbasiyah menyebabkan pemerintah tidak dapat melakukan kontrol dengan baik terhadap wilayah-wilayah tersebut. Peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pusat untuk melepaskan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
2) Krisis ekonomi
Pergolakan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah menyebabkan banyak pendapatan Negara yang terhambat masuk. Terhambatnya pemasukan kas negara dari berbagai pajak ini disebabkan banyak kelompok yang enggan membayar. Selain itu krisis ekonomi juga disebabkan oleh membengkaknya jumlah pengeluaran negara yang dipergunakan untuk kepentingan kelompok istana.
3) Ketergantungan pada tentara bayaran
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah sifat ketergantungan yang sangat tinggi kepada tentara bayaran. Sebagai konsekuensi dari pengangkatan tentara pribadi dan professional, para khalifah harus memberi gaji atau bayaran yang sesuai dengan jabatan dan pekerjaan yang mereka lakukan.
Keruntuhan dan Kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah
Setelah mengalami perjalanan panjang, akhirnya dinasti Bani Abbasiyah mengalami kemunduran. Jatuhnya Kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol, bukan saja mengakhiri khalifah Abbasiyah juga merupakan awal dari kemunduran politik dan kehancuran peradaban Islam. Dengan kekuatan 200.000 personel militer, Hulagu Khan memasuki pintu kota Baghdad pada tahun 656 H (1258 M). Kekuatan itu tidak dapat dibendung oleh khalifah Al-Mu’tashim.
Hancurnya kota Baghdad dan tewasnya Khalifah Al-Musta’shim menghakhiri krkuasaan kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini yang semula sangat kuat secera perlhan melemah dan akhirnya mengalamai masa kehancuran ditangan orang yang tidak memiliki peradaban. Khulagu Khan dan tentaranya melakukan pebantaian secara biadab terhadap umat Islam dan masyarakat kota Baghdad pada umumnya. Masa ini dalam sejarah Islam dikenal dengan zaman keterpurukan umat Islam dan kehancuran peradaban Islam.
Meskipun pada periode ini dikenal dengan masa kemunduran, khususnya peradaban Islam yang dikembangkan oleh Bani Abbas, ternyata dibeberapa wilayah seperti Persia, India dan Turki, terdapat perkembangan perdabaan Islam yang sangan signifikan menjelang abad ke 19 M, perkembangan peradaban Islam dapat dilihat dari berbagai usaha yang dilakukan oleh para penguasa Dinasti Safawiyah di Persia, Dinasti Mughal di India, dan Dinasti Usmaniyah di Turki.
a. Kemunduran Turki Usmani.
Fase kemunduran Turki Usmani secara perlahan semenjak kematian Sulaiman I Al-Qanuni, sehingga Usmani masih mampu bertahan selama ± 3 Abad. Fase kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang menyebabkan sejumlah sejumlah kekalahan dalam menghadapi sejumlah peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Diantara faktor penyebab kemunduran dinasti Turki Usmani adalah sebagai berikut:
- Luasnya wilayah kekuasaan Turki. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan sementara penataan system dan tata pemerintahan terabaikan.
- Pemberontakan Jennisary. Tokoh-tokoh Jennisary terlibat perselisihan dengan pihak penguasa sehingga terjadi beberapa kali pemberontakan.
- Penguasa yang tidak cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulaiman Al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya.
- Merosotnya perekonomian negara akibat sejumlah peperangan.
- Stagnasui bidang ilmu dan teknologi.
- Tumbuhnya gerakan nasionalisme.
b. Kemunduran Safawi
Sepeninggal Abbas I pada tahun 1628 M, kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran yang secara berangsur-angsur dan kemudian hancur. Hal itu tejadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah Abbas I merupakan penguasa yang lemah, sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan kerajaan Safawiyah.
Ada beberapa faktor, selain ketidakcakapan sejumlah raja:
a. Konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
b. Pasukan budak yang dibentuk oleh Abbas I memiliki semangat perjuangan yang tinggi.
c. Kemunduran Mughal di India
Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya kemunduran dan kehancuarn dinasti Mughal di India. Diantaranya adalah konflik internal di kalangan istana, serangan bangsa Hindu, serangan bangsa Persia dan masuknya unsur asing seperti bangsa Inggris yang menguasai sektor ekonomi dengan mendirikan IEC (the East India Company).
Meneladani Perkembangan Islam Periode Pertengahan
Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau merupakan peristiwa yang unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya, anggap saja masa silam itu “kuburan”.
Peristiwanya mungkin tidak akan terulang kembali, akan tetapi pola-polanya kan tetap mempengaruhi kehidupan kita saai ini. Apa yang kita lakukan saat ini akan selalu terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang ada dimasa lalu. Sebagai contoh cara kita bergaul, berbicara, memilih, bahkan belajar juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita pada masa lalu.
Akan tetapi hal ini bukan menjadikan kita harus terpancang dengan keadaan masa lalu. Sebab, sejarah mempunyai dua sisi mata pedang yang harus diperhatikan. Satu sisi dia bisa menjadi alat yang ampuh untuk membela diri, artinya dengan melihat sejarah gemilang di masa lalu akan memacu kita untuk menjalani hidup lebih baik. Akan tetapi disisi lain, dia juga bisa melukai diri sendiri. Sebab, dengan mengenang sejarah gemilang kita akan terjerumus pada romantisme empiris tanpa bisa berbuat apapun.
Kejayaan Islam masa lalu bukanlah sebuah album foto yang hanya selesai dengan mengenangnya. Akan tetapi, kejayaan Islam masa lalu adalah cambuk penyemangat agar kita terpacu dan mampu untuk mendudukkan Islam sedabagi agama pembaru yang menbawa kemaslahatan bagi semua pihak, seperti yang terjadi masa lalu.
Pada pembahasan di atas, kalian telah melihat berbagai macam perkembangan yang terjadi pada masa pertengahan, khususnya pada tiga kerajaan besar. Setiap kerajaan tersebut memiliki karakter yang menjadikannya besar dan mampu mengembangkan Islam secara proporsional. Melihat hal tersebut, apa yang bisa diambil untuk dijadikan pelajaran saat ini? Apakah pembahasan diatas hanya sekedar informasi tanpa aksi?
Dari pembahasan di atas, kita bisa mengambil ibrah manfaat yang akan diterapkan untuk kehidupan saat ini.
Semangat yang dimiliki oleh tiga kerajaan tersebut patut ditiru. Walaupun dengan kekuatan seadanya, mereka tetap ingin mengembangkan Islam walau hanya di daerahnya masing-masing generasi Islam, kita harus mempunyai semangat yang sama dengan mereka, Apapun kondisinya, semangat untuk menegakkan panji-panji Islam harus tetap dilakukan. Hal ini lakukan pada kehidupan sehari-hari dengan melakukan kewajiban kita sebagai seorang muslim yang taat.
Kekuasaan yang diberikan bukan dijadikan alat untuk menguasai asset-aset masyarakat. Sebaliknya, masyarakat merasakan ketenangan dan kemakmuran pada masa-masa pemerintahan mereka.
Mengembangkan Islam bukan hanya dalam ibadah ritual belaka. Kita bisa lihat perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh tiga kerajaan besar pada masa pertengahan.
Mengembangkan ilmu pengetahuan adalah salah satu cara kita menghargai diri sendiri sebagai seorang muslim dan juga menambah keyakinan kita akan kebenaran Islam. Ilmu pengetahuan adalah rahasia yang diberikan ioleh Allah kepada umat-Nya agar manusia berfikir. Keteguhan fakir dan kesungguhan doa adalah modal utama untuk mengembangkan pengetahuan dengan landasan keimanan.
Semangat persatuan dan kesatuan yang dibina oleh tiga kerajaan besar (Usmani, Safawi dan Mughal) dapat membangun kerajaan pada zamannya perlu dibanggakan.
Semangat persatuan dan kesatuan ini perlu kita contoh untuk mengatasi kemelu kebangsaaan saat ini. Di tengah berbagai macam isu disintegrasi dan kasus SARA yang terus terjadi, persatuan dan kesatuan bangsa merupakan jawaban untuk semua permasalahan tersebut.
Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan oleh rakyat dan pemimpin pada masa pertengahan telah membuahkan hasil yang gemilang dengan berdirinya tiga kerajaan besar.
Hal ini mengajarkan kepada kita, jika ingin berhasil dalam mencapai cita-cita harus bekerja keras dan pantang menyerah.
Kreativitas dan ketekunan yang dimiliki para ilmuwan pada masa pertengahan telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan perkembangan kebudayaan. Untuk saat ini, tantangan yang kalian hadapi sangat berbeda dengan mereka. Akan tetapi, ketekunan dan semangat mereka untuk memajukan peradaban Islam patut dijadikan tauladan.
Kesimpulan
Sebab-sebab kemunduran Islam pada abad pertengahan :
1. Bani Abbasiyah, penyebab kemundurannya ada beberapa faktor :
a. Disintegrasi politik, munculnya beberapa pemberontakan antara lain :
· Pemberontakan kaum Zanj
· Gerakan kelompok Qaramithah
· Gerakan kelompok Assasin
Perebutan kekuasaan dan kedudukan khalifah yang lemah
b. Krisis ekonomi
c. Ketergantungan pada tentara bayaran
2. Meskipun Dinasti Abbasiyah telah hancur, ternyata masih terdaapat beberapa wilayah yang mengembangkan wilayah Islam yang mengembangkan kekuasaan Islam, diantaranya Dinasti safawi, Dinasti Mughal, dan Dinasti Turki Usmani.
3. Dengan kejayaan Islam merupakan pemacu semangat bagi seluruh umat Islam dalam mencapai kemaslahatan.
jumrahonline
Kerajaan Turki Usmani
Usmani adalah sebuah kesultanan yang berpusat di Istambul, Turki. Kerajaan Usmani merupakan salahsatu dari tiga kerajaan besar islam pada masa pertengahan, selain syafawi dan Mughal.
Dinasty Usmani didirikan oleh Usman, putra Ertogol dari kabilah Oghuz di daerah mongol. Mereka datang ke Turki untuk meminta perlindungan kepada penguasa Bani Saljuk dari serangan orang-orang Mongol. Mereka juga membantu Sultan Alauddin II berperang melawan Byzantium. Usman lalu percaya menjadikan panglima perang Dinasty Saljuk, menggantikan ayahnya. Setelah Sultan Alauddin wafat, Usman mengambil alih kekuasaan, sejak itulah berdiri Kerajaan Usmani.
Usman mengumumkan dirinya sebagai "Padisyah Al-Usman" (Raja keluarga Usman). Wilayah kerajaan Usmani semakin meluas dengan menaklukan beberapa wilayah, seperti Azmir (1327 M), Tharasyanli (1330 M), Iskandar (1338 M), Ankara (1354M), dan Gallipoli (1356 M).
Kerajaan Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad al-fatih. Pada masa ini pula dapat mengalahkan wilayah Bizantium dan menaklukan konstantinopel (1453 M).
Puncak peradaban Dinasty Usmani tidak dapat dilepaskan dari hasil penaklukan konstantinopel. Sebagai ibu kota, disitulah berkembang peradaban Dinasty Usmani yang merupakan perpaduan dari berbagai macam peradaban. Dynasty usmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia.
Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan Dinasty Usman dipengaruhi oleh Bizantium.
Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama mereka masuk Islam, bangsa arab telah menuntun mereka dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Oleh karena itu, huruf dijadikan huruf resmi kerajaan.
Pada masa ini terjadi beragam kemajuan dalam berbagai bidang, antara lain :
Bidang Pemerintahan dan Militer
Raja-raja dinasti Usmani bergelar sultan dan khalifah seklaigus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, khalifah berkuasa di bidang agama/spiritual. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu seorang Mufti atau yang dikenal dengan Syaikhul Islam yang mewakili Sultan/Khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya dan shadrul A’azam yang mewakili kepala Negara.
Masa ini telah memiliki system pemerintahan yang baik. Kekuatan militernyapun dapat diandalkan. Perubahan mendasar yang dilakukan oleh Orkhan adalah dalam menata militer telah mampu mendongkrak kekuatan militer menjadi mesin perang yang andal. Pada masa ini muncul kelompok elite militer yang disebut Janissary atau Inkisyariyah yang merupakan kekuatan penghancur dan penakluk negeri-negeri nonmuslim.
Bidang pengetahuan dan Budaya
Syair merupakan ekspresi utama kesenian raja. Syair istana didasarkan pada aruz. Aruz adalah sebuah irama persajakan dari irama syair Aram, yang secara tegas ditekankan pada peristilahan Arab dan Persia. Beberapa bentuk kesenian yang utama adalah kesenian yang sebelumnya telah dikembangkan dalam syair-syair istana Persia, seperti Qasida, gazal, Masnawi dan Ruba’i.
Dalam rentangan abad keenam belas, ambisi Usmani diekspresikan dalam komposisi berbagai sejarah dunia. Karya Mustafa ‘Ali (1541 – 1599 M, kunh al-Akhbar memuat catatan sejarah dunia dari adam sampai yesus, sejarah Islam diakhiri dengan sejarah usmani. Pada Abad ketujuh belas, saat itu sejarawan dipekerjakan untuk mencatat peristiwa-peritiwa sehari-hari di Istana.
Bidang pendidikan
Dinasty Usmani melakukan pengorganisasian pada system pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah usmani pertama didirikan di Iznik pada Tahun 1331 M. sejumlah ulama didatangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa territorial yang baru.
Beberapa sultan masa belakangan juga mendirikan perguruan Bursa, Edirne dan Istambul.
Pada akhir abad ke-15 beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah hierarki yang menetukan jenjang karir bagi promosi-promosi ulama-ulama besar.
Bidang Agama
Kerajaan Turki Usmani mempunyai beberapa peranan yang sangat stategis dan penting sehingga dalam masalah pemerintahanpun diperlukan fatwa dan mufti. Tanpa adanya fatwa, hukum dalam bidang keagamaan dan kerajaan tidak berjalan. Pada masa ini muncul dua aliran tarekat yaitu : Bektasyi dan Maulawiyah. Aliran tarekat bertasyi banyak berpengaruh dilimngkungan militer, sedangkan tarekat Maulawiyah banyak berpengaruh di lingkungan pejabat pemerintahan.
.
Kerajaan Safawi (1501–1732 M)
Safawi adalah sebuah kerajaan islam yang pernah berdiri di Persia (Iran sekarang). Kerajaan ini didirikan oleh Syah Ismail I pada Tahun 907 H (1501 M) di Tabriz.
Safawi berasal dari gerkakan tarekat bernama safawiyah yang kemudian berubah menjadi suatu gerakan politik. Gerakan tarekat itu dipimpin oleh Syeck Safiuddin Ishaq dari keturunan Imam Syiah yang ketujuh bernama Musa Al-Kazim.
Gerakan tarekat ini militan, sehingga pada akhirnya memasuki wilayah politik dan pemerintahan.
Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Syah Abbas I (1588–1629 M). Pada masa ini kerajaan safawi bukan hanya mampu meredam konflik internal di dalam negeri dan merebut wilayah yang melepaskan diri, tetapi juga mampu melebarkan wilayahnya sampai ke Tabriz, sirwan dan kepulauan harmuz, bahkan melebar ke pelabuhan Bandar Abbas.
Untuk mewujudkan stabilitas politik, syah Abbas I berusaha melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dukungan kekuatan militer Qizilbasy. Sebagai gantinya, ia membentuk kekuatan militer yang terdiri atas budak kaukasus dan Georgia. Strategi ini telah menunjukkan hasilnya sehingga pada tahun 1598 M mengusir kekuatan Uzbek di Khirazan.
Kemajuan pada masa pemerintahan Safawi
Bidang Pemerintahan dan politik
Secara administratif, struktur organisasi pemerintahan kerajaan safawi dibagi secara horizontal dan vertical. Secara horizontal, pembagian tersebut didasarkan pada garis kesukuan atau kedaerahan. Sedangkan secara vertical mencakup dua jenis, yaitu istana (dargah) dan sekretariat Negara (diwan).
Aktivitas penyelenggaraan Negara dipercayakan kepada para Amir (yang terdiri atas kepala suku) tingkat atas wazir (menteri) yang tergabung dalam suatu dewan (jangi). Disamping itu ada lembaga lain yang tercakup dalam dewan tersebut (Majelis Nivis) yang terdiri atas sejarawan istana, secretariat pribadi syah, dan kepala Intelijen.
Bidang Ekonomi
Untuk kepentingan bidang ekonomi Syah Abbas I melakukan pemusatan system pertanian, yaitu dengan upaya memperbanyak pengalihan tanah Negara menjadi tanah raja.
Situasi dalam negeri yang terkendali membuat masyarakat safawi menjadi tenang dan giat berusaha, sehingga pertumbuhan ekonominya semakin baik.
Dengan adanya pelabuhan Bandae Abbas, perdagangan semakin maju. Selain itu, safawi juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama di daerah bulan sabit yang subur.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Untuk lebih memperlancar sosialisasi dan memapankan ajaran syiah, syah Abbas I mendirikan lembaga pendidikan syiah, yaitu sekolah teologi. Perolehan Negara dari sektor pertanian yang terus bertambah telah memungkinkan syah Abbas I mampu membangun dan membiayai penerapan system pendidikan syiah.
Pada masa ini juga banyak melahirkan ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu sehingga dapat menambah kahsanah ilmu pengetahuan, misalnya Bahauddin Muhammad bin Husain al-Amili al-Jubai, Muhammad Baqir Astaradi, sadruddin Muhammad bin Ibrahim syirazi (Mulla shadra). Dan Muhhamad Baqir majilsi
Bidang Pembangunan dan seni
Banyak dibangun gedung-gedung yang megah dan indah, baik itu bangunan kantor, masjid, rumah sakit, maupun jembatan raksasa, dengan gaya arsitektur yang indah. Dalam bidang seni misalnya terlihat dalam kegiatan kerajinan tangan, keramik, karpet dan seni lukis
Kerajaan Mughal India (1526M–1858 M)
Kerajaan Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482 -1530 M). secara geneologis khan (pihak ibu). Ekspansinya ke India dimulai dengan menundukkan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan bantuan alam Khan dan gubernur Lahore. Tahun 1525 M ia berhasil menguasai Punjab dan meneruskannya ke Delhi tahun 1526 M. sejak itu Babur dapat menguasai India dan mendirikan dinasti mughal yang beribu kota di Delhi.
Babur berkuasa selama 30 tahun, dan setelah wafat ia digantikan dengan putranya yang bernama Humayun selama 9 tahun. Pada masa ini kondisi tidak aman dengan banyaknya muncul pemeberontakan. Hingga akhirnya dia meninggal dunia dan digantika anaknya yang masih berusia 14 tahun, yaitu Akbar. Karena ia masih muda, pemerintahan diserahkan urusannya kepada Bairam Khan.
Pada awal pemerintahannya terjadi berbagai pergolakan dalam negeri, namun semua itu dapat diatasi termasuk penyerangan dari berbagai Negara yang ingin melepaskan diri. Ketika akbar sudah dewasa, dia memperluas ekspansi untuk menaklukan daerah lainnya dan berhasil mengausai daerah chundar, ghond, orisa dan Asingah. Selama pemerintahannya, kerajaan Mughal telah banyak memberikan konstribusi yang cukup besar bagi abad pertengahan antara lain :
Bidang Politik dan Militer
Sistem yang sangat menonjol pada saat itu adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal. System ini sangat tepat, sebab mayoritas masyarakat india beragama hindu, sedangkan pemerintahan Mughal beragama Islam. Disisi lain terdapat juga rasa tau etnis di India. Lembaga yang merupakan produk dari system ini adalah Din-I-llahi dan Mansabdhari.
Dibidang Militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat, mereka terdiri atas pasukan gajah, berkuda dan meriam. Wilayahnya dibagi dalam system distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh Sipar Salar dan sub distrik dikepalai oleh Faudjar. Dengan system pasukan Mughal berhasil menaklukan daerah-daerah sekitarnya.
Bidang Ekonomi
Dengan memajukan pertanian, terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu rempah-rempah, tembakau dan kapas. Pemerintah membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah pertanian. Wilayah terkecil disebut dengan deh, dan beberapa deh tergabung dalam bergana (kawedanan). Setiap komunitas petani dipimpin oleh mukaddam. Melalui mukaddam, pemerintah berhubungan dengan petani.
Selain pertanian pemerintah juga memajukan industri tenun. Hasil industry ini banyak di eksport keluar negeri seperti Eropa, Arabia, Asia Tenggara dll. Pada masa Jahangir (penguasa Mughal keempat), banyak investor asing yang diizinkan menanam investasinya, seperti mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surath.
Bidang seni dan Arsitektur
Karya seni dan arsitektur Mugal sangat terkenal dan bisa dinikmati hingga saat ini. Ciri yang menonjol dari arsitektur mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan yang menunjukkan cirri antara lain : benteng merah, istana-istana, makam kerajaan, dan yang paling mengagumkan adalah taj mahal di Aghra.
Istana ini dibangun oleh Syah Jehan (penguasa Mughal V) khusus untuk istrinya Noor Mahal yang cantik jelita. Bangunan lain yang bermotif sama adalah Masjid raya Delhi yang berlapis marmer dan sebuah Istana di Lahore. Dalam bidang sastra banyak juga karya sastra yang menonjol. Seperti : banyak karya sastra yang digubah dari bahasa Persia ke bahasa India.
Pada masa Akbar (penguasa Mughal III) berkembang bahasa Urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India dan Pakistan hingga sekarang. Sastrawan Mughal yang terkenal itu adalah Malik Muhammad Jayashi dengan karya monumentalnya Padmavat, sebuah karya Alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia. Sastrawan lain adalah Abu Fadhl yang juga sejarawan. Karyanya berjudul Akbar nama dan Ain e-Akbari, yang mengupas sejarah Mughal berdasarkan figure pemimpinnya.
Bidang Ilmu pengetahuan
Banyak ilmuwan itu yang datang ke India untuk menuntut ilmu pengetahuan, bahkan istana Mughal itu menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini didukung oleh penguasa dan bangsawan serta ulama Aurangzeb (Penguasa Mughal keenan) Mislanya : memberikan sejumlah uang dan tanah dalam jumlah yang besar untuk membangun pusat pendidikan di Lucknow.
Pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola oleh seorang guru agama. Pada masa Syah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan fatwa I- alamgri.
A. Kemunduran Dinasti Bani Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung cukup lama mulai dari tahun (132 H s/d 656 H) atau (750 - 1258 M), mengalami kemunduran dan kehancuran pada 1258 M, akibat serangan brutal yang dilakukan oleh tentara Hulagu Khan. Adapun faktor –faktor penyebab kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah adalah :
I. Disintegrasi Politik
Disintegrasi politik sudah terjadi sejak Dinasti Bani Umayyah dan kerajaan – kerajaan islam lainnya. Pada Dinasti Bani Umayyah puncak disintegrasi terjadi ketika para khalifah tidak lagi memiliki kekuatan politik untuk menekan gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh lawan poitik yang tidak menyukai kepemimpinan para khalifah tersebut.
Diakhir kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah para khalifahnya tidak memiliki kekuatan dan hanya sebagai symbol kekuasaan saja. Mereka menjadi boneka para penguasa yang menguasai roda pemerintahan saat itu, seperti ; penguasa Dinasti Bani Buwaihiyah. Bani Saljuk dan para perwira tinggi Turki lainnya. Banyak daerah yang mencoba melepaskan diri dari pusat kekuasaan di Baghdad. Disintegrasi politik muncul dalam beberapa bentuk:
a. Pemberontakan
Sebagian pemberontakan itu dapat diatasi, sehingga tidak menimbulkan kegoncangan social politik dan ekonomi, sebagian lagi tidak dapat diatasi seperti :
Pemberontakan Kaum Zanj
Ini berasal dari kelompok Syi’ah. Mereka tidak dapat menikmati hasil perjuangan yang telah dilakukan bersama Abul Abbas dan Bani Abbas. Mereka disingkirkan dan tidak lagi diajak bermain didalam prosespengembangan kekuasaan. Mereka kecewa dengan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah Bani Abbas.
Akhirnya mereka membentuk oposisi (perlawanan) untuk memusuhi para penguasa dan pendukung kekuasaan Bani Abbas.
Pemberontakan ini terjadi pada tahun 869 M. Diakhir masa pemerintahan Al-Mu’taz dibawah pimpinan Ali bin Muhammad dan berakhir pada tahun 893 M pada masa pemerintahan khalifih Al-Muwaffaq.
Gerakan Kelompok Qaramithah
Gerakan ini dilakukan untuk menentang kekuasaan khalifah Al-Mu’tamid (256-279 H/870-892M). pimpinannya adalah Hamdan Qarmath dari golongan Syi’ah Ismailiyah. Pada tahun 899 M kaum Qaramithah berhasil mendirikan sebuah wilayah merdeka di teluk Persi kemudian dijadikan sebagai basis kegiatan mereka untuk menentang kekuasaan Bani Abbas.
Sekitar tahun 902 M pemberontakan yang dipimpin oleh Abul Fawaris berhasil memasuki wilayah Syiria dan Palestina. Akhirnya terhenti ketika ingin melakukan penjarahan ke wilayah Kufah. Abul Fawaris, pimpinan pemberontakan ini berhasil ditawan dan kemudian dihukum mati.
Gerakan Kelompok Assasins
Kelompok Assasins ini dapat dikategorikan sebagai kelompok separatis atau sempalan yang melanjutkan tujuan dari gerakan Qaramithah. Kelompok ini secara ideologis berakhiran Syi’ah sama seperti gerakan Qaramithah. Gerakan ini dipimpin oleh Hasan bin sabah (w.1124 M ). Basis gerakan kelompok ini berada dikota Alamut, suatu tempat yang terletak disebelah selatan laut Kaspia.
Kelompok ini melancarkan gerakan karena mereka kecewa dengan jalannya pemerintahan Baghdad karena tampuk pemerintahan sudah tidak lagi dipegang oleh orang –orang yang layak menjadi pemimpin. Pemerintahan tidak berjalan dengan baik, mereka tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip pemerintahan yang benar. Pemborosan keuangan Negara oleh para pembesar negeri menyebabkan perekonomian umat islam merosot tajam.
Selain itu mereka juga kecewa karena kelompok Syi’ah tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Gerakan ini tidak segan-segan melakukan kekerasan. Seringkali dilakukan dengan menghabisi nyawa lawan politiknya. Yang menjadi sasaran mereka adalah perdana menteri Nidzamul Muluk, kepala pemerintahan Bani Saljuk yang menguasai Baghdad:
Perebutan Kekuasaan
Sejak masa awal pemerintahan dinasti Abbasiyah, terlihat ada indikasi adanya perbutan kekuasaan didalam keluarga khalifah. Diantara penyebabnya adalah kurang tegasnya para khalifah dalam menentukan putra mahkota.
1) Kedudukan khalifah yang lemah
Wibawa khalifah Bani Abbas memudar sejak masa Al-Watsiq dan sesudahnya. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mempunyai kemampuan cukup untuk memimpin kerajaan.
Munculnya kerajaan-kerajaan kecil di timur dan di barat Baghdad. Luasnya wilayah Islam pada masa Abbasiyah menyebabkan pemerintah tidak dapat melakukan kontrol dengan baik terhadap wilayah-wilayah tersebut. Peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pusat untuk melepaskan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil.
2) Krisis ekonomi
Pergolakan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah menyebabkan banyak pendapatan Negara yang terhambat masuk. Terhambatnya pemasukan kas negara dari berbagai pajak ini disebabkan banyak kelompok yang enggan membayar. Selain itu krisis ekonomi juga disebabkan oleh membengkaknya jumlah pengeluaran negara yang dipergunakan untuk kepentingan kelompok istana.
3) Ketergantungan pada tentara bayaran
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah sifat ketergantungan yang sangat tinggi kepada tentara bayaran. Sebagai konsekuensi dari pengangkatan tentara pribadi dan professional, para khalifah harus memberi gaji atau bayaran yang sesuai dengan jabatan dan pekerjaan yang mereka lakukan.
Keruntuhan dan Kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah
Setelah mengalami perjalanan panjang, akhirnya dinasti Bani Abbasiyah mengalami kemunduran. Jatuhnya Kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol, bukan saja mengakhiri khalifah Abbasiyah juga merupakan awal dari kemunduran politik dan kehancuran peradaban Islam. Dengan kekuatan 200.000 personel militer, Hulagu Khan memasuki pintu kota Baghdad pada tahun 656 H (1258 M). Kekuatan itu tidak dapat dibendung oleh khalifah Al-Mu’tashim.
Hancurnya kota Baghdad dan tewasnya Khalifah Al-Musta’shim menghakhiri krkuasaan kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini yang semula sangat kuat secera perlhan melemah dan akhirnya mengalamai masa kehancuran ditangan orang yang tidak memiliki peradaban. Khulagu Khan dan tentaranya melakukan pebantaian secara biadab terhadap umat Islam dan masyarakat kota Baghdad pada umumnya. Masa ini dalam sejarah Islam dikenal dengan zaman keterpurukan umat Islam dan kehancuran peradaban Islam.
Meskipun pada periode ini dikenal dengan masa kemunduran, khususnya peradaban Islam yang dikembangkan oleh Bani Abbas, ternyata dibeberapa wilayah seperti Persia, India dan Turki, terdapat perkembangan perdabaan Islam yang sangan signifikan menjelang abad ke 19 M, perkembangan peradaban Islam dapat dilihat dari berbagai usaha yang dilakukan oleh para penguasa Dinasti Safawiyah di Persia, Dinasti Mughal di India, dan Dinasti Usmaniyah di Turki.
a. Kemunduran Turki Usmani.
Fase kemunduran Turki Usmani secara perlahan semenjak kematian Sulaiman I Al-Qanuni, sehingga Usmani masih mampu bertahan selama ± 3 Abad. Fase kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang menyebabkan sejumlah sejumlah kekalahan dalam menghadapi sejumlah peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system pemerintahan tidak berjalan semestinya.
Diantara faktor penyebab kemunduran dinasti Turki Usmani adalah sebagai berikut:
- Luasnya wilayah kekuasaan Turki. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan sementara penataan system dan tata pemerintahan terabaikan.
- Pemberontakan Jennisary. Tokoh-tokoh Jennisary terlibat perselisihan dengan pihak penguasa sehingga terjadi beberapa kali pemberontakan.
- Penguasa yang tidak cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulaiman Al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya.
- Merosotnya perekonomian negara akibat sejumlah peperangan.
- Stagnasui bidang ilmu dan teknologi.
- Tumbuhnya gerakan nasionalisme.
b. Kemunduran Safawi
Sepeninggal Abbas I pada tahun 1628 M, kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran yang secara berangsur-angsur dan kemudian hancur. Hal itu tejadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah Abbas I merupakan penguasa yang lemah, sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan kerajaan Safawiyah.
Ada beberapa faktor, selain ketidakcakapan sejumlah raja:
a. Konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
b. Pasukan budak yang dibentuk oleh Abbas I memiliki semangat perjuangan yang tinggi.
c. Kemunduran Mughal di India
Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya kemunduran dan kehancuarn dinasti Mughal di India. Diantaranya adalah konflik internal di kalangan istana, serangan bangsa Hindu, serangan bangsa Persia dan masuknya unsur asing seperti bangsa Inggris yang menguasai sektor ekonomi dengan mendirikan IEC (the East India Company).
Meneladani Perkembangan Islam Periode Pertengahan
Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau merupakan peristiwa yang unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya, anggap saja masa silam itu “kuburan”.
Peristiwanya mungkin tidak akan terulang kembali, akan tetapi pola-polanya kan tetap mempengaruhi kehidupan kita saai ini. Apa yang kita lakukan saat ini akan selalu terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang ada dimasa lalu. Sebagai contoh cara kita bergaul, berbicara, memilih, bahkan belajar juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita pada masa lalu.
Akan tetapi hal ini bukan menjadikan kita harus terpancang dengan keadaan masa lalu. Sebab, sejarah mempunyai dua sisi mata pedang yang harus diperhatikan. Satu sisi dia bisa menjadi alat yang ampuh untuk membela diri, artinya dengan melihat sejarah gemilang di masa lalu akan memacu kita untuk menjalani hidup lebih baik. Akan tetapi disisi lain, dia juga bisa melukai diri sendiri. Sebab, dengan mengenang sejarah gemilang kita akan terjerumus pada romantisme empiris tanpa bisa berbuat apapun.
Kejayaan Islam masa lalu bukanlah sebuah album foto yang hanya selesai dengan mengenangnya. Akan tetapi, kejayaan Islam masa lalu adalah cambuk penyemangat agar kita terpacu dan mampu untuk mendudukkan Islam sedabagi agama pembaru yang menbawa kemaslahatan bagi semua pihak, seperti yang terjadi masa lalu.
Pada pembahasan di atas, kalian telah melihat berbagai macam perkembangan yang terjadi pada masa pertengahan, khususnya pada tiga kerajaan besar. Setiap kerajaan tersebut memiliki karakter yang menjadikannya besar dan mampu mengembangkan Islam secara proporsional. Melihat hal tersebut, apa yang bisa diambil untuk dijadikan pelajaran saat ini? Apakah pembahasan diatas hanya sekedar informasi tanpa aksi?
Dari pembahasan di atas, kita bisa mengambil ibrah manfaat yang akan diterapkan untuk kehidupan saat ini.
Semangat yang dimiliki oleh tiga kerajaan tersebut patut ditiru. Walaupun dengan kekuatan seadanya, mereka tetap ingin mengembangkan Islam walau hanya di daerahnya masing-masing generasi Islam, kita harus mempunyai semangat yang sama dengan mereka, Apapun kondisinya, semangat untuk menegakkan panji-panji Islam harus tetap dilakukan. Hal ini lakukan pada kehidupan sehari-hari dengan melakukan kewajiban kita sebagai seorang muslim yang taat.
Kekuasaan yang diberikan bukan dijadikan alat untuk menguasai asset-aset masyarakat. Sebaliknya, masyarakat merasakan ketenangan dan kemakmuran pada masa-masa pemerintahan mereka.
Mengembangkan Islam bukan hanya dalam ibadah ritual belaka. Kita bisa lihat perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh tiga kerajaan besar pada masa pertengahan.
Mengembangkan ilmu pengetahuan adalah salah satu cara kita menghargai diri sendiri sebagai seorang muslim dan juga menambah keyakinan kita akan kebenaran Islam. Ilmu pengetahuan adalah rahasia yang diberikan ioleh Allah kepada umat-Nya agar manusia berfikir. Keteguhan fakir dan kesungguhan doa adalah modal utama untuk mengembangkan pengetahuan dengan landasan keimanan.
Semangat persatuan dan kesatuan yang dibina oleh tiga kerajaan besar (Usmani, Safawi dan Mughal) dapat membangun kerajaan pada zamannya perlu dibanggakan.
Semangat persatuan dan kesatuan ini perlu kita contoh untuk mengatasi kemelu kebangsaaan saat ini. Di tengah berbagai macam isu disintegrasi dan kasus SARA yang terus terjadi, persatuan dan kesatuan bangsa merupakan jawaban untuk semua permasalahan tersebut.
Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan oleh rakyat dan pemimpin pada masa pertengahan telah membuahkan hasil yang gemilang dengan berdirinya tiga kerajaan besar.
Hal ini mengajarkan kepada kita, jika ingin berhasil dalam mencapai cita-cita harus bekerja keras dan pantang menyerah.
Kreativitas dan ketekunan yang dimiliki para ilmuwan pada masa pertengahan telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan perkembangan kebudayaan. Untuk saat ini, tantangan yang kalian hadapi sangat berbeda dengan mereka. Akan tetapi, ketekunan dan semangat mereka untuk memajukan peradaban Islam patut dijadikan tauladan.
Kesimpulan
Sebab-sebab kemunduran Islam pada abad pertengahan :
1. Bani Abbasiyah, penyebab kemundurannya ada beberapa faktor :
a. Disintegrasi politik, munculnya beberapa pemberontakan antara lain :
· Pemberontakan kaum Zanj
· Gerakan kelompok Qaramithah
· Gerakan kelompok Assasin
Perebutan kekuasaan dan kedudukan khalifah yang lemah
b. Krisis ekonomi
c. Ketergantungan pada tentara bayaran
2. Meskipun Dinasti Abbasiyah telah hancur, ternyata masih terdaapat beberapa wilayah yang mengembangkan wilayah Islam yang mengembangkan kekuasaan Islam, diantaranya Dinasti safawi, Dinasti Mughal, dan Dinasti Turki Usmani.
3. Dengan kejayaan Islam merupakan pemacu semangat bagi seluruh umat Islam dalam mencapai kemaslahatan.
jumrahonline
Monday, October 12, 2015
by Unknown
2:45:00 AM
Adalah wilayah yang mempertemukan dua senja, yang tak mengenal cerahnya siang dan tidak dilewati gelapnya malam di Rusia dan daratan Siberia yang dingin Allah Ta'ala telah menghangatkan hati penduduk disana untuk menerima risalah Rasulullah SAW. Daratan Siberia Rusia ini memiliki suhu tertinggi di musim panas minus lima derajat celcius.
Uni Soviet (sekarang Rusia) merupakan bekas negara yang terdiri atas lima belas republik sosialis yang dibentuk pada tahun 1922 hingga dibubarkan pada penghujung tahun 1991.
Dari 15 republik tersebut, enam di antaranya memiliki penduduk mayoritas muslim, yaitu Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Terdapat pula masyarakat muslim dalam jumlah besar di wilayah Idel-Ural dan Kaukasus Utara, Federasi Rusia. Masyarakat muslim Tatarstan juga dapat ditemukan dalam jumlah besar di Siberia dan wilayah lainnya.
Cahaya matahari memang tidak menghampiri wilayah ini, namun cahaya Islam menerpa negeri beruang merah ini menembus stepa, hutan, dan pegunungan Rusia sejak 1400 tahun yang lalu.
Pada masa Umar bin Khattab
Jelajah Islam di Rusia berawal pada masa Umar bin Khattab dengan perantara sahabat yang mulia Hudzaifah bin al-Yaman. Hudzaifah yang dikirimkan untuk berdakwah ke Azerbaijan dan Armenia, menyebarkan risalah Islam hingga mencapai wilayah Dailam, Tibristan, dan Afganistan.
Penyebaran ini terus melebar hingga terjadi kontak dengan orang-orang Kaspia. Pada 115 Hijriyah, salah seorang pedakwah Islam di wilayah itu yang bernama Rabi’ bin Maslamah RA berhasil membangun masjid di daerah tersebut. Pembangunan masjid adalah strategi yang jitu untuk memperkokoh keberadaan Islam di wilayah baru ini.
Pada masa Daulah Umayyah
Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan RA, sahabat al-Hakam bin Amr al-Ghifari RA menyeberangi Sungai Jaihun untuk masuk dan menguasai Uzbekistan pada tahun 50 Hijriyah (67 Masehi).
Kemudian di masa selanjutnya ada Said bin Utsman yang menginjakkan kakinya di Samarkan, disusul Musa bin Abdullah bin Khozim menaklukkan negeri Imam Tirmidzi, negeri Tirmidz pada 70 Hijriyah (689 Masehi).
Kemudian Qutaibah bin Muslim menembus negeri-negeri Timur hingga sampai di Cina, Turkistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Kyrgistan.
Dengan kedatangan umat muslim ini, orang-orang pun berbondong-bondong memeluk Islam tanpa paksaan dan tekanan sedikit pun. Dari tanah Arab, Islam pun diterima oleh semua pihak, diterima semua suku dan entik, dan diterima oleh mereka yang miskin maupun kaya.
Masa Daulah Abasiyah
Era baru masuknya Islam di Rusia dipelopori oleh seseorang yang bernama Ahmad bin Fadhlan, salah seorang utusan Daulah Abasiyah. Faktor terbesar yang membuat Islam rata menyebar dari wilayah Cina hingga Laut Kaspia di masa ini adalah faktor penduduk lokal yang telah memeluk Islam.
Anak-anak pribumi (wilayah Asia Tengah) mendakwahi saudara-saudara mereka yang masih menyembah patung dengan perantara perdagangan.Dari sinilah muncul kisah tentang Ahmad bin Fadhlan.
Saat Islam mulai tersebar di kalangan penduduk Asia Timur dan wilayah Balkan, orang-orang Balkan pun mengirim utusan kepada Khalifah Abasiyah, Muqtadir Billah. Mereka mengajukan permintaan pengiriman seorang pedakwah karena keterbatasan pengetahuan tentang syariat Islam disana. Maka, Muqtadir Billah pun mengirim seorang pedakwah Islam, Ahmad bin Fadhlan.
Di wilayah Balkan itu, Ahmad bin Fadhlan tidak pernah merasa lelah mengajarkan Islam. Ia pun mendatangi para penguasa Balkan, dan mengenalkan Islam kepada mereka.
Di antara keberhasilan dakwahnya yang paling signifikan adalah masuknya ajaran Islam ke wilayah Kazan. Ahmad bin Fadhlan juga tidak lupa mencatat perjalan dakwahnya ke negeri-negeri Rusia ini, dan tulisannya dijadikan rujukan utama para sejarawan untuk mempelajari masa-masa tersebut.
Rusia Beralih Memilih Nasrani Karena Khamr Farid Syah Asadullah menceritakan kisah ironis dimana sebagian masyarakat Rusia yang telah menerima Islam beralih memilih Nasrani. Tersebutlah nama pemimpin Rusia kala itu, Vladimir, ia menolak Islam lantaran Islam mengharamkan khamr, padahal khamr merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Rusia.
Mereka mengatakan, bahwa orang Rusia sudah terbiasa dengan khamr, tidak ada kehidupan tanpa khamr. Agama Kristen atau Nasrani dipandang lebih realistis oleh Vladimir yang membolehkan khamr dan itu diikuti oleh rakyatnya.
Di bawah Kekuasaan Tartar Mongolia
Mongolia adalah salah satu bangsa yang memiliki rekam jejak yang kelam dalam sejarah Islam. Namun pada fase pasca Jenghis Khan, keadaan tersebut berubah terutama pada era Barkah bin Jochi bin Jenghis Khan. Ia adalah salah seorang Khan penguasa Mongolia. Berbeda dengan leluhurnya Jenghis Khan yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam, Barkah malah memeluk dan mendakwahkan Islam yang dimusuhi oleh sang kakek.
Di antara jasa besar Barkah Khan adalah mengalahkan sepupunya, Hulagu Khan, yang telah menghancurkan Daulah Abasiyah dan membunuh khalifah terakhirnya. Termasuk jasanya juga adalah mengembalikan cahaya
Islam di negeri Rusia. Kekuasaan Mongol yang begitu luas, konon ada yang menyatakan menyentuh wilayah Jerman, yang mencakup wilayah Rusia menjadi angin segar dalam perkembangan penyebaran agama Islam.
Kewibawaan Islam kembali muncul, sampai-sampai wilayah Moskow dan Kiev yang Kristen tunduk dan membayar pajak kepada umat muslim.
Pada tahun 885 Hijriyah (1480 Masehi), Moskow di bawah kekuasaan Ivan III kembali melepaskan diri dari pengaruh Islam. Mereka bergabung dengan Pasukan Salib untuk memerangi Islam dan membantai umat muslim di sana. Selanjutnya umat muslim di Rusia menghadapi masalah yang serius pada masa Tsar Romanov berkuasa. Sebagian dari mereka terusir dan yang lainnya tewas di tangan anak buah Tsar Romanov. Keadaan demikian terus berlanjut di masa Vladimir Lenin.
Pada tahun 1917, pemimpin revolusi komunis, Vladimir Lenin, yang semula menjanjikan perubahan bila ia berkuasa. Namun menjadikan perubahan tersebut fatamorgana bagi muslim Rusia. Penghianatan kepada Islam berlanjut dengan penyiksaan dan penindasan, yang dirasakan juga oleh umat muslim di masa-masa pemerintahan komunis berikutnya.
Upaya-upaya umat Muslim untuk membuat perubahan di Rusia terus berlanjut dari masa ke masa, dengan tantangan yang luar biasa. Tindakan marjinalisasi, represif terhadap umat muslim juga masih terjadi di tahun 1925-1945.
Berbeda pada masa Perang Dunia II, yang justru membawa angin baru bagi umat muslim di Rusia. Saat itu, Stalin mengirimkan 17 orang muslim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Namun, penindasan terhadap umat muslim muncul kembali pada tahun 1950 sampai dengan berakhirnya masa pemerintahan Gorbacev dan hancurnya Uni Soviet. Pada saat negeri ini berganti nama menjadi Rusia barulah umat muslim mendapatkan hak kewarganeraan dan memeluk Islam.
Umat muslim di Rusia Hari Ini
Saat ini, Islam merupakan agama terbesar di Rusia setelah agama Kristen. Populasi umat muslim di negeri ini, jumlahnya lebih dari 20 juta jiwa. Bahkan, di Moskow kini berdiri tujuh buah masjid besar sebagai simbol Islam di Rusia.
Salah satunya Masjid Katedral, salah satu masjid terbesar di Moskow adalah masjid yang dibangun oleh komunitas suku Tatar yang dibangun sejak tahun 1801. Awalnya daya tampung masjid hanya sekitar 250 jemaah, lalu pada tahun 1904, seorang Tsar Tatar yaitu Tsar Shadiq Yazrin, memperbaiki masjid tersebut.
Setelah Rusia menjalin hubungan diplomatik dengan Arab Saudi, Masjid Katedral terus dibangun dan dikembangkan. Saat ini masjid itu kini berdiri dengan memiliki enam lantai dan mampu menampung kurang lebih 20.000 jamaah.
Di masa Presiden Vladimir Putin, keadaan umat muslim kian membaik. Banyak umat muslim memiliki peranan penting dalam membawa perbaikan bagi masyarakat Rusia. Umat muslim diperbolehkan membangun sekolah-sekolah yang berbasis agama bahkan membangun universitas berbasis Islam yang didalamnya menggunakan bahasa Arab.
Sejarah Islam memiliki kisah yang panjang di negeri beruang merah. Saat ini, kebangkitan Islam makin meluas, sekolahsekolah, masjid, dan pusat-pusat pendidikan Islam dibangun di beberapa wilayah di negeri ini. Sungguh perjuangan yang sangat berarti bagi eksistensi Islam di muka bumi.
jumrahonline-erw
Uni Soviet (sekarang Rusia) merupakan bekas negara yang terdiri atas lima belas republik sosialis yang dibentuk pada tahun 1922 hingga dibubarkan pada penghujung tahun 1991.
Dari 15 republik tersebut, enam di antaranya memiliki penduduk mayoritas muslim, yaitu Azerbaijan, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan. Terdapat pula masyarakat muslim dalam jumlah besar di wilayah Idel-Ural dan Kaukasus Utara, Federasi Rusia. Masyarakat muslim Tatarstan juga dapat ditemukan dalam jumlah besar di Siberia dan wilayah lainnya.
Cahaya matahari memang tidak menghampiri wilayah ini, namun cahaya Islam menerpa negeri beruang merah ini menembus stepa, hutan, dan pegunungan Rusia sejak 1400 tahun yang lalu.
Pada masa Umar bin Khattab
Jelajah Islam di Rusia berawal pada masa Umar bin Khattab dengan perantara sahabat yang mulia Hudzaifah bin al-Yaman. Hudzaifah yang dikirimkan untuk berdakwah ke Azerbaijan dan Armenia, menyebarkan risalah Islam hingga mencapai wilayah Dailam, Tibristan, dan Afganistan.
Penyebaran ini terus melebar hingga terjadi kontak dengan orang-orang Kaspia. Pada 115 Hijriyah, salah seorang pedakwah Islam di wilayah itu yang bernama Rabi’ bin Maslamah RA berhasil membangun masjid di daerah tersebut. Pembangunan masjid adalah strategi yang jitu untuk memperkokoh keberadaan Islam di wilayah baru ini.
Pada masa Daulah Umayyah
Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan RA, sahabat al-Hakam bin Amr al-Ghifari RA menyeberangi Sungai Jaihun untuk masuk dan menguasai Uzbekistan pada tahun 50 Hijriyah (67 Masehi).
Kemudian di masa selanjutnya ada Said bin Utsman yang menginjakkan kakinya di Samarkan, disusul Musa bin Abdullah bin Khozim menaklukkan negeri Imam Tirmidzi, negeri Tirmidz pada 70 Hijriyah (689 Masehi).
Kemudian Qutaibah bin Muslim menembus negeri-negeri Timur hingga sampai di Cina, Turkistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Kyrgistan.
Dengan kedatangan umat muslim ini, orang-orang pun berbondong-bondong memeluk Islam tanpa paksaan dan tekanan sedikit pun. Dari tanah Arab, Islam pun diterima oleh semua pihak, diterima semua suku dan entik, dan diterima oleh mereka yang miskin maupun kaya.
Masa Daulah Abasiyah
Era baru masuknya Islam di Rusia dipelopori oleh seseorang yang bernama Ahmad bin Fadhlan, salah seorang utusan Daulah Abasiyah. Faktor terbesar yang membuat Islam rata menyebar dari wilayah Cina hingga Laut Kaspia di masa ini adalah faktor penduduk lokal yang telah memeluk Islam.
Anak-anak pribumi (wilayah Asia Tengah) mendakwahi saudara-saudara mereka yang masih menyembah patung dengan perantara perdagangan.Dari sinilah muncul kisah tentang Ahmad bin Fadhlan.
Saat Islam mulai tersebar di kalangan penduduk Asia Timur dan wilayah Balkan, orang-orang Balkan pun mengirim utusan kepada Khalifah Abasiyah, Muqtadir Billah. Mereka mengajukan permintaan pengiriman seorang pedakwah karena keterbatasan pengetahuan tentang syariat Islam disana. Maka, Muqtadir Billah pun mengirim seorang pedakwah Islam, Ahmad bin Fadhlan.
Di wilayah Balkan itu, Ahmad bin Fadhlan tidak pernah merasa lelah mengajarkan Islam. Ia pun mendatangi para penguasa Balkan, dan mengenalkan Islam kepada mereka.
Di antara keberhasilan dakwahnya yang paling signifikan adalah masuknya ajaran Islam ke wilayah Kazan. Ahmad bin Fadhlan juga tidak lupa mencatat perjalan dakwahnya ke negeri-negeri Rusia ini, dan tulisannya dijadikan rujukan utama para sejarawan untuk mempelajari masa-masa tersebut.
Rusia Beralih Memilih Nasrani Karena Khamr Farid Syah Asadullah menceritakan kisah ironis dimana sebagian masyarakat Rusia yang telah menerima Islam beralih memilih Nasrani. Tersebutlah nama pemimpin Rusia kala itu, Vladimir, ia menolak Islam lantaran Islam mengharamkan khamr, padahal khamr merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Rusia.
Mereka mengatakan, bahwa orang Rusia sudah terbiasa dengan khamr, tidak ada kehidupan tanpa khamr. Agama Kristen atau Nasrani dipandang lebih realistis oleh Vladimir yang membolehkan khamr dan itu diikuti oleh rakyatnya.
Di bawah Kekuasaan Tartar Mongolia
Mongolia adalah salah satu bangsa yang memiliki rekam jejak yang kelam dalam sejarah Islam. Namun pada fase pasca Jenghis Khan, keadaan tersebut berubah terutama pada era Barkah bin Jochi bin Jenghis Khan. Ia adalah salah seorang Khan penguasa Mongolia. Berbeda dengan leluhurnya Jenghis Khan yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam, Barkah malah memeluk dan mendakwahkan Islam yang dimusuhi oleh sang kakek.
Di antara jasa besar Barkah Khan adalah mengalahkan sepupunya, Hulagu Khan, yang telah menghancurkan Daulah Abasiyah dan membunuh khalifah terakhirnya. Termasuk jasanya juga adalah mengembalikan cahaya
Islam di negeri Rusia. Kekuasaan Mongol yang begitu luas, konon ada yang menyatakan menyentuh wilayah Jerman, yang mencakup wilayah Rusia menjadi angin segar dalam perkembangan penyebaran agama Islam.
Kewibawaan Islam kembali muncul, sampai-sampai wilayah Moskow dan Kiev yang Kristen tunduk dan membayar pajak kepada umat muslim.
Pada tahun 885 Hijriyah (1480 Masehi), Moskow di bawah kekuasaan Ivan III kembali melepaskan diri dari pengaruh Islam. Mereka bergabung dengan Pasukan Salib untuk memerangi Islam dan membantai umat muslim di sana. Selanjutnya umat muslim di Rusia menghadapi masalah yang serius pada masa Tsar Romanov berkuasa. Sebagian dari mereka terusir dan yang lainnya tewas di tangan anak buah Tsar Romanov. Keadaan demikian terus berlanjut di masa Vladimir Lenin.
Pada tahun 1917, pemimpin revolusi komunis, Vladimir Lenin, yang semula menjanjikan perubahan bila ia berkuasa. Namun menjadikan perubahan tersebut fatamorgana bagi muslim Rusia. Penghianatan kepada Islam berlanjut dengan penyiksaan dan penindasan, yang dirasakan juga oleh umat muslim di masa-masa pemerintahan komunis berikutnya.
Upaya-upaya umat Muslim untuk membuat perubahan di Rusia terus berlanjut dari masa ke masa, dengan tantangan yang luar biasa. Tindakan marjinalisasi, represif terhadap umat muslim juga masih terjadi di tahun 1925-1945.
Berbeda pada masa Perang Dunia II, yang justru membawa angin baru bagi umat muslim di Rusia. Saat itu, Stalin mengirimkan 17 orang muslim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Namun, penindasan terhadap umat muslim muncul kembali pada tahun 1950 sampai dengan berakhirnya masa pemerintahan Gorbacev dan hancurnya Uni Soviet. Pada saat negeri ini berganti nama menjadi Rusia barulah umat muslim mendapatkan hak kewarganeraan dan memeluk Islam.
Umat muslim di Rusia Hari Ini
Saat ini, Islam merupakan agama terbesar di Rusia setelah agama Kristen. Populasi umat muslim di negeri ini, jumlahnya lebih dari 20 juta jiwa. Bahkan, di Moskow kini berdiri tujuh buah masjid besar sebagai simbol Islam di Rusia.
Salah satunya Masjid Katedral, salah satu masjid terbesar di Moskow adalah masjid yang dibangun oleh komunitas suku Tatar yang dibangun sejak tahun 1801. Awalnya daya tampung masjid hanya sekitar 250 jemaah, lalu pada tahun 1904, seorang Tsar Tatar yaitu Tsar Shadiq Yazrin, memperbaiki masjid tersebut.
Setelah Rusia menjalin hubungan diplomatik dengan Arab Saudi, Masjid Katedral terus dibangun dan dikembangkan. Saat ini masjid itu kini berdiri dengan memiliki enam lantai dan mampu menampung kurang lebih 20.000 jamaah.
Di masa Presiden Vladimir Putin, keadaan umat muslim kian membaik. Banyak umat muslim memiliki peranan penting dalam membawa perbaikan bagi masyarakat Rusia. Umat muslim diperbolehkan membangun sekolah-sekolah yang berbasis agama bahkan membangun universitas berbasis Islam yang didalamnya menggunakan bahasa Arab.
Sejarah Islam memiliki kisah yang panjang di negeri beruang merah. Saat ini, kebangkitan Islam makin meluas, sekolahsekolah, masjid, dan pusat-pusat pendidikan Islam dibangun di beberapa wilayah di negeri ini. Sungguh perjuangan yang sangat berarti bagi eksistensi Islam di muka bumi.
jumrahonline-erw
by Unknown
2:45:00 AM
Madinah telah menjadi pusat peribadatan umat muslim dunia selain kota Mekah. Kota yang penuh dengan rahmat Allah Ta'ala. Allah menjadikan Madinah sebagai tempat masuk yang benar.
Allah SWT berfirman, "Dan katakanlah (Muhammad), Ya Rabbku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar…” (QS. Al-lsra’: 80).
Allah SWT menjadikan kota Madinah sebagai Tanah Haram sebagaimana ditegaskan melalui sabda Rasulullah, “Madinah itu Tanah Haram dan aman." Kota yang selalu dipenuhi para malaikat, mereka menjaga Madinah dari munculnya wabah dan Dajjal agar tidak masuk ke sana.
Dari kota-kota yang ditaklukan oleh Rasulullah SAW, Madinah ditaklukkan dengan keimanan dan Alquran, sedangkan daerah lain dengan pedang. Setan pun putus asa untuk menjadikan dirinya sebagai makhluk yang disembah di Madinah.
Itulah yang menjadikan seorang umat muslim dipenuhi kenikmatan spiritual ketika berada di Madinah dan melakukan ziarah ke masjid-masjid dan situs-situs bersejarah lainnya.
Masjid-masjid itu menjadi tujuan kunjungan jutaan umat muslim dunia. Setiap masjid memiliki riwayat tersendiri, sebagai saksi betapa besar rahmat yang diberikan oleh Allah Ta' Ala untuk kota ini.
Berikut sekelumit kisah beberapa masjid yang sarat kenikmatan spiritual;
1) Masjid Al-Ghamamah, Masjid Yang Berawan
2) Masjid Quba’, Pahala Shalat Setara Umrah
3) Masjid Al Jum’ah, Dibangun dari Pecahan Bebatuan
4) Masjid Qiblatain, Satu Shalat Dua Kiblat
5) Masjid Sab’ah Khandak
Kota Dipenuhi Berkah
Kota Madinah, tidak seperti Mekkah yang gersang, di Madinah terdapat banyak areal tanah subur dan oase-oase (sumber air) yang dapat ditanami buah dan sayuran.
Kesuburan tanah Madinah tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi pertumbuhan dan kebutuhan mu’min dan jama’ah haji yang datang ke Madinah. Ini karena tanah Madinah itu memiliki berkah khusus karena Rasulullah SAW pernah memohon kepada Allah SWT :
"Ya Allah berilah Madinah ini dua kali berkah yang Engkau berikan kepada Makkah". Jadi semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali yang ada di Makkah.
Padahal Makkah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim AS agar Makkah tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan.
(jumrahonline - erw)
<a href="http://www.bloglovin.com/blog/14509551/?claim=nxrfj5ppxzz">Follow my blog with Bloglovin</a>
Allah SWT berfirman, "Dan katakanlah (Muhammad), Ya Rabbku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar…” (QS. Al-lsra’: 80).
Allah SWT menjadikan kota Madinah sebagai Tanah Haram sebagaimana ditegaskan melalui sabda Rasulullah, “Madinah itu Tanah Haram dan aman." Kota yang selalu dipenuhi para malaikat, mereka menjaga Madinah dari munculnya wabah dan Dajjal agar tidak masuk ke sana.
Dari kota-kota yang ditaklukan oleh Rasulullah SAW, Madinah ditaklukkan dengan keimanan dan Alquran, sedangkan daerah lain dengan pedang. Setan pun putus asa untuk menjadikan dirinya sebagai makhluk yang disembah di Madinah.
Itulah yang menjadikan seorang umat muslim dipenuhi kenikmatan spiritual ketika berada di Madinah dan melakukan ziarah ke masjid-masjid dan situs-situs bersejarah lainnya.
Masjid-masjid itu menjadi tujuan kunjungan jutaan umat muslim dunia. Setiap masjid memiliki riwayat tersendiri, sebagai saksi betapa besar rahmat yang diberikan oleh Allah Ta' Ala untuk kota ini.
Berikut sekelumit kisah beberapa masjid yang sarat kenikmatan spiritual;
1) Masjid Al-Ghamamah, Masjid Yang Berawan
2) Masjid Quba’, Pahala Shalat Setara Umrah
3) Masjid Al Jum’ah, Dibangun dari Pecahan Bebatuan
4) Masjid Qiblatain, Satu Shalat Dua Kiblat
5) Masjid Sab’ah Khandak
Kota Dipenuhi Berkah
Kota Madinah, tidak seperti Mekkah yang gersang, di Madinah terdapat banyak areal tanah subur dan oase-oase (sumber air) yang dapat ditanami buah dan sayuran.
Kesuburan tanah Madinah tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi pertumbuhan dan kebutuhan mu’min dan jama’ah haji yang datang ke Madinah. Ini karena tanah Madinah itu memiliki berkah khusus karena Rasulullah SAW pernah memohon kepada Allah SWT :
"Ya Allah berilah Madinah ini dua kali berkah yang Engkau berikan kepada Makkah". Jadi semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali yang ada di Makkah.
Padahal Makkah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim AS agar Makkah tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan.
(jumrahonline - erw)
<a href="http://www.bloglovin.com/blog/14509551/?claim=nxrfj5ppxzz">Follow my blog with Bloglovin</a>
Thursday, October 1, 2015
by Unknown
12:46:00 PM
Masjid Al Jum’ah, dibangun dari pecahan bebatuan
Awal dibangunnya masjid ini menggunakan pecahan bebatuan. Bangunan masjid ini kecil, bahkan tidak mampu menampung lebih dari 70 jamaah.
Dibangun masjid ini di saat pertama Rasulullah melakukan shalat Jum’at di sana. Ketika Rasulullah tiba di Quba’ pada 4 Muharram 1 Hijriyah (16 Juli 622 M), beliau tinggal disana kurang lebih hingga Jum’at. Pada saat beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib/Madinah, waktu shalat Jum’at telah masuk, maka beliau mengerjakan shalat di tempat tersebut.
Pembangunan Masjid Al-Jum’ah ini diulang beberapa kali hingga tahun 1409 H. Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan perombakan dan perluasan kemudian melengkapinya dengan beberapa fasilitas pendukung, seperti asrama untuk imam dan muadzin, perpustakaan, madrasah menghafal Alquran, mushala untuk wanita, tempat wudhu, dan toilet.
Saat ini Masjid Al-Jum’ah mampu menampung 650 jamaah, masjid ini memiliki menara tinggi yang sangat indah dan kubah utama tepat di atas area shalat bagian tengah, ditambah dengan empat kubah kecil.
Kisah Pemberian Nama Masjid Al Jum'ah
Di dalam suatu riwayat, Ibnu Sirin menyebut bahwa suatu hari sebelum sampainya Rasulullah SAW di Madinah-ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan sebelum turunnya QS. Al-Jum'ah (62), penduduk Madinah berkumpul disana.
Di antara mereka, yakni salah seorang dari kaum Anshar, mengajukan persoalan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani memiliki hari-hari tertentu yang mereka manfaatkan untuk berkumpul. Umat Yahudi dengan hari Sabbat (Sabtu)-nya dan umat Nasrani dengan hari Ahad (Minggu)-nya. Oleh karena itu, umat Islam menjadikan hari 'Arubah sebagai hari yang dimanfaatkan untuk berkumpul dan beribadah kepada Allah Ta'ala dan mensyukuri segenap nikmat-Nya.
Di dalam pertemuan yang pertama kali itu berlangsung di rumah As'ad ibn Zurrah, mereka mengubah nama al-'Arubah dengan nama yang baru, yaitu Al-Jum'ah (Jum’at). Untuk kepentingan pertemuan hari itu As'ad bin Zurrah, sebagai tuan rumah, menyembelih seekor kambing atau domba.
Menurut riwayat lain, sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Lisanul 'Arab, orang yang pertama kali menamakan hari al-'Arubah tersebut dengan al-Jum'ah adalah Ka'ab bin Lu'ai.
Kemudian dengan berbagai alasan-sebagaimana yang tercantum di dalam beberapa hadits yang di antaranya diriwayatkan oleh Muslim, Malik, dan Abu Dawud, hari Jum’at, di dalam komunitas Muslim, dikenal sebagai suatu hari yang paling mulia di antara hari-hari yang lain.
Masjid Jum'ah terletak di barat daya Madinah, di dekat Wadi Ranuna', dengan jarak 700 meter utara Masjid Quba' dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.
jumrahonline
Awal dibangunnya masjid ini menggunakan pecahan bebatuan. Bangunan masjid ini kecil, bahkan tidak mampu menampung lebih dari 70 jamaah.
Dibangun masjid ini di saat pertama Rasulullah melakukan shalat Jum’at di sana. Ketika Rasulullah tiba di Quba’ pada 4 Muharram 1 Hijriyah (16 Juli 622 M), beliau tinggal disana kurang lebih hingga Jum’at. Pada saat beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib/Madinah, waktu shalat Jum’at telah masuk, maka beliau mengerjakan shalat di tempat tersebut.
Pembangunan Masjid Al-Jum’ah ini diulang beberapa kali hingga tahun 1409 H. Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan perombakan dan perluasan kemudian melengkapinya dengan beberapa fasilitas pendukung, seperti asrama untuk imam dan muadzin, perpustakaan, madrasah menghafal Alquran, mushala untuk wanita, tempat wudhu, dan toilet.
Saat ini Masjid Al-Jum’ah mampu menampung 650 jamaah, masjid ini memiliki menara tinggi yang sangat indah dan kubah utama tepat di atas area shalat bagian tengah, ditambah dengan empat kubah kecil.
Kisah Pemberian Nama Masjid Al Jum'ah
Di dalam suatu riwayat, Ibnu Sirin menyebut bahwa suatu hari sebelum sampainya Rasulullah SAW di Madinah-ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah dan sebelum turunnya QS. Al-Jum'ah (62), penduduk Madinah berkumpul disana.
Di antara mereka, yakni salah seorang dari kaum Anshar, mengajukan persoalan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani memiliki hari-hari tertentu yang mereka manfaatkan untuk berkumpul. Umat Yahudi dengan hari Sabbat (Sabtu)-nya dan umat Nasrani dengan hari Ahad (Minggu)-nya. Oleh karena itu, umat Islam menjadikan hari 'Arubah sebagai hari yang dimanfaatkan untuk berkumpul dan beribadah kepada Allah Ta'ala dan mensyukuri segenap nikmat-Nya.
Di dalam pertemuan yang pertama kali itu berlangsung di rumah As'ad ibn Zurrah, mereka mengubah nama al-'Arubah dengan nama yang baru, yaitu Al-Jum'ah (Jum’at). Untuk kepentingan pertemuan hari itu As'ad bin Zurrah, sebagai tuan rumah, menyembelih seekor kambing atau domba.
Menurut riwayat lain, sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Lisanul 'Arab, orang yang pertama kali menamakan hari al-'Arubah tersebut dengan al-Jum'ah adalah Ka'ab bin Lu'ai.
Kemudian dengan berbagai alasan-sebagaimana yang tercantum di dalam beberapa hadits yang di antaranya diriwayatkan oleh Muslim, Malik, dan Abu Dawud, hari Jum’at, di dalam komunitas Muslim, dikenal sebagai suatu hari yang paling mulia di antara hari-hari yang lain.
Masjid Jum'ah terletak di barat daya Madinah, di dekat Wadi Ranuna', dengan jarak 700 meter utara Masjid Quba' dan 6 kilometer dari Masjid Nabawi.
jumrahonline
by Unknown
12:24:00 PM
Masjid Qiblatain merekam sejarah tentang arah salat. Semula masjid ini bernama Masjid Bani Salamah.
Pada permulaan Islam, Rasulullah SAW dan umat Islam melakukan shalat dengan menghadap kiblat (arah Baitul Maqdis di Yerusalem. Namun, pada tahun ke 2 Hijriyah di bulan Rajab, saat RasulullAh SAW sedang melaksanakan shalat Dhuhur di masjid Bani Salamah tersebut, turunlah wahyu surat Al Baqarah (2) ayat 144.
Dalam shalatnya semula Rasulullah menghadap ke arah Masjidil Aqsha (ke arah Utara) tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan menghadap ke Masjidil Haram (ke arah selatan). Dari peristiwa tersebut maka Masjid ini diberi nama masjid Qiblatain yang berarti Masjid berkiblat dua.
Dalam beberapa waktu, bangunan masjid ini sempat memiliki dua arah mihrab yang menonjol, yakni mengarah ke Masjidil Haram di Mekah dan Masjidil Aqsha di Palestina yang umumnya digunakan imam shalat.
Setelah renovasi, masjid ini fokus satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Mekah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.
Ruang mihrab masjid ini mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama menunjukkan arah kiblat yang benar dan kubah kedua hanya dijadikan sebagai pengingat sejarah.
Lokasi Masjid Qiblatain terletak di Jalan Khalid bin Walid, Jalan menuju kampus Universitas Madinah, dekat Istana Raja ke jurusan Wadi al-Aqiq (4,3 Km dari Masjid Nabawi melalui jalan raya).
jumrahonline
Pada permulaan Islam, Rasulullah SAW dan umat Islam melakukan shalat dengan menghadap kiblat (arah Baitul Maqdis di Yerusalem. Namun, pada tahun ke 2 Hijriyah di bulan Rajab, saat RasulullAh SAW sedang melaksanakan shalat Dhuhur di masjid Bani Salamah tersebut, turunlah wahyu surat Al Baqarah (2) ayat 144.
Dalam shalatnya semula Rasulullah menghadap ke arah Masjidil Aqsha (ke arah Utara) tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan menghadap ke Masjidil Haram (ke arah selatan). Dari peristiwa tersebut maka Masjid ini diberi nama masjid Qiblatain yang berarti Masjid berkiblat dua.
Dalam beberapa waktu, bangunan masjid ini sempat memiliki dua arah mihrab yang menonjol, yakni mengarah ke Masjidil Haram di Mekah dan Masjidil Aqsha di Palestina yang umumnya digunakan imam shalat.
Setelah renovasi, masjid ini fokus satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Mekah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.
Ruang mihrab masjid ini mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama menunjukkan arah kiblat yang benar dan kubah kedua hanya dijadikan sebagai pengingat sejarah.
Lokasi Masjid Qiblatain terletak di Jalan Khalid bin Walid, Jalan menuju kampus Universitas Madinah, dekat Istana Raja ke jurusan Wadi al-Aqiq (4,3 Km dari Masjid Nabawi melalui jalan raya).
jumrahonline
by Unknown
9:37:00 AM
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW di kota suci ini. Selain Masjid Nabawi, Masjid Quba merupakan tempat 'wajib' kunjung jemaah haji dari berbagai belahan dunia.Terletak di tepi Jalan Medina 42318, Madinah, Arab Saudi, masjid bercat putih dengan empat menara ini tampak bersahaja dengan arsitekturnya yang sederhana.
Di sekitar Masjid Quba yang berjarak 2,3 km dari Masjid Nabawi, sejak zaman Rasulullah memang dipenuhi pohon kurma, dan saat ini masih menyisakan sedikit lahan untuk perkebunan. Sebagian besar kebun kurma di Madinah kini sudah tergerus pembangunan.
Masjid ini pertama kali dibangun ketika Rasulullah sampai di Madinah. Beliau tiba di Quba’ pada Senin 16 Juli 622 M. Dan ketika di Quba’ beliau menempati rumah Kalsum bin Hadam dari kabilah Amir bin Auf (Banu Auf bin Malik bin Aus), dan mendirikan Masjid di atas sebidang tanah milik Kalsum bin Hadam.
Masjid Quba’ adalah masjid yang pertama didirikan oleh Rasulullah dan masjid ini pula disebutkan dalam Al-Qur'an dengan nama masjid Taqwa.
"Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba’), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya, di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."(QS At Taubah:108).
Masjid ini dibangun Rasulullah sebanyak dua kali, pertama ketika kiblatnya menghadap Baitul Maqdis dan yang kedua ketika kiblatnya menghadap Baitullah.
Dalam membangun masjid ini Rasulullah dibantu oleh Malaikat Jibril yang memberi petunjuk arah kiblat masjid tersebut. Di masjid ini pula pertama kali diadakan shalat berjamaah secara terang-terangan.
Terletak di tepi Jalan Medina 42318, Madinah, Arab Saudi, masjid bercat putih dengan empat menara ini tampak bersahaja dengan arsitekturnya yang sederhana. Di sekitar Masjid Quba yang berjarak 2,3 km dari Masjid Nabawi, sejak zaman Rasulullah memang dipenuhi pohon kurma, dan saat ini masih menyisakan sedikit lahan untuk perkebunan.
Bangunan masjid ini berkali-kali dilakukan perubahan dan perluasan, yakni pada masa Khalifah Utsman Ibn Affan RA, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menambahkan menara. Tahun 435 H diperbaiki lagi oleh Abu Ya’ia al Husaini. Tahun 1245 H oleh Sultan Muhammad ke II, bangunan masjid ini juga direnovasi.
Di depan masjid ini dahulu terdapat sebuah sumur bernama Aris, yang tawar airnya. Di sumur ini cincin Rasulullah jatuh ke dalamnya, maka sumur itu, sering disebut juga sumur Khatim yang berarti cincin.
jumrahonline
Saturday, August 29, 2015
by Unknown
6:21:00 AM
Di Maqbarah Hawwa ada salah satu makam yang memiliki ukuran sangat panjang, yakni 5 meter. Para peziarah mempercayai ini sebagai makam Siti Hawa.
Saat melakukan ibadah haji atau umrah, para jamaah akan berkunjung atau berziarah ke tempat-tempat yang disucikan atau dianggap menyimpan nilai sejarah.
Di antara sekian banyak tempat bersejarah di Arab Saudi yang kerap disambangi jamaah haji dan umrah, salah satunya adalah makam Siti Hawa di Kota Jeddah.
Memang belum ada kepastian tentang tempat peristirahatan terakhir istri Nabi Adam AS tersebut. Namun, sebagian besar penduduk sekitar dan nyaris setiap jamaah yang berziarah mempercayai bahwa makam Siti Hawa benar ada di Jeddah.
Makam Siti Hawa berada dekat dengan Masjid Qisas dan kawasan perbelanjaan Balad yang sering didatangi jamaah haji. Dari ujung selatan Jalan Madinah Al Munawarah, Anda tinggal berbelok ke kiri ke arah Jalan Al Matar.
Telusuri Jalan Al Matar sampai menemukan belokan pertama ke kanan, ke Jalan Makkah Al Mukaramah. Tidak jauh dari ujung jalan Makkah Al Mukaramah terdapat belokan ke Jalan Mawkib Al Iman. Di sanalah letak makam Siti Hawa.
Pemakaman ini sekarang menjadi pemakaman umum bagi masyarakat Jeddah. Tempat yang disebut makam Siti Hawa itu berbentuk bangunan biasa tanpa atap hanya dikelilingi dengan tembok setinggi 3 meter dan dilapisi dengan marmer.
Luas tempat tersebut sekitar 3 kali luas lapangan bola. Di depan gerbang masuknya terdapat tulisan Maqbarah Hawwa yang dalam bahasa Indonesia berarti 'Makam Hawa'.
Jamaah yang datang umumnya penasaran terhadap isi dari bangunan yang dikelilingi tembok besar itu. Terlebih lagi, beberapa cerita penduduk setempat mengatakan bahwa perempuan dilarang masuk ke makam dengan alasan bid'ah. Namun tidak dijelaskan bid'ah seperti apa.
Saat memasuki area makam, akan terlihat hamparan padang luas tanpa rerumputan hijau di atasnya. Tidak ada gundukan tanah atau batu nisan yang menunjukkan makam Siti Hawa.
Yang ada hanya tanah yang dibagi ke dalam blok-blok dengan ukuran 1x1 meter dan jalur-jalur panjang makam yang dihinggapi merpati-merpati jinak.
Di lorong masuk terpampang doa dan adab berziarah ke makam. Lalu terdapat pula tempat pemandian jenazah, mushola dan toilet. Bahkan para penjaga sendiri pun tak mengetahui secara jelas di mana letak makam Siti Hawa. Setiap pengunjung yang datang hanya akan diarahkan untuk langsung berdoa.
Hingga kini belum dapat dipastikan apakah makam Hawa benar terdapat di area ini. Namun beberapa catatan sejarah mengatakan, penamaan Kota Jeddah diambil dari kata Jaddah yang berarti 'nenek'.
Ini menunjukkan bahwa Siti Hawa merupakan 'nenek moyang' manusia yang diturunkan di Jeddah. Karena itulah mereka meyakini makam wanita pertama di bumi itu juga pasti berada di Jeddah.
Meski masih banyak diragukan, di Maqbarah Hawwa ada salah satu makam yang memiliki ukuran sangat panjang, yakni 5 meter. Para peziarah mempercayai ini sebagai makam Siti Hawa.
dream.co.id
Saat melakukan ibadah haji atau umrah, para jamaah akan berkunjung atau berziarah ke tempat-tempat yang disucikan atau dianggap menyimpan nilai sejarah.
Di antara sekian banyak tempat bersejarah di Arab Saudi yang kerap disambangi jamaah haji dan umrah, salah satunya adalah makam Siti Hawa di Kota Jeddah.
Memang belum ada kepastian tentang tempat peristirahatan terakhir istri Nabi Adam AS tersebut. Namun, sebagian besar penduduk sekitar dan nyaris setiap jamaah yang berziarah mempercayai bahwa makam Siti Hawa benar ada di Jeddah.
Makam Siti Hawa berada dekat dengan Masjid Qisas dan kawasan perbelanjaan Balad yang sering didatangi jamaah haji. Dari ujung selatan Jalan Madinah Al Munawarah, Anda tinggal berbelok ke kiri ke arah Jalan Al Matar.
Telusuri Jalan Al Matar sampai menemukan belokan pertama ke kanan, ke Jalan Makkah Al Mukaramah. Tidak jauh dari ujung jalan Makkah Al Mukaramah terdapat belokan ke Jalan Mawkib Al Iman. Di sanalah letak makam Siti Hawa.
Pemakaman ini sekarang menjadi pemakaman umum bagi masyarakat Jeddah. Tempat yang disebut makam Siti Hawa itu berbentuk bangunan biasa tanpa atap hanya dikelilingi dengan tembok setinggi 3 meter dan dilapisi dengan marmer.
Luas tempat tersebut sekitar 3 kali luas lapangan bola. Di depan gerbang masuknya terdapat tulisan Maqbarah Hawwa yang dalam bahasa Indonesia berarti 'Makam Hawa'.
Jamaah yang datang umumnya penasaran terhadap isi dari bangunan yang dikelilingi tembok besar itu. Terlebih lagi, beberapa cerita penduduk setempat mengatakan bahwa perempuan dilarang masuk ke makam dengan alasan bid'ah. Namun tidak dijelaskan bid'ah seperti apa.
Saat memasuki area makam, akan terlihat hamparan padang luas tanpa rerumputan hijau di atasnya. Tidak ada gundukan tanah atau batu nisan yang menunjukkan makam Siti Hawa.
Yang ada hanya tanah yang dibagi ke dalam blok-blok dengan ukuran 1x1 meter dan jalur-jalur panjang makam yang dihinggapi merpati-merpati jinak.
Di lorong masuk terpampang doa dan adab berziarah ke makam. Lalu terdapat pula tempat pemandian jenazah, mushola dan toilet. Bahkan para penjaga sendiri pun tak mengetahui secara jelas di mana letak makam Siti Hawa. Setiap pengunjung yang datang hanya akan diarahkan untuk langsung berdoa.
Hingga kini belum dapat dipastikan apakah makam Hawa benar terdapat di area ini. Namun beberapa catatan sejarah mengatakan, penamaan Kota Jeddah diambil dari kata Jaddah yang berarti 'nenek'.
Ini menunjukkan bahwa Siti Hawa merupakan 'nenek moyang' manusia yang diturunkan di Jeddah. Karena itulah mereka meyakini makam wanita pertama di bumi itu juga pasti berada di Jeddah.
Meski masih banyak diragukan, di Maqbarah Hawwa ada salah satu makam yang memiliki ukuran sangat panjang, yakni 5 meter. Para peziarah mempercayai ini sebagai makam Siti Hawa.
dream.co.id
Thursday, August 27, 2015
by Unknown
5:13:00 PM
Secara historis, Masjidil Aqsha (Al Aqsha) memiliki peran strategis dalam perkembangan peradaban dan kehidupan religi umat manusia. Sejak dulu masjid ini menjadi pusat tersebarnya syiar-syiar para nabi ‘alaihim ash-shalatu wa salam. Berada di kota Yerusalem, kota yang juga bernama Al Quds ini menjadi saksi dari begitu banyak Nabi Allah yang menyampaikan dakwahnya di tanah suci yang sarat dengan kemuliaan didalamnya.
Inilah Al Aqsha, yang dalam surat Al Isra, Allah SWT menyebut masjid agung ini dengan nama Masjid Al Aqsha. Allah SWT berfirman:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)
Nama masjid ini disebutkan juga dalam firman Allah sebagai Al-Ardhu al-Mubarakah (tanah yang penuh keberkahan), Rasulullah dalam sabdanya menyebutkan sebagai Baitul Maqdis (tempat suci).
Al Aqsha dibangun dengan dinding berwarna kuning gading dan kubah berwarna hitam-kelabu. Batu pondasi Al Aqsha diletakkan oleh Allah di Palestina sejak jaman Adam ‘Alaihis Salam. Sungguh sebuah rencana Allah dalam masa yang sangat panjang.
Masjid ini pernah menjadi kiblat pertama shalat bagi umat Islam se dunia. Posisinya sebagai kiblat digantikan Kabah di Masjidil Haram pada bulan ke-17 setelah Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah.
Tepatnya berada di Yerusalem, Palestina, negeri yang dulu pernah dihuni oleh dua suku bangsa Arab; Finiqiyyun dan Kan’aniyyun. Namun pada suatu masa masuklah orang-orang Yahudi ke Palestina, mereka lari dari kejaran Fir’aun.
Di jaman khilafah Umar bin Al-Khaththab RA, kekuasaan Islam meliputi wilayah Palestina. Hingga pada 1948, Palestina jatuh secara dhalim ke tangan orang-orang Yahudi dari berbagai negeri dengan gerakan zionisme.
Kisah yang paling mentakjubkan dari Al Aqsha adalah saat Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW pada 620 Masehi. Al Aqsa menjadi tempat terakhir perjalanan Isra' Muhammad yang bermula dari Masjidil Haram.
Dari tempat ini pula Rasulullah di-mi'raj oleh Allah SWT, memulai perjalanan menuju Sidrat Al Muntaha (langit lapis ke tujuh). Pada saat malam Isra’ dan Mi’raj itu pula, masjid yang juga disebut sebagai Baitul Maqdis ini diyakini menjadi tempat Rasulullah melakukan ibadah shalat berjamaah sebagai imam, bersama 25 rasul dan lebih dari 160.000 nabi.
Masjid kedua yang dibangun di muka bumi
Tidak satu bentuk tempat ibadah pun yang ada di muka bumi saat Masjid al-Haram dan Masjid Al Aqsha dibangun. Dua pendapat yang berbeda dari para ulama mengatakan, masjid ini dibangun oleh para malaikat atau oleh Adam ‘Alaihis Salam. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun oleh Adam AS.
Mengenai jarak waktu pembangunan Masjid al-Haram dengan Masjid al-Aqsha diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?" Beliau bersabda, "Masjidil Haram". Dia (Abu Dzar) berkata, "Aku katakan, “Lalu setelah itu?” Beliau bersabda, “Masjidil Aqsha“. Aku katakan, "Berapa jarak waktu antara (pembangunan) keduanya". Beliau bersabda, “Jarak antara kedua adalah 40 tahun. Kemudian dimanapun kau didapati waktu shalat setelah itu, maka shalatlah (disitu), karena keutamaan ada padanya (yakni, shalat di awal waktu)“. HR. Al-Bukhari (3366 dan 3425), Muslim (520) An-Nasa’i (690), dan Ibnu Majah (753)]
Selanjutnya: Keutamaan Shalat di Al Aqsha
Inilah Al Aqsha, yang dalam surat Al Isra, Allah SWT menyebut masjid agung ini dengan nama Masjid Al Aqsha. Allah SWT berfirman:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)
Nama masjid ini disebutkan juga dalam firman Allah sebagai Al-Ardhu al-Mubarakah (tanah yang penuh keberkahan), Rasulullah dalam sabdanya menyebutkan sebagai Baitul Maqdis (tempat suci).
Al Aqsha dibangun dengan dinding berwarna kuning gading dan kubah berwarna hitam-kelabu. Batu pondasi Al Aqsha diletakkan oleh Allah di Palestina sejak jaman Adam ‘Alaihis Salam. Sungguh sebuah rencana Allah dalam masa yang sangat panjang.
Masjid ini pernah menjadi kiblat pertama shalat bagi umat Islam se dunia. Posisinya sebagai kiblat digantikan Kabah di Masjidil Haram pada bulan ke-17 setelah Rasulullah hijrah dari Mekah ke Madinah.
Tepatnya berada di Yerusalem, Palestina, negeri yang dulu pernah dihuni oleh dua suku bangsa Arab; Finiqiyyun dan Kan’aniyyun. Namun pada suatu masa masuklah orang-orang Yahudi ke Palestina, mereka lari dari kejaran Fir’aun.
Di jaman khilafah Umar bin Al-Khaththab RA, kekuasaan Islam meliputi wilayah Palestina. Hingga pada 1948, Palestina jatuh secara dhalim ke tangan orang-orang Yahudi dari berbagai negeri dengan gerakan zionisme.
Kisah yang paling mentakjubkan dari Al Aqsha adalah saat Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW pada 620 Masehi. Al Aqsa menjadi tempat terakhir perjalanan Isra' Muhammad yang bermula dari Masjidil Haram.
Dari tempat ini pula Rasulullah di-mi'raj oleh Allah SWT, memulai perjalanan menuju Sidrat Al Muntaha (langit lapis ke tujuh). Pada saat malam Isra’ dan Mi’raj itu pula, masjid yang juga disebut sebagai Baitul Maqdis ini diyakini menjadi tempat Rasulullah melakukan ibadah shalat berjamaah sebagai imam, bersama 25 rasul dan lebih dari 160.000 nabi.
Masjid kedua yang dibangun di muka bumi
Tidak satu bentuk tempat ibadah pun yang ada di muka bumi saat Masjid al-Haram dan Masjid Al Aqsha dibangun. Dua pendapat yang berbeda dari para ulama mengatakan, masjid ini dibangun oleh para malaikat atau oleh Adam ‘Alaihis Salam. Namun pendapat yang paling kuat adalah bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun oleh Adam AS.
Mengenai jarak waktu pembangunan Masjid al-Haram dengan Masjid al-Aqsha diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku berkata, "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di bumi?" Beliau bersabda, "Masjidil Haram". Dia (Abu Dzar) berkata, "Aku katakan, “Lalu setelah itu?” Beliau bersabda, “Masjidil Aqsha“. Aku katakan, "Berapa jarak waktu antara (pembangunan) keduanya". Beliau bersabda, “Jarak antara kedua adalah 40 tahun. Kemudian dimanapun kau didapati waktu shalat setelah itu, maka shalatlah (disitu), karena keutamaan ada padanya (yakni, shalat di awal waktu)“. HR. Al-Bukhari (3366 dan 3425), Muslim (520) An-Nasa’i (690), dan Ibnu Majah (753)]
Selanjutnya: Keutamaan Shalat di Al Aqsha
Friday, July 24, 2015
by Unknown
2:24:00 PM
Jabal Uhud, adalah gunung yang sangat mencintai dan dicintai Nabi Muhammad, sebagaimana Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya.” (Dari Anas bin Malik R.A – Riwayat Bukhari dan Muslim), karena Di lembah Jabal Uhud ini pernah terjadi perang uhud yang dahsyat antara 700 orang kaum muslimin melawan 3000 tentara Quraisy kaum musyrikin kafir dari Mekkah pada tanggal 15 Syawal tahun 3 Hijrah (bulan Maret tahun 625 Masehi).
Perang Uhud merupakan perang balas dendam tentara Quraisy setelah kalah dalam Perang Badar. Mereka membakar ladang gandum milik umat Muslim di Jabal Uhud yang memancing kemarahan penduduk Madinah.
Dengan jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari musuh, Nabi mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di atas Jabal Uhud, sementara regu pemanah jitu disiagakan di Gunung Rumat. Kepada 50 pemanah jitu yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Jabir, Nabi Muhammad berkata, “lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah di tempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu.”
Perang berakhir dengan gugurnya 70 orang tentara muslim dan 22 orang kafir Quraisy. Salah satu yang gugur dari pasukan muslim adalah paman Nabi, yaitu Hamzah Sayyid Al Syuhada atau pemimpinnya para syuhada .
Nabi kemudian memerintahkan agar para syuhada dimakamkan di lapangan tempat terjadinya perang Uhud di tempat mereka gugur,. Jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, yang digelari Asadullah wa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush’ab bin Umair berserta para syuhada disalatkan sebanyak 70 kali sebelum dimakamkan. Ia dikubur menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya
Robeh bin Maid Alhasbi, salah seorang penjaga Makam Para Syuhada, mengisahkan pada tahun 46 Hijriah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud, terjadi banjir besar di sekitar Jabal Uhud. Setelah banjir itu ditemukan dua jasad yang dipercayai kuat sebagai jasad Hamzah dan Abdullah. “Dari ahli sejarah menyebutkan kedua mayat tersebut masih utuh dan segar. Bahkan ada darah segar yang menetes dari luka di tubuh Hamzah,” kata Robeh.
Jabal Uhud jaraknya sekitar 4 kilometer dari Masjid Nabawi, setiap tahun diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan para khalifah setelah Nabi wafat. Dan kini Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jamaah umroh dan haji di Madinah.
Di kompleks Jabal Uhud ini, jamaah umroh dan haji antara lain ziarah ke makam para syuhada yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah. Selain makam syuhada Uhud, tempat bersejarah di Jabal Uhud ini adalah masjid al-Fash. Di masjid ini, Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.
Jabal Uhud merupakan gunung terbesar di Madinah, memiliki keliling sekitar 19.000 meter dan tinggi 1.000 meter dari permukaan air laut atau 300 meter dari permukaan tanah disana. jaraknya 1 kilometer di depan bukit Rumat atau juga disebut Jabal Ainain yang biasanya didaki jamaah umroh dan haji. Diatas jabal ainain ini, dulu pada saat perang Uhud, Rasulullah menempatkan pasukan pemanah.
Meski dilimpahi mukjizat, umat Islam dilarang meminta doa kepada para syuhada Uhud termasuk Sayidina Hamzah. Di Jabal Uhud dipasang papan penggumuman dalam berbagai bahasa yang salah satunya mengingatkan peziarah agar berdoa langsung kepada Allah SWT dan tidak minta safaat kepada para syuhada. Menziarahi Jabal Uhud ataupun ziarah kubur diperbolehkan untuk memperingatkan umat Islam akan kematian.
(Dari Berbagai Sumber)
Perang Uhud merupakan perang balas dendam tentara Quraisy setelah kalah dalam Perang Badar. Mereka membakar ladang gandum milik umat Muslim di Jabal Uhud yang memancing kemarahan penduduk Madinah.
Dengan jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari musuh, Nabi mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di atas Jabal Uhud, sementara regu pemanah jitu disiagakan di Gunung Rumat. Kepada 50 pemanah jitu yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Jabir, Nabi Muhammad berkata, “lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah di tempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu.”
Perang berakhir dengan gugurnya 70 orang tentara muslim dan 22 orang kafir Quraisy. Salah satu yang gugur dari pasukan muslim adalah paman Nabi, yaitu Hamzah Sayyid Al Syuhada atau pemimpinnya para syuhada .
Nabi kemudian memerintahkan agar para syuhada dimakamkan di lapangan tempat terjadinya perang Uhud di tempat mereka gugur,. Jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib, yang digelari Asadullah wa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush’ab bin Umair berserta para syuhada disalatkan sebanyak 70 kali sebelum dimakamkan. Ia dikubur menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya
Robeh bin Maid Alhasbi, salah seorang penjaga Makam Para Syuhada, mengisahkan pada tahun 46 Hijriah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud, terjadi banjir besar di sekitar Jabal Uhud. Setelah banjir itu ditemukan dua jasad yang dipercayai kuat sebagai jasad Hamzah dan Abdullah. “Dari ahli sejarah menyebutkan kedua mayat tersebut masih utuh dan segar. Bahkan ada darah segar yang menetes dari luka di tubuh Hamzah,” kata Robeh.
Jabal Uhud jaraknya sekitar 4 kilometer dari Masjid Nabawi, setiap tahun diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan para khalifah setelah Nabi wafat. Dan kini Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jamaah umroh dan haji di Madinah.
Di kompleks Jabal Uhud ini, jamaah umroh dan haji antara lain ziarah ke makam para syuhada yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah. Selain makam syuhada Uhud, tempat bersejarah di Jabal Uhud ini adalah masjid al-Fash. Di masjid ini, Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.
Jabal Uhud merupakan gunung terbesar di Madinah, memiliki keliling sekitar 19.000 meter dan tinggi 1.000 meter dari permukaan air laut atau 300 meter dari permukaan tanah disana. jaraknya 1 kilometer di depan bukit Rumat atau juga disebut Jabal Ainain yang biasanya didaki jamaah umroh dan haji. Diatas jabal ainain ini, dulu pada saat perang Uhud, Rasulullah menempatkan pasukan pemanah.
Meski dilimpahi mukjizat, umat Islam dilarang meminta doa kepada para syuhada Uhud termasuk Sayidina Hamzah. Di Jabal Uhud dipasang papan penggumuman dalam berbagai bahasa yang salah satunya mengingatkan peziarah agar berdoa langsung kepada Allah SWT dan tidak minta safaat kepada para syuhada. Menziarahi Jabal Uhud ataupun ziarah kubur diperbolehkan untuk memperingatkan umat Islam akan kematian.
(Dari Berbagai Sumber)
by Unknown
1:58:00 PM
Jika Anda berkunjung ke kota Madinah, jangan lupa singgah ke percetakan al Qur'an terbesar di dunia, Majma` Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif (King Fahd Complex for Printing the Holy Qur`an).
Pusat percetakan Al-Qur'an, Majma` Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif di Madinah atau lebih dikenal sebagai Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd dapat menjadi referensi kunjungan Anda di sela-sela menunaikan ibadah haji atau umrah, untuk berwisata sekaligus menambah keilmuan dan wawasan Anda tentang sejarah perkembangan Mushaf Al-Qur''an.
Kompleks Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd sudah berdiri sejak tahun 1405 H atau 1984 M di atas tanah seluas 250.000 meter persegi (25 ha). Percetakan ini tidak hanya mencetak al-Qur'an, tetapi juga telah mencetak beragam jurnal, terutama jurnal-jurnal yang terkait dengan penelitian dan kajian mengenai kandungan Al-Qur'an.
Berlokasi di jalan menuju Kota Tabuk, sekitar 10 kilometer dari Madinah al Munawwarah bersebelahan dengan pusat pelatihan tempur tentara Kerajaan Arab Saudi yang mencetak Al-Qur’an dan terjemahannya ke berbagai bahasa dunia.
Percetakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah Arab Saudi untuk membantu agama islam dan kaum muslim di seluruh dunia.
Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd memproduksi rata-rata 30 juta eksemplar Al-Qur’an setiap tahunnya. Mendistribusikannya ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Selain itu juga mencetak lebih dari 160 terjemahan berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia sejumlah 193 juta eksemplar dengan menggunakan teknik percetakan yang paling modern dengan kecepatan cetak 10 ribu lembar per jam. dan memiliki mesin cetak film berkecepatan cetak 60 ribu lembar per jam, 60 mesin penjilidan lengkap dengan teknologi elektronik yang bisa mendeteksi kesalahan cetak.
Proses produksi di Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd dilakukan dengan sangat teliti. Pertama, dikerjakan oleh lembaga khusus yang memiliki keahlian dalam tajwid, qiraat, dan rasm dalam satu lembaga yang beranggotakan para ulama. Kedua, diedit bagian demi bagian. Ketiga, diteliti dengan jeli. Bahkan, cetakan dalam lembar besar ini dibawa ke sejumlah ulama besar untuk diteliti tiap hurufnya dengan kaca pembesar. Di bagian pengeditan, ada 600 tenaga pengedit. Keempat, setelah dinyatakan tidak ada kesalahan sedikitpun, baru kemudian masuk proses pencetakan. Kelima, hasil cetakan diteliti lagi sebelum masuk proses penjilidan.
Sejarah Membukukan Alqur'an
Menurut sejarahnya al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf diawali pada masa Khalifah Ustman bin Affan yang membentuk tim untuk menyalin kembali Al-Qur’an berdasarkan kitab aslinya. Hasil salinannya biasa disebut juga dengan Mushaf Usman. Hingga saat ini, Al-Qur’an dicetak berdasarkan standar Ustmani.
Manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman yang ditulis pada zaman khalifah Ustman, telah ditemukan dan saat ini masih ada dan tersimpan rapi di Universitas Birmingham Inggris. Berdasar hasil uji coba radiokarbon, menurut Alba Fedeli peneliti naskah Al Qur’an di Universitas Birminham, manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman tersebut sudah berumur sekitar 1370 tahun, tulisan kaligrafi dalam manuskrip Al Qur’an tersebut berasal dari pertengahan abad ke tujuh, dan merupakan bagian dari Mingana Collection yang berasal dari Timur Tengah.
Mingana Collection terdiri dari sekitar 3.000 manuskrip yang dikumpulkan sejak tahun 1920-an oleh Alphone Mingana seorang pendeta kristen Kaldea yang lahir dan besar di kota Mosul Iraq. Pengumpulan koleksi manuskrip tersebut didanai oleh Edward Cadbury. Menurut pakar ilmu tentang Islam dan Kristen David Thomas, penggalan manuskrip Al Qur’an tersebut ditulis oleh penulis naskah dengan huruf Hijaiyah yang hidup pada zaman Nabi Muhammad.
Menurut sejarah Islam, Rasulullah SAW menerima wahyu sejak usia 40 tahun yaitu sejak tahun 610 Masehi sampai dengan tahun 632 Masehi. Beberapa sahabat Rasulullah yang mendengar langsung firman Allah SWT dari Rasulullah, biasanya mengutip dan menulisnya diatas lembaran kulit domba, dan dikumpulkan dalam satu mushaf pada jaman Khalifah Ustman.
Menurut Muhammad Isa Waley pakar manuskrip di Inggris, penemuan manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman ini merupakan temuan yang luar biasa dan kabar gembira bagi umat muslim. Dokumen kuno itu telah ada sejak jaman kepemimpinan tiga Khalifah pertama, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan. Sangat mungkin naskah Manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman yang tulisannya masih terlihat jelas tersebut merupakan bagian dari kitab suci Al Qur’an yang disebarkan secara luas oleh Khalifah ketiga Ustman bin Affan.
Di lantai 2 gedung Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd, terdapat ruang pengawasan kualitas hasil cetak Alquran, lemari-lemari raksasa untuk menyimpan koleksi Alquran dari berbagai bahasa yang pernah diterbitkan Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd dan ruang kontrol Al-Quran dengan 450 pengawas. Sedang di lantai satu merupakan lokasi percetakan dengan 1.700 petugas.
Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 WAS hingga pukul 12.00 WAS kecuali pada hari libur Saudi Arabia, yaitu Jumat dan Sabtu. Jamaah umrah dan haji laki-laki bisa langsung masuk ke areal percetakan, sedangkan, jamaah perempuan hanya boleh masuk ke bagian depan percetakan. Ketika keluar dari ruang Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd, jamaah umrah dan haji akan diberi hadiah satu eksemplar kitab suci Al Quran oleh petugas disana.
Gedung itu antara lain terdiri atas pabrik percetakan, asrama pengurus, perbengkelan mesin, poliklinik, kafetaria, gudang penyimpanan hasil produksi, gudang pemusnahan mushaf Alquran yang cacat produksi, gedung pusat pelatihan pegawai, pusat pengembangan dan pembelajaran Alquran, asrama pegawai, penginapan tamu, ruang pejabat tinggi negara, tempat pembuatan CD, VCD, dan DVD Alquran, ruang produksi video sejarah Alquran untuk para tamu, dan sebagainya.
(Dari berbagai sumber)
Pusat percetakan Al-Qur'an, Majma` Malik Fahd Li Thibaah Mushaf Syarif di Madinah atau lebih dikenal sebagai Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd dapat menjadi referensi kunjungan Anda di sela-sela menunaikan ibadah haji atau umrah, untuk berwisata sekaligus menambah keilmuan dan wawasan Anda tentang sejarah perkembangan Mushaf Al-Qur''an.
Kompleks Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd sudah berdiri sejak tahun 1405 H atau 1984 M di atas tanah seluas 250.000 meter persegi (25 ha). Percetakan ini tidak hanya mencetak al-Qur'an, tetapi juga telah mencetak beragam jurnal, terutama jurnal-jurnal yang terkait dengan penelitian dan kajian mengenai kandungan Al-Qur'an.
Berlokasi di jalan menuju Kota Tabuk, sekitar 10 kilometer dari Madinah al Munawwarah bersebelahan dengan pusat pelatihan tempur tentara Kerajaan Arab Saudi yang mencetak Al-Qur’an dan terjemahannya ke berbagai bahasa dunia.
Percetakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah Arab Saudi untuk membantu agama islam dan kaum muslim di seluruh dunia.
Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd memproduksi rata-rata 30 juta eksemplar Al-Qur’an setiap tahunnya. Mendistribusikannya ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Selain itu juga mencetak lebih dari 160 terjemahan berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia sejumlah 193 juta eksemplar dengan menggunakan teknik percetakan yang paling modern dengan kecepatan cetak 10 ribu lembar per jam. dan memiliki mesin cetak film berkecepatan cetak 60 ribu lembar per jam, 60 mesin penjilidan lengkap dengan teknologi elektronik yang bisa mendeteksi kesalahan cetak.
Proses produksi di Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd dilakukan dengan sangat teliti. Pertama, dikerjakan oleh lembaga khusus yang memiliki keahlian dalam tajwid, qiraat, dan rasm dalam satu lembaga yang beranggotakan para ulama. Kedua, diedit bagian demi bagian. Ketiga, diteliti dengan jeli. Bahkan, cetakan dalam lembar besar ini dibawa ke sejumlah ulama besar untuk diteliti tiap hurufnya dengan kaca pembesar. Di bagian pengeditan, ada 600 tenaga pengedit. Keempat, setelah dinyatakan tidak ada kesalahan sedikitpun, baru kemudian masuk proses pencetakan. Kelima, hasil cetakan diteliti lagi sebelum masuk proses penjilidan.
Sejarah Membukukan Alqur'an
Menurut sejarahnya al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf diawali pada masa Khalifah Ustman bin Affan yang membentuk tim untuk menyalin kembali Al-Qur’an berdasarkan kitab aslinya. Hasil salinannya biasa disebut juga dengan Mushaf Usman. Hingga saat ini, Al-Qur’an dicetak berdasarkan standar Ustmani.
Manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman yang ditulis pada zaman khalifah Ustman, telah ditemukan dan saat ini masih ada dan tersimpan rapi di Universitas Birmingham Inggris. Berdasar hasil uji coba radiokarbon, menurut Alba Fedeli peneliti naskah Al Qur’an di Universitas Birminham, manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman tersebut sudah berumur sekitar 1370 tahun, tulisan kaligrafi dalam manuskrip Al Qur’an tersebut berasal dari pertengahan abad ke tujuh, dan merupakan bagian dari Mingana Collection yang berasal dari Timur Tengah.
Mingana Collection terdiri dari sekitar 3.000 manuskrip yang dikumpulkan sejak tahun 1920-an oleh Alphone Mingana seorang pendeta kristen Kaldea yang lahir dan besar di kota Mosul Iraq. Pengumpulan koleksi manuskrip tersebut didanai oleh Edward Cadbury. Menurut pakar ilmu tentang Islam dan Kristen David Thomas, penggalan manuskrip Al Qur’an tersebut ditulis oleh penulis naskah dengan huruf Hijaiyah yang hidup pada zaman Nabi Muhammad.
Menurut sejarah Islam, Rasulullah SAW menerima wahyu sejak usia 40 tahun yaitu sejak tahun 610 Masehi sampai dengan tahun 632 Masehi. Beberapa sahabat Rasulullah yang mendengar langsung firman Allah SWT dari Rasulullah, biasanya mengutip dan menulisnya diatas lembaran kulit domba, dan dikumpulkan dalam satu mushaf pada jaman Khalifah Ustman.
Menurut Muhammad Isa Waley pakar manuskrip di Inggris, penemuan manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman ini merupakan temuan yang luar biasa dan kabar gembira bagi umat muslim. Dokumen kuno itu telah ada sejak jaman kepemimpinan tiga Khalifah pertama, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan. Sangat mungkin naskah Manuskrip Al Qur’an Mushaf Usman yang tulisannya masih terlihat jelas tersebut merupakan bagian dari kitab suci Al Qur’an yang disebarkan secara luas oleh Khalifah ketiga Ustman bin Affan.
Di lantai 2 gedung Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd, terdapat ruang pengawasan kualitas hasil cetak Alquran, lemari-lemari raksasa untuk menyimpan koleksi Alquran dari berbagai bahasa yang pernah diterbitkan Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd dan ruang kontrol Al-Quran dengan 450 pengawas. Sedang di lantai satu merupakan lokasi percetakan dengan 1.700 petugas.
Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd ini dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 WAS hingga pukul 12.00 WAS kecuali pada hari libur Saudi Arabia, yaitu Jumat dan Sabtu. Jamaah umrah dan haji laki-laki bisa langsung masuk ke areal percetakan, sedangkan, jamaah perempuan hanya boleh masuk ke bagian depan percetakan. Ketika keluar dari ruang Pusat Percetakan Mushaf Al Quran Raja Fahd, jamaah umrah dan haji akan diberi hadiah satu eksemplar kitab suci Al Quran oleh petugas disana.
Gedung itu antara lain terdiri atas pabrik percetakan, asrama pengurus, perbengkelan mesin, poliklinik, kafetaria, gudang penyimpanan hasil produksi, gudang pemusnahan mushaf Alquran yang cacat produksi, gedung pusat pelatihan pegawai, pusat pengembangan dan pembelajaran Alquran, asrama pegawai, penginapan tamu, ruang pejabat tinggi negara, tempat pembuatan CD, VCD, dan DVD Alquran, ruang produksi video sejarah Alquran untuk para tamu, dan sebagainya.
(Dari berbagai sumber)
Tuesday, July 21, 2015
by Unknown
4:32:00 PM
Salah satu keistimewaan Masjid Nabawi di Madinah adalah adanya Taman Surga Raudhah, yang terletak diantara rumah Rasulullah SAW dengan mimbar di dalam Masjid Nabawi. Seperti sabda Rasulullah, yang mengatakan;
ما بين قبري ومنبري روضة من رياض الجنة (المعجم الأوسط للطبراني،
“Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196).
Taman Surga Raudhah merupakan salah satu ruangan di dalam Masjid Nabawi yang luasnya kurang lebih 144 meter persegi, ditandai dengan tiang pilar berwarna putih dengan kaligrafi yang khas, karpet/ambal berwarna putih hijau dengan ornamen khas, sedangkan karpet ruangan lain di dalam Masjid Nabawi berwarna merah.
Taman Surga Raudhah adalah nama yang diberikan oleh Rasulullah sendiri, tempat multazam untuk berdzikir dan berdo’a. Jamaah umroh dan haji yang akan memasukinya hendaklah bermunajad kepada Allah SWT agar dimudahkan jalannya dan memasukinya.
Jangan memaksakan diri dan menyakiti sesama pada saat memasuki Taman Surga Raudhah dengan saling mendorong dan berdesak-desakan. Tunggulah giliran dengan izin Allah. Insya’Allah, do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT akan terkabulkan.
Di dalam Taman Surga Raudhah terdapat tiang-tiang khusus yang memiliki nama-nama tersendiri, yaitu :
Usthuwaanah Aisyah disebut juga sebagai “Utswaanah Qur-ah” posisinya berada ditengah Taman Surga Raudhah, tiang ketiga dari dinding makam Rasulullah dan mimbar nabi. Pada zaman Rasulullah saw disini adalah tempat berkumpulnya para sahabat sholat dan muzakarrah. Di tiang ini juga ada tulisan “Usthuwaanah Aisyah” sebagai pengingat dan penghormatan kepada perjuangan “Ummul Mukminin” dalam penyebaran Islam.
Usthuwaanah At-Taubah, posisinya terletak diantara Usthuwaanah Aisyah dan Usthuwaanah As-sarir
Usthuwaanah As-Sarir, menempel langsung dengan dinding makam nabi Muhammad saw.
Usthuwaanah Al-Haras, berada pada bagian sebelah utara Usthuwaanah As-Sarir dan menempel dengan dinding makam nabi Muhammad saw. Di tempat ini dulu para sahabat menjaga dan mengawal nabi demi keselamatan beliau.
Usthuwaanah Al-Wufud, merupakan tiang yang dibangun untuk mengingatkan kita kepada Rasulullah saw saat beliau menerima tamu istimewa. Tiang itu terletak paling utara Usthuwaanah Al-Haras dan Usthuwaanah As-Sarir, posisinya juga menempel pada dinding makam Rasulullah SAW
Usthuwaanah Muhajirin adalah merupakan tiang yang mengingatkan akan kaum Muhajirin.
Sumber: umrohdanhaji.info
by Unknown
4:32:00 PM
Jannatul Baqi (Makam Baqi) berada di Madinah merupakan komplek area pemakaman dengan pagar tembok panjang berjeruji di wilayah Kota Madinah. Makam ini terletak disisi sebelah timur Masjid Nabawi, hampir tidak ada batas antara Masjid Nabawi dan Baqi kecuali lantai marmer dan pagar jeruji berwarna kehijauan.
Makam Baqi di Madinah adalah tempat pemakaman penduduk Madinah sejak sebelum zaman Rasulullah SAW hingga kini. Lebih dari 10.000 sahabat, Ahli Bait, keturunan, paman, dan istri Rasulullah (selain Khadijah dan Maimunah) serta para tabi’in dimakamkan di sana.
Para sahabat utama yang dimakamkan Jannatul Baqi di Madinah antara lain Utsman bin Affan (khalifah yang ketiga), Abbas bin Abdul Muthalib (paman kandung Nabi Muhammad SAW), dan sebagian dari syuhada, Siti Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khathab, Shafiyah, dan Mariyah Al-Qibthiyah. Sedangkan Siti Khodijah berada di Pemakaman Ma`la (Mekkah) dan Siti Maimunah berada pinggir jalan di kawasan Zam`un menuju Madinah dari arah Mekkah.
Sekarang ini siapapun yang meninggal di Madinah dimakamkan di Makam Baqi di Madinah termasuk jamaah umrah dan haji. Keistimewaan Makam Baqi di Madinah adalah bahwa Rasululah SAW pernah berdoa bahwa siapa pun yang dimakamkan di Makam Baqi di Madinah akan diampuni dosanya oleh Allah Ta'ala.
Di Makam Baqi di Madinah tidak ada tanda atau petunjuk letak makam masing masing yang dimakamkan disana, Makam Baqi di Madinah berupa tanah lapang di samping timur masjid nabawi dengan nisan tanpa nama. Jamaah umroh dan haji yang berziarah ke Makam Baqi di Madinah, tidak dapat membedakan yang mana makam sahabat nabi maupun makam keluarga, karena semua makam disana relatip kelihatan sama.
Dahulu, Makam Baqi di Madinah dan Masjid Nabawi merupakan wilayah yang berbeda. Dipisahkan oleh distrik yang bernama Harratul Aghwat. Di situlah dulu, pelayan dan penjaga Masjid Nabawi tinggal. Namun seiring perluasan Masjid Nabawi, distrik itu direnovasi hingga akhirnya menjadi ruang terbuka.
Pada masa Raja Faishal bin Abdul Aziz dilakukan perluasan Makam Baqi di Madinah. Kompleks ini kemudian dipagari dengan tembok. Di dalamnya juga diberi jalan dari semen beton untuk memfasilitasi jamaah umroh dan haji yang ingin melakukan pemakaman terhindar dari becek ketika hujan. Pada masa Raja Fahd kembali dilakukan perluasan Jannatul Baqi di Madinah sehingga luasnya menjadi 174.962 meter persegi.
Sumber: umrohdanhaji.info
Makam Baqi di Madinah adalah tempat pemakaman penduduk Madinah sejak sebelum zaman Rasulullah SAW hingga kini. Lebih dari 10.000 sahabat, Ahli Bait, keturunan, paman, dan istri Rasulullah (selain Khadijah dan Maimunah) serta para tabi’in dimakamkan di sana.
Para sahabat utama yang dimakamkan Jannatul Baqi di Madinah antara lain Utsman bin Affan (khalifah yang ketiga), Abbas bin Abdul Muthalib (paman kandung Nabi Muhammad SAW), dan sebagian dari syuhada, Siti Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah, Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khathab, Shafiyah, dan Mariyah Al-Qibthiyah. Sedangkan Siti Khodijah berada di Pemakaman Ma`la (Mekkah) dan Siti Maimunah berada pinggir jalan di kawasan Zam`un menuju Madinah dari arah Mekkah.
Sekarang ini siapapun yang meninggal di Madinah dimakamkan di Makam Baqi di Madinah termasuk jamaah umrah dan haji. Keistimewaan Makam Baqi di Madinah adalah bahwa Rasululah SAW pernah berdoa bahwa siapa pun yang dimakamkan di Makam Baqi di Madinah akan diampuni dosanya oleh Allah Ta'ala.
Di Makam Baqi di Madinah tidak ada tanda atau petunjuk letak makam masing masing yang dimakamkan disana, Makam Baqi di Madinah berupa tanah lapang di samping timur masjid nabawi dengan nisan tanpa nama. Jamaah umroh dan haji yang berziarah ke Makam Baqi di Madinah, tidak dapat membedakan yang mana makam sahabat nabi maupun makam keluarga, karena semua makam disana relatip kelihatan sama.
Dahulu, Makam Baqi di Madinah dan Masjid Nabawi merupakan wilayah yang berbeda. Dipisahkan oleh distrik yang bernama Harratul Aghwat. Di situlah dulu, pelayan dan penjaga Masjid Nabawi tinggal. Namun seiring perluasan Masjid Nabawi, distrik itu direnovasi hingga akhirnya menjadi ruang terbuka.
Pada masa Raja Faishal bin Abdul Aziz dilakukan perluasan Makam Baqi di Madinah. Kompleks ini kemudian dipagari dengan tembok. Di dalamnya juga diberi jalan dari semen beton untuk memfasilitasi jamaah umroh dan haji yang ingin melakukan pemakaman terhindar dari becek ketika hujan. Pada masa Raja Fahd kembali dilakukan perluasan Jannatul Baqi di Madinah sehingga luasnya menjadi 174.962 meter persegi.
Sumber: umrohdanhaji.info
Subscribe to:
Posts (Atom)

















